- Ketua DPRD se-Sulteng Dorong Penguatan Sinergi Pembangunan Daerah
- 459 Ton Durian Sulteng Diekspor ke Tiongkok, Digadang Jadi Ikon Baru Nasional
- Pemerintah Buka 35 Ribu Loker KDKMP dan KNMP, Pelamar yang Lolos Jadi Pegawai BUMN
- Ketika Pemerintah Daerah Menyewa Influencer, Sebuah Jalan Pintas?
- Ketua DPRD Kota Palu Ikuti Retret Ketua DPRD se-Indonesia di Akmil Magelang
- Gubernur Anwar Hafid Ungkap Rencana Alun-alun Ikonik di Palu, Konsepnya Mirip Halaman Istana Negara
- Nambaso Fest 2026 Resmi Dibuka, Digelar Meriah Tanpa Membebani Anggaran Daerah
- HUT ke-62 Sulteng, Gubernur Tekankan Pemerataan Kesejahteraan di Seluruh Daerah
- Turun Langsung ke Desa Dalaka, Gubernur Sulteng Tancap Gas Perbaiki Jalan dan Layanan Warga
- Liga 4 Piala Gubernur Sulteng Resmi Bergulir, Talenta Muda Didorong Berprestasi Lewat Sepak Bola
BMKG Pastikan Gempa Poso Bermagnitudo 5,8, Susulan Capai 25 Kali
.jpg)
Keterangan Gambar : Koordinator Data dan Informasi BMKG Stasiun Geofisika Palu, Nurhayati Pimpilemba. (Foto: Syahrul/Likeindonesi.com)
Likeindonesia.com, Palu – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Minggu (17/8/2025) pagi, memiliki magnitudo 5,8.
Koreksi ini disampaikan setelah sebelumnya sempat tercatat M6,0.
Baca Lainnya :
- 29 Warga Luka-Luka Akibat Gempa M5,8 di Poso
- Gempa Magnitudo 5,8 di Poso Dipicu Sesar Tokokaru, BMKG Catat 10 Gempa Susulan
- Hacked By Mr.SonicX
- KillerSecTeam
- HACKED BY OBINXYZ
Koordinator Data dan Informasi BMKG Stasiun Geofisika Palu, Nurhayati Pimpilemba, mengatakan gempa dipicu aktivitas Sesar Tokararu.
“Sampai saat ini gempa susulan sudah 25 kali sampai jam 11.00 WITA, dengan magnitudo terbesar 3,3,” ujarnya.
Nurhayati menjelaskan, Sulawesi Tengah memiliki 37 sumber gempa, salah satunya Sesar Tokararu.
Sistem sesar ini berbeda dengan gempa yang terjadi pada 24 Juli lalu.
“Antar sesar bisa saling mempengaruhi akibat transfer tegangan. Tetapi itu bergantung pada beberapa faktor, seperti kedekatan sesar, orientasi, hingga jenis batuan. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikannya,” katanya.
BMKG juga langsung melakukan survei makro dan mikro di lapangan, untuk mengukur dampak gempa.
Survei makro dilakukan secara visual di lapangan, sedangkan survei mikro mengukur getaran tanah menggunakan instrumen.
Menurut analisis mekanisme sumber, gempa Poso termasuk jenis sesar naik.
“Ada dua blok batuan yang akibat tekanan horizontal, salah satunya terdorong naik terhadap yang lain,” jelas Nurhayati.
Hingga kini, laporan BNPB menyebutkan 29 warga luka-luka akibat gempa tersebut, dua di antaranya kritis.
Satu gereja di Desa Masani juga mengalami kerusakan. (Rul)










