- Viral Juri Cerdas Cermat Salahkan Jawaban Benar, Wakil Ketua MPR Minta Maaf
- 62 Pasangan di Palu Kini Punya Legalitas Resmi Usai Ikut Isbat Nikah Massal
- Kabur Lintas Kota, Pendiri Ponpes Tersangka Pemerkosaan Akhirnya Ditangkap
- Ribuan Calon Jemaah Haji Sulteng Mulai Diberangkatkan ke Tanah Suci
- Didominasi Anak Muda, Penduduk Sulteng Mayoritas Berasal dari Gen Z
- Wajib Belajar 12 Tahun, Anak Putus Sekolah Kini Ditangani lewat Perpres Baru
- Pertamina Resmi Naikkan Harga BBM Non Subsidi, Dexlite Tembus Rp26 Ribu Per Liter
- Gubernur Sulteng Ingatkan Perusahaan untuk Tidak Abaikan Keselamatan Pekerja
- Hardiknas 2026, Pemerintah Dorong Penerapan Deep Learning di Satuan Pendidikan
- Pembayaran Honorer di Sulteng Ditarget Tertib dan Merata, Gubernur Pastikan Tanpa Ketimpangan
Faperta Untad Dorong Modernisasi Pertanian Sayur Lewat Teknologi Cerdas

Keterangan Gambar : Faperta Untad melatih petani sayuran di Kabupaten Poso dengan metode pertanian cerdas (smart farming). (Foto: IST)
Likeindonesia.com, Poso - Fakultas Pertanian Universitas Tadulako (Faperta Untad) melatih petani sayuran di Kabupaten Poso dengan metode pertanian cerdas (smart farming).
Program ini menyasar kelompok tani di Desa Alitupu, Kecamatan Lore Utara.
Baca Lainnya :
- SabanMulor
- Sabannn
- Jalan-Jalan Makassar–Poso Makin Gampang, Sriwijaya Air Terbang Tiga Kali Seminggu Mulai 30 September
- SabanMulor
- personal
“Pelatihan ini bertujuan meningkatkan ketahanan pangan lokal melalui inovasi budidaya sayuran organik berbasis teknologi,” kata Ketua Tim, Jusriadi, di Palu, Senin (22/9).
Dalam kegiatan pengabdian masyarakat tersebut, Jusriadi bersama dua akademisi lainnya, Desi Wahyuni Arsih dan Asgar Taiyeb, memperkenalkan penggunaan alat soil analyzer dan soil moisture meter.
Alat ini membantu petani memantau kondisi tanah, termasuk pH, suhu, kelembaban, serta kebutuhan air tanaman.
“Kami memperkenalkan penggunaan alat soil analyzer dan soil moisture meter,” ungkapnya.
Hasil uji lapangan menunjukkan lahan kelompok tani kekurangan nitrogen dan mengalami kelembaban rendah.
Data ini menjadi dasar bagi petani untuk menyesuaikan pola pemupukan dan penyiraman.
Pelatihan tersebut diikuti 20 petani anggota kelompok tani SIPAMASE-MASE yang dipimpin Arifuddin.
Selama ini, mereka mengandalkan metode konvensional dengan penggunaan pupuk anorganik dan pestisida.
"Selama ini, kami hanya menebak kebutuhan tanah, sekarang kami bisa melihat data langsung," kata Arifuddin.
Sejumlah petani menyatakan siap menerapkan teknologi tersebut secara berkelanjutan.
Program ini dinilai membuka jalan bagi modernisasi pertanian di wilayah terpencil seperti Lore Utara.
“Inovasi ini dapat meningkatkan hasil pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal di Kabupaten Poso,” harap Jusriadi. (Rul/Nl)




.jpg)





