- UMKM Sulteng Mulai Didorong Go Global, Gerakan 1.000 Pelaku Usaha Ekspor Resmi Dideklarasikan
- Jokowi Dijadwalkan Sambangi Palu, Bakal Resmikan Kantor DPW PSI Sulteng
- Le Na Jodoh, ADISTA Tak Jadi Tampil di Konser HUT Kota Palu ke-48
- Pemerintah Siapkan Skema Kuliah Gratis di PTN, Pelaksanaan Akan Bertahap
- Makin Sedikit Warga Sulteng yang Fokus Mengurus Rumah Tangga, Jumlahnya Turun 61 Ribu
- 2,46% Rumah Tangga di Palu Masih Andalkan Air Hujan untuk Minum
- 40% Gen Z Pilih Nikah di KUA, Uang Lebih Diprioritaskan untuk Kehidupan Setelah Menikah
- Catat Jamnya! 25 September Ada Fenomena Hari Tanpa Bayangan di Enam Wilayah Sulteng, Termasuk Palu
- Influenza Tipe A Super Flu Merebak di RI, Anak-Anak Paling Banyak Terinfeksi
- KONI Sulteng Dorong PBFI Tingkatkan Pembinaan dan Prestasi Atlet
PTN dan PTS se-Sulteng Bangun Kolaborasi Mitigasi Bencana Berbasis Riset

Keterangan Gambar : Deklarasi Konsorsium Iklim dan Tanggap Bencana yang digelar di Aula Baru Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako, Senin (22/6/2026). (Foto: Biro Adpim Pemprov Sulteng)
Likeindonesia.com, PALU – Perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) se-Sulawesi Tengah membangun kolaborasi mitigasi bencana berbasis riset melalui Deklarasi Konsorsium Iklim dan Tanggap Bencana yang digelar di Aula Baru Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako, Senin (22/6/2026).
Deklarasi tersebut menjadi langkah bersama perguruan tinggi, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim serta risiko bencana di Sulawesi Tengah, yang selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan bencana tinggi di Indonesia.
Baca Lainnya :
- Resmi Terpilih, Dua Pelajar Asal Bangkep dan Palu Wakili Sulteng Jadi Calon Paskibraka Nasional 2026
- Enam Hari Pascagempa M 6,7, Gempa Susulan di Sulteng Tembus 1.256 Kali
- Sensus Ekonomi 2026 Digelar, Masyarakat Sulteng Diajak Beri Data Akurat
- Ratusan Skater Ramaikan Go Skateboarding Day 2026 di Palu
- Kloter Pertama Jemaah Haji Sulteng Tiba di Palu, Disambut Haru Keluarga
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny A. Lamadjido, yang membuka kegiatan tersebut menegaskan bahwa pengalaman panjang menghadapi berbagai bencana alam menjadi pelajaran penting bagi daerah untuk terus memperkuat kapasitas mitigasi dan kesiapsiagaan.
“Sulawesi Tengah adalah daerah yang sangat sering mengalami gempa bumi. Saya sendiri merasakan langsung bencana besar tahun 2018, terlibat dalam proses evakuasi korban, menangani pasien, dan melihat bagaimana dahsyatnya gempa, tsunami, hingga likuefaksi yang melanda Palu, Donggala, Sigi, dan wilayah sekitarnya. Pengalaman itu menjadi pelajaran besar bagi kita semua,” ujar Reny.
Menurutnya, pengalaman bencana yang terus berulang, termasuk gempa bumi yang kembali terjadi baru-baru ini, menunjukkan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana harus menjadi agenda bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk perguruan tinggi sebagai pusat ilmu pengetahuan dan riset.
“Saya meyakini penanggulangan bencana tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan pendekatan yang komprehensif, kolaboratif, dan berbasis ilmu pengetahuan agar risiko bencana dapat diminimalkan serta kapasitas masyarakat menghadapi ancaman dapat semakin kuat,” tegasnya.
Reny juga mendorong dunia akademik, khususnya mahasiswa program doktoral dan para peneliti, agar riset yang dilakukan berorientasi pada persoalan riil yang dihadapi Sulawesi Tengah sehingga mampu menghasilkan solusi nyata bagi masyarakat.
“Saya berharap penelitian, tesis maupun disertasi yang dilakukan perguruan tinggi dapat berangkat dari persoalan yang sedang dihadapi Sulawesi Tengah. Dengan begitu, dunia akademik benar-benar menghadirkan solusi bagi masyarakat,” tambahnya.
Kehadiran Konsorsium Iklim dan Tanggap Bencana perguruan tinggi dinilai menjadi wadah strategis untuk memperkuat kolaborasi riset, pertukaran pengetahuan, serta pengembangan inovasi yang mendukung mitigasi bencana dan adaptasi perubahan iklim di Sulawesi Tengah. (Nul)










