- Harga BBM Pertamina per 1 Juni Berubah, Pertamax Turbo Naik
- Sulteng Masuk Daerah Terbaik Pengendalian Inflasi di Sulawesi, Dapat Insentif Rp2 Miliar
- Palu dan Morowali Masuk Daerah Tujuan Migrasi Tertinggi di Sulteng
- Wakil Ketua MPR RI Akbar Supratman Sumbang Sapi Kurban di Masjid Raya Baitul Khairaat
- Kemendikdasmen Perbarui Kebijakan, Masuk SD Tak Lagi Harus Menunggu 7 Tahun
- Kendaraan di Palu Kini Wajib Menggunakan Plat Nomor Daerah
- Mandi Laut Usai Subuh, Warga Palu Barat Tewas Tenggelam di Kampung Nelayan
- Demi Efisiensi, Anggaran MBG 2026 Dipangkas Rp67 Triliun
- Siap-Siap Cair, Gaji Ke-13 ASN hingga Polri Mulai Dibayarkan Juni 2026
- Pusat Medis Modern di Cina Jadi Inspirasi Pengembangan Kesehatan di Sulteng
Pertama Kali Digelar, Festival Temu Lempeng Donggala Siap Jadi Sorotan Dunia

Keterangan Gambar : Festival Temu Lempeng digelar di Desa Siweli, Kecamatan Balaesang, pada 25-26 Juli 2025. (Foto: Bimaz/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, DONGGALA – Pemerintah Kabupaten Donggala melalui Dinas Pariwisata menggelar Festival Temu Lempeng untuk pertama kalinya di Desa Siweli, Kecamatan Balaesang, pada 25-26 Juli 2025.
Ajang ini menjadi strategi promosi wisata unggulan Donggala sekaligus memperkenalkan keunikan wilayah yang berada di titik pertemuan tiga lempeng besar dunia.
Baca Lainnya :
- Peminat Trans Donggala Meningkat, Pemkab Kaji Penambahan Armada dan Rute Pantai Barat
- Polda Sulteng Wujudkan Harapan Bripka Anas Peraih Hoegeng Awards 2025 Bertugas di Kampung Halaman
- admin
- Puluhan Pelajar dan Mahasiswa Ikuti Lomba Bernuansa Bahasa Arab
- Cidomo, Transportasi Ikonis yang Jadi Daya Tarik Wisatawan Lombok
Kepala Dinas Pariwisata Donggala, Muhammad, menegaskan festival ini bukan sekadar perayaan budaya, tetapi langkah strategis untuk mengangkat nama Siweli sebagai destinasi wisata kelas internasional.
“Ini potensi yang luar biasa. Bahkan bukan hanya tingkat nasional, tapi bisa mendunia. Kita berada di titik nol, dan saya berharap titik ini menjadi pusat pengembangan pariwisata yang melibatkan alam, budaya, dan kuliner,” ungkapnya.
Muhammad menambahkan, posisi strategis Siweli yang dilalui garis khatulistiwa dan menjadi titik temu tiga lempeng besar, yakni Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik, adalah kekuatan yang harus dikemas secara kreatif.
“Kami menjadikan titik nol ini sebagai pemicu ekosistem pariwisata Donggala. Artinya, pengembangan tidak hanya sebatas destinasi alam, tetapi juga menghidupkan budaya lokal dan potensi kuliner,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, setelah meresmikan bersama prasasti Equator, Ketua IOF Pusat, Irjen Pol (Purn) Sam Budi Gusdian, mengungkapkan rasa bangga bisa kembali menginjak Tugu Equator Siweli yang pernah ia kunjungi puluhan tahun lalu.
“Hari ini saya benar-benar bangga melihat Siweli berkembang menjadi titik temu dunia. Saya usulkan agar dibentuk ‘Siweli Squad’ yang akan kami dukung untuk menjaga konsistensi pengembangan wisata ini,” ujarnya.
Kata dia, potensi ini luar biasa. Jika dikelola dengan baik, ekonomi masyarakat akan terangkat, budaya tetap lestari, dan Donggala punya magnet wisata kelas dunia.
“Siweli bukan sekadar destinasi, tapi pusat peradaban yang harus dijaga bersama,” tutupnya.
Festival Temu Lempeng yang mengusung tema “Titik Nol, Titik Dunia” ini diharapkan menjadi pintu gerbang Donggala menuju peta wisata internasional, memadukan pesona alam, budaya, dan sejarah geologi dunia.
Festival Temu Lempeng merupakan rangkaian acara yang menggabungkan edukasi, budaya, dan musik, untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat melalui fenomena alam dan tradisi lokal yang dikemas menjadi satu kekuatan.
Pada gelaran ini, para pengunjung disuguhkan beragam agenda, mulai dari seminar nasional, teleconference mitigasi, arsip data Leiden, pertunjukan seni dan budaya, hingga expo sejarah lokal. (Bim)










