- Harga BBM Pertamina per 1 Juni Berubah, Pertamax Turbo Naik
- Sulteng Masuk Daerah Terbaik Pengendalian Inflasi di Sulawesi, Dapat Insentif Rp2 Miliar
- Palu dan Morowali Masuk Daerah Tujuan Migrasi Tertinggi di Sulteng
- Wakil Ketua MPR RI Akbar Supratman Sumbang Sapi Kurban di Masjid Raya Baitul Khairaat
- Kemendikdasmen Perbarui Kebijakan, Masuk SD Tak Lagi Harus Menunggu 7 Tahun
- Kendaraan di Palu Kini Wajib Menggunakan Plat Nomor Daerah
- Mandi Laut Usai Subuh, Warga Palu Barat Tewas Tenggelam di Kampung Nelayan
- Demi Efisiensi, Anggaran MBG 2026 Dipangkas Rp67 Triliun
- Siap-Siap Cair, Gaji Ke-13 ASN hingga Polri Mulai Dibayarkan Juni 2026
- Pusat Medis Modern di Cina Jadi Inspirasi Pengembangan Kesehatan di Sulteng
BMKG Catat 4.120 Gempa Guncang Sulawesi Tengah Sepanjang 2025

Keterangan Gambar : Kepala Stasiun BMKG Geofisika Palu, Sujabar. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat aktivitas kegempaan di Sulawesi Tengah sepanjang tahun 2025 tergolong sangat tinggi dan mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Stasiun BMKG Geofisika Palu, Sujabar, mengatakan total gempa yang terjadi di Sulawesi Tengah selama 2025 mencapai sekitar 4.120 kejadian.
Baca Lainnya :
- Sepanjang 2025, BMKG Catat 43.439 Gempa Terjadi di Indonesia
- AJI Palu Catat Tujuh Kasus Kekerasan terhadap Jurnalis di Sulteng Sepanjang 2025
- Posko Terpadu Tahun Baru di Palu Dipantau, Fokus Pengamanan dan Pelayanan Masyarakat
- Gubernur Sulteng Lantik 36 Pejabat Eselon II dan Serahkan SK 3.230 PPPK Paruh Waktu
- Gubernur Sulteng Buka Ajang Balap Motor Terbesar Akhir Tahun 2025
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun 2024 yang berada di kisaran 3.000-an kejadian dan belum mencapai 4.000 gempa.
“Untuk aktivitas kegempaan di Sulawesi Tengah itu, kalau total sekitar 4.120 kegempaan,” kata Sujabar ditemui di Palu, Jumat (2/1) sore.
Dari total tersebut, BMKG mencatat terdapat 58 gempa yang dirasakan oleh masyarakat, baik yang menimbulkan kerusakan maupun tidak.
Sujabar menjelaskan, secara rata-rata aktivitas gempa di wilayah ini terjadi di atas 300 kejadian setiap bulan.
“Untuk yang terasanya, dirasakan sampai menimbulkan kerusakan atau tidak itu sekitar ada 58 gempa,” ujarnya.
BMKG juga mencatat, konsentrasi gempa sepanjang 2025 banyak terjadi di sepanjang sesar Palu-Koro serta sesar Poso yang menunjukkan aktivitas cukup signifikan.
Menurut Sujabar, kedua sesar tersebut menjadi sumber utama kegempaan di Sulawesi Tengah selama tahun berjalan.
“Terutama konsennya itu di sesar Palu-Koro, sama kemarin di sesar Poso yang cukup aktif di tahun 2025,” kata dia.
Sujabar menuturkan, peningkatan jumlah gempa yang tercatat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya tidak serta-merta menunjukkan perubahan kondisi geologi secara drastis.
Ia menyebut, salah satu faktor yang memengaruhi meningkatnya angka kegempaan adalah bertambahnya jumlah alat deteksi gempa di Sulawesi Tengah.
“Kalau dilihat dari tahun-tahun sebelumnya ada peningkatan, tapi bukan berarti peningkatan itu karena bisa jadi dipengaruhi faktornya kebetulan kita sensor deteksi juga jaringannya diperapat,” ujarnya.
Pada tahun 2024, BMKG masih mengoperasikan sekitar 25 alat seismograf di Sulawesi Tengah.
Sementara pada 2025, jumlah tersebut bertambah menjadi 36 alat, sehingga gempa-gempa bermagnitudo kecil kini dapat terekam dan dianalisis.
“Itu juga bisa mempengaruhi gempa-gempa yang magnitudenya di bawah satu bisa terdeteksi, bisa terekam sehingga bisa dianalisa,” kata Sujabar.
Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa secara umum wilayah Sulawesi Tengah memang memiliki tingkat aktivitas kegempaan yang sangat tinggi.
Sujabar menilai, kawasan ini bukan hanya aktif, tetapi tergolong sangat aktif secara seismik.
“Yang jelas kita bukan hanya aktif, tapi sangat aktif,” tegasnya.
BMKG mencatat, magnitudo gempa yang terjadi sepanjang 2025 berkisar antara 0,8 hingga 6,2. Untuk meningkatkan kualitas pemantauan, BMKG menilai masih dibutuhkan tambahan sekitar 10 alat deteksi gempa agar jaringan seismograf semakin rapat, terutama di area sesar yang belum sepenuhnya terpasang alat.
“Sebenarnya berdasarkan kajian ini kita masih membutuhkan sekitar 10-an alat deteksi lagi untuk memperapat,” ujar Sujabar.
Namun, rencana penambahan alat tersebut masih bergantung pada ketersediaan anggaran dari pemerintah pusat.
BMKG berharap, penambahan jaringan deteksi dapat memperkuat analisis dan pemantauan gempa di wilayah yang dikenal rawan bencana ini. (Rul/Nl)










