- Polres Cirebon Kota Tindaklanjuti Laporan Masyarakat Terkait Dugaan Peredaran Obat Keras Terbatas
- Suhu Palu Tembus 34,7 Derajat, Wagub Ajak Masyarakat Lebih Peduli Perubahan Iklim
- Palu Catat Suhu Maksimum 35 Derajat, Jadi Wilayah Terpanas Kedua di RI
- 50 Huntara Mulai Dibangun untuk Warga Terdampak Gempa di Sigi
- Akbar Supratman Salurkan Ribuan Paket Bantuan untuk Warga Terdampak Gempa di Sigi
- Dalam Sepekan, Gempa Susulan M 6,7 di Sulteng Capai 1.318 Kali
- PTN dan PTS se-Sulteng Bangun Kolaborasi Mitigasi Bencana Berbasis Riset
- Resmi Terpilih, Dua Pelajar Asal Bangkep dan Palu Wakili Sulteng Jadi Calon Paskibraka Nasional 2026
- Enam Hari Pascagempa M 6,7, Gempa Susulan di Sulteng Tembus 1.256 Kali
- Sensus Ekonomi 2026 Digelar, Masyarakat Sulteng Diajak Beri Data Akurat
Faperta Untad Dorong Modernisasi Pertanian Sayur Lewat Teknologi Cerdas

Keterangan Gambar : Faperta Untad melatih petani sayuran di Kabupaten Poso dengan metode pertanian cerdas (smart farming). (Foto: IST)
Likeindonesia.com, Poso - Fakultas Pertanian Universitas Tadulako (Faperta Untad) melatih petani sayuran di Kabupaten Poso dengan metode pertanian cerdas (smart farming).
Program ini menyasar kelompok tani di Desa Alitupu, Kecamatan Lore Utara.
Baca Lainnya :
- SabanMulor
- Sabannn
- Jalan-Jalan Makassar–Poso Makin Gampang, Sriwijaya Air Terbang Tiga Kali Seminggu Mulai 30 September
- SabanMulor
- personal
“Pelatihan ini bertujuan meningkatkan ketahanan pangan lokal melalui inovasi budidaya sayuran organik berbasis teknologi,” kata Ketua Tim, Jusriadi, di Palu, Senin (22/9).
Dalam kegiatan pengabdian masyarakat tersebut, Jusriadi bersama dua akademisi lainnya, Desi Wahyuni Arsih dan Asgar Taiyeb, memperkenalkan penggunaan alat soil analyzer dan soil moisture meter.
Alat ini membantu petani memantau kondisi tanah, termasuk pH, suhu, kelembaban, serta kebutuhan air tanaman.
“Kami memperkenalkan penggunaan alat soil analyzer dan soil moisture meter,” ungkapnya.
Hasil uji lapangan menunjukkan lahan kelompok tani kekurangan nitrogen dan mengalami kelembaban rendah.
Data ini menjadi dasar bagi petani untuk menyesuaikan pola pemupukan dan penyiraman.
Pelatihan tersebut diikuti 20 petani anggota kelompok tani SIPAMASE-MASE yang dipimpin Arifuddin.
Selama ini, mereka mengandalkan metode konvensional dengan penggunaan pupuk anorganik dan pestisida.
"Selama ini, kami hanya menebak kebutuhan tanah, sekarang kami bisa melihat data langsung," kata Arifuddin.
Sejumlah petani menyatakan siap menerapkan teknologi tersebut secara berkelanjutan.
Program ini dinilai membuka jalan bagi modernisasi pertanian di wilayah terpencil seperti Lore Utara.
“Inovasi ini dapat meningkatkan hasil pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal di Kabupaten Poso,” harap Jusriadi. (Rul/Nl)










