- FR Cup Volleyball Tournament 2026 Resmi Berakhir, Fathur Razaq: Bukan Ending, Tapi Beginning
- Menaker Larang Lowongan Kerja Cantumkan Syarat Good Looking dan Usia
- Soal Pajak Rumah Kontrakan, Purbaya Tegaskan Tak Ada Pajak Baru
- Pengguna Pertalite Akan Dibatasi Mulai Akhir Tahun, Pemerintah Tegaskan Motor Tak Terdampak
- Durian Vulcano Indonesia Didorong Jadi Brand Durian Sulteng untuk Pasar Dunia
- Durian Beku Sulteng Laris di China, Ekspor Capai 7.344 Ton
- Rp18,9 Triliun Cair ke 546 Pemda, Buat Bayar Gaji PPPK
- Terungkap Setelah Dua Tahun Hilang, Paramitha Dibunuh Sopir Travel saat Perjalanan ke Morowali
- Perkembangan Kasus Pembunuhan Keluarga di Duyu, 9 Saksi Diperiksa dan Pelaku Masih Diburu Polisi
- 180 Gempa di Sulteng Tercatat pada Minggu Pertama Agustus
Faperta Untad Dorong Modernisasi Pertanian Sayur Lewat Teknologi Cerdas

Keterangan Gambar : Faperta Untad melatih petani sayuran di Kabupaten Poso dengan metode pertanian cerdas (smart farming). (Foto: IST)
Likeindonesia.com, Poso - Fakultas Pertanian Universitas Tadulako (Faperta Untad) melatih petani sayuran di Kabupaten Poso dengan metode pertanian cerdas (smart farming).
Program ini menyasar kelompok tani di Desa Alitupu, Kecamatan Lore Utara.
Baca Lainnya :
- SabanMulor
- Sabannn
- Jalan-Jalan Makassar–Poso Makin Gampang, Sriwijaya Air Terbang Tiga Kali Seminggu Mulai 30 September
- SabanMulor
- personal
“Pelatihan ini bertujuan meningkatkan ketahanan pangan lokal melalui inovasi budidaya sayuran organik berbasis teknologi,” kata Ketua Tim, Jusriadi, di Palu, Senin (22/9).
Dalam kegiatan pengabdian masyarakat tersebut, Jusriadi bersama dua akademisi lainnya, Desi Wahyuni Arsih dan Asgar Taiyeb, memperkenalkan penggunaan alat soil analyzer dan soil moisture meter.
Alat ini membantu petani memantau kondisi tanah, termasuk pH, suhu, kelembaban, serta kebutuhan air tanaman.
“Kami memperkenalkan penggunaan alat soil analyzer dan soil moisture meter,” ungkapnya.
Hasil uji lapangan menunjukkan lahan kelompok tani kekurangan nitrogen dan mengalami kelembaban rendah.
Data ini menjadi dasar bagi petani untuk menyesuaikan pola pemupukan dan penyiraman.
Pelatihan tersebut diikuti 20 petani anggota kelompok tani SIPAMASE-MASE yang dipimpin Arifuddin.
Selama ini, mereka mengandalkan metode konvensional dengan penggunaan pupuk anorganik dan pestisida.
"Selama ini, kami hanya menebak kebutuhan tanah, sekarang kami bisa melihat data langsung," kata Arifuddin.
Sejumlah petani menyatakan siap menerapkan teknologi tersebut secara berkelanjutan.
Program ini dinilai membuka jalan bagi modernisasi pertanian di wilayah terpencil seperti Lore Utara.
“Inovasi ini dapat meningkatkan hasil pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal di Kabupaten Poso,” harap Jusriadi. (Rul/Nl)


.jpg)







