- Ingin Lepas Status WNI? Kini Dikenai Biaya Rp5 Juta Berdasarkan PP Terbaru
- Aktivitas Gempa di Sulteng Terus Menurun, Kini Kurang dari 200 Kali dalam Sepekan
- Siap-Siap! 33 Juta Keluarga Bakal Dapat Beras Gratis 30 Kg Mulai Agustus
- Makin Irit! Pertamina Turunkan Harga Tabung Bright Gas 12 Kg dan 5,5 Kg
- Program Berani Panen Raya Dikebut, Produktivitas Padi Sulteng Ditargetkan 6 Ton per Hektare
- Pemerintah Tetapkan Harga Khusus Solar bagi Nelayan, Kini Rp15 Ribu per Liter
- DPR RI Tinjau Sekolah Rakyat di Palu, 183 Anak Kurang Mampu Kini Dapat Akses Pendidikan
- Melaut Saat Cuaca Buruk, Nelayan di Banggai Laut Hilang Kontak
- Kurs Rupiah Melemah, Biaya Haji 2027 Diusulkan Naik Jadi Rp107,3 Juta
- Mendagri Tegaskan Pemda Tak Boleh Rumahkan PPPK karena Alasan Anggaran
Dinkes Sulteng Pastikan Isu Super Flu Tak Perlu Dikhawatirkan

Keterangan Gambar : Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dr. Jumriani, saat ditemui di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, Kamis (8/1/2026). (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) memastikan informasi mengenai merebaknya wabah super flu secara nasional tidak perlu disikapi dengan kekhawatiran berlebihan oleh masyarakat di daerah tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sulteng, dr. Jumriani, menjelaskan bahwa istilah super flu sejatinya bukan istilah medis, melainkan sebutan yang berkembang di masyarakat.
Baca Lainnya :
- BMKG: Pertemuan Massa Udara Jadi Pemicu Hujan Lebat di Donggala, Sigi, dan Palu
- Sah! Gunardi Aluy Kama Resmi Terpilih Jadi Ketua DPD II Golkar Tolitoli
- BMKG Pastikan Gelombang Tinggi Tak Meluas ke Perairan Sulteng
- Curamor Masih Jadi Ancaman, Palu Sumbang Kasus Terbanyak di Sulteng
- KONI Sulteng Susun Strategi Prestasi Cabor Olimpik Menuju PON 2028
“Super flu itu sebenarnya hanya istilah dari masyarakat awam karena penularannya agak lebih cepat. Padahal, sebenarnya sama dengan flu biasa, dengan strain H3N2,” kata dr. Jumriani saat ditemui di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, Kamis (8/1/2026).
Ia menyebutkan, istilah tersebut muncul seiring adanya peningkatan kasus influenza A(H3N2) subclade K yang terjadi secara bersamaan di sejumlah negara.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI mencatat sebanyak 62 kasus hingga akhir Desember 2025.
“Kami juga menerima surat dari Kementerian Kesehatan yang menyebutkan ada 11 provinsi yang sudah terdiagnosis berdasarkan hasil pemeriksaan. Kasus tertinggi ada di Jawa Timur, disusul Kalimantan Selatan dan Jawa Barat,” ujarnya.
Selain provinsi tersebut, kasus influenza A(H3N2) juga dilaporkan terjadi di Bali, Sumatera, dan wilayah Sulawesi, dengan Sulawesi Utara sebagai daerah yang terkonfirmasi memiliki strain tersebut.
Namun demikian, dr. Jumriani menegaskan bahwa kondisi di Sulawesi Tengah masih terkendali dan tidak menunjukkan lonjakan kasus.
“Untuk Sulawesi Tengah sendiri, tidak ada peningkatan kasus. Ini masih termasuk peningkatan musiman karena saat ini musim hujan, dan tidak mengarah pada kondisi yang mengkhawatirkan,” tegasnya.
Ia menambahkan, gejala yang ditimbulkan virus tersebut tidak berbeda dengan flu musiman pada umumnya, seperti demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, badan lemas, serta keluhan umum lainnya.
“Penanganannya juga sama seperti flu biasa. Tidak ada penanganan khusus atau spesifik untuk kasus ini,” jelasnya.
Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah juga membantah informasi yang beredar di media sosial yang menyebut super flu lebih berbahaya dibandingkan Covid-19.
“Itu tidak benar. Secara ilmiah tidak bisa dijelaskan bahwa flu ini lebih parah dari Covid-19. Tidak ada dasar ilmiah yang mendukung klaim tersebut,” kata dr. Jumriani.
Menurutnya, hingga kini Kementerian Kesehatan RI belum mengeluarkan surat edaran khusus terkait kewaspadaan terhadap influenza A(H3N2) subclade K, mengingat virus tersebut sudah lama ada dan pertama kali terdeteksi di Indonesia pada Agustus 2025.
Meski demikian, pengawasan tetap dilakukan di seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kasus flu dengan gejala lebih berat.
“Kami tetap mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta melakukan vaksinasi influenza, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, lansia, dan kelompok berisiko,” imbaunya.
Masyarakat yang mengalami gejala flu diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Sementara bagi warga yang merasa kurang sehat namun tetap harus beraktivitas, dianjurkan menggunakan masker.
“Sampai saat ini, kondisi masih terkendali dan tidak ada hal yang perlu terlalu dikhawatirkan,” pungkas dr. Jumriani.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan RI mengungkapkan bahwa influenza A(H3N2) subclade K telah terdeteksi di sejumlah wilayah Indonesia sejak Agustus 2025.
Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus dengan Jawa Timur sebagai provinsi dengan jumlah kasus terbanyak.
Secara nasional, kelompok usia yang paling banyak terdampak adalah anak usia 1–10 tahun, disusul usia 21–30 tahun, 11–20 tahun, serta kelompok usia di atas 60 tahun.
Meski demikian, Kemenkes RI menegaskan bahwa kondisi tersebut masih terkendali dan tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan. (Rul/Nl)










