- Tiga Wilayah Sulteng Diguncang Gempa pada 1 Juli, Terkuat di Sigi
- Ini Daerah dengan Pengeluaran Makanan dan Minuman Jadi Tertinggi di Sulteng, Palu dan Poso Teratas
- Harganas 2026, Orang Tua di Sulteng Diminta Bijak Dampingi Anak Gunakan Gawai
- Suhu Palu Tembus 34,7 Derajat, Wagub Ajak Masyarakat Lebih Peduli Perubahan Iklim
- Palu Catat Suhu Maksimum 35 Derajat, Jadi Wilayah Terpanas Kedua di RI
- 50 Huntara Mulai Dibangun untuk Warga Terdampak Gempa di Sigi
- Akbar Supratman Salurkan Ribuan Paket Bantuan untuk Warga Terdampak Gempa di Sigi
- Dalam Sepekan, Gempa Susulan M 6,7 di Sulteng Capai 1.318 Kali
- PTN dan PTS se-Sulteng Bangun Kolaborasi Mitigasi Bencana Berbasis Riset
- Resmi Terpilih, Dua Pelajar Asal Bangkep dan Palu Wakili Sulteng Jadi Calon Paskibraka Nasional 2026
Korsleting Listrik Dominasi Kasus Kebakaran di Palu, Damkar Catat 15 Kejadian Hingga 10 Januari

Keterangan Gambar : Kepala Seksi Penanggulangan Disdamkarmat Kota Palu, Agung Tri Prasetiawan. (Foto : Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kota Palu mencatat 15 kasus kebakaran terjadi sepanjang Januari hingga tanggal 10.
Mayoritas kejadian dipicu oleh korsleting listrik akibat penggunaan instalasi dan peralatan yang tidak sesuai standar.
Baca Lainnya :
- Resmi! ASN dan Karyawan Swasta Bisa WFA Selama Libur Lebaran 2026, Berlaku 16–17 dan 25–27 Maret
- Uji Cepat Formalin di Pasar Manonda Palu, Sampel Ikan Dinyatakan Aman Konsumsi
- Didampingi KONI, Gubernur Sulteng Serahkan Bonus untuk Atlet Peraih Medali SEA Games 2025
- BPJN Sulteng: Jembatan Palu IV dan Elevated Road Tak Diperuntukkan Bagi Pejalan Kaki hingga Pesepeda
- Uji Coba Lalu Lintas Jembatan Palu IV Digelar, Evaluasi Simpang Jadi Perhatian
Kepala Seksi Penanggulangan Disdamkarmat Kota Palu, Agung Tri Prasetiawan, mengatakan angka tersebut menunjukkan tren peningkatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
“Sepanjang Januari sampai dengan tanggal 10 ini, tercatat ada 15 kali kejadian kebakaran. Kejadian tersebut meliputi kebakaran rumah, lahan, serta korsleting listrik yang biasanya terjadi di gardu-gardu,” ujarnya.
Ia menilai, jika melihat intensitas kejadian di awal tahun 2026, jumlah kebakaran berpotensi meningkat dibanding 2025.
Menurutnya, pada Januari hingga Maret tahun lalu justru relatif jarang terjadi kebakaran, sedangkan saat ini hampir setiap hari ada laporan masuk.
Bahkan, kata dia, dalam satu hari bisa terjadi beberapa peristiwa sekaligus.
“Kalau sekarang ini, hampir setiap hari ada kejadian. Bahkan sekitar tiga hari lalu, dalam satu hari bisa terjadi hingga delapan kali kebakaran,” ungkapnya.
Agung menjelaskan, sebagian besar kebakaran dipicu oleh instalasi listrik yang tidak diperiksa secara berkala serta kebiasaan penggunaan stop kontak secara berlebihan.
Banyak warga menggunakan satu sumber listrik untuk tiga hingga empat colokan sekaligus, sehingga menimbulkan beban berlebih.
“Instalasi listrik ini sering kali dianggap aman-aman saja. Banyak masyarakat menggunakan satu stop kontak hingga tiga atau empat colokan, lalu semuanya diisi. Akibatnya, beban listrik berlebihan, menimbulkan panas, meleleh, dan akhirnya terjadi korsleting,” katanya.
Ia menambahkan, saat kebakaran terjadi, pemadam kerap disalahkan karena dianggap lambat, padahal penyebab utama berasal dari penggunaan listrik yang tidak bijak.
Karena itu, Damkar mengimbau masyarakat lebih berhati-hati dalam penggunaan peralatan listrik di rumah.
Agung secara langsung mengingatkan agar colokan dicabut saat tidak digunakan dan aliran listrik dimatikan ketika meninggalkan rumah.
“Imbauan kami, gunakan listrik secara bijak. Jika tidak diperlukan, cabut semua colokan. Jika meninggalkan rumah, pastikan semua aliran listrik dimatikan. Peralatan yang berpotensi menimbulkan panas seperti dispenser dan pemanas nasi, setelah digunakan sebaiknya langsung dicabut,” tegasnya.
Selain itu, pembaruan instalasi listrik juga dinilai penting untuk mencegah risiko korsleting.
Ia menyebut, idealnya instalasi listrik diperbarui setiap 10 hingga 15 tahun, terlebih dengan kondisi cuaca panas di Kota Palu yang dapat mempercepat kerusakan kabel.
Menurutnya, kabel yang sudah rapuh ditambah gangguan hewan seperti tikus dapat memicu hubungan arus pendek yang berujung kebakaran.
“Untuk instalasi listrik, idealnya dilakukan pembaruan atau penggantian setiap 10 hingga 15 tahun. Mengingat cuaca di Kota Palu yang cukup panas, kabel instalasi lama bisa menjadi rapuh,” jelas Agung.
Selain faktor kelistrikan, Damkar juga menyoroti kebiasaan pembakaran sampah yang ditinggalkan tanpa pengawasan.
Ia mencontohkan kejadian di Jalan Purnawirawan yang dipicu oleh sampah yang dibakar lalu ditinggal sekitar 15 menit hingga akhirnya merembet ke rumah warga.
Terkait upaya pencegahan, Damkar mengaku rutin melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai penggunaan listrik, kompor, serta bahaya pembakaran sampah sembarangan.
Di sisi lain, pelaku usaha kecil dan menengah diminta menyediakan alat pemadam api ringan (APAR) sebagai langkah antisipasi awal.
Menurut Agung, keberadaan APAR sangat penting untuk memadamkan api kecil sebelum membesar.
“Kalau untuk bantuan APAR dari pemerintah, itu tidak memungkinkan. Namun bagi masyarakat yang memiliki usaha, minimal harus menyediakan satu unit APAR. Ini penting untuk melindungi usaha dari api kecil sebelum berkembang menjadi api besar,” pungkasnya. 9Rul/Nl)










