- FR Cup Volleyball Tournament 2026 Resmi Berakhir, Fathur Razaq: Bukan Ending, Tapi Beginning
- Menaker Larang Lowongan Kerja Cantumkan Syarat Good Looking dan Usia
- Soal Pajak Rumah Kontrakan, Purbaya Tegaskan Tak Ada Pajak Baru
- Pengguna Pertalite Akan Dibatasi Mulai Akhir Tahun, Pemerintah Tegaskan Motor Tak Terdampak
- Durian Vulcano Indonesia Didorong Jadi Brand Durian Sulteng untuk Pasar Dunia
- Durian Beku Sulteng Laris di China, Ekspor Capai 7.344 Ton
- Rp18,9 Triliun Cair ke 546 Pemda, Buat Bayar Gaji PPPK
- Terungkap Setelah Dua Tahun Hilang, Paramitha Dibunuh Sopir Travel saat Perjalanan ke Morowali
- Perkembangan Kasus Pembunuhan Keluarga di Duyu, 9 Saksi Diperiksa dan Pelaku Masih Diburu Polisi
- 180 Gempa di Sulteng Tercatat pada Minggu Pertama Agustus
PTN dan PTS se-Sulteng Bangun Kolaborasi Mitigasi Bencana Berbasis Riset

Keterangan Gambar : Deklarasi Konsorsium Iklim dan Tanggap Bencana yang digelar di Aula Baru Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako, Senin (22/6/2026). (Foto: Biro Adpim Pemprov Sulteng)
Likeindonesia.com, PALU – Perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) se-Sulawesi Tengah membangun kolaborasi mitigasi bencana berbasis riset melalui Deklarasi Konsorsium Iklim dan Tanggap Bencana yang digelar di Aula Baru Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako, Senin (22/6/2026).
Deklarasi tersebut menjadi langkah bersama perguruan tinggi, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim serta risiko bencana di Sulawesi Tengah, yang selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan bencana tinggi di Indonesia.
Baca Lainnya :
- Resmi Terpilih, Dua Pelajar Asal Bangkep dan Palu Wakili Sulteng Jadi Calon Paskibraka Nasional 2026
- Enam Hari Pascagempa M 6,7, Gempa Susulan di Sulteng Tembus 1.256 Kali
- Sensus Ekonomi 2026 Digelar, Masyarakat Sulteng Diajak Beri Data Akurat
- Ratusan Skater Ramaikan Go Skateboarding Day 2026 di Palu
- Kloter Pertama Jemaah Haji Sulteng Tiba di Palu, Disambut Haru Keluarga
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny A. Lamadjido, yang membuka kegiatan tersebut menegaskan bahwa pengalaman panjang menghadapi berbagai bencana alam menjadi pelajaran penting bagi daerah untuk terus memperkuat kapasitas mitigasi dan kesiapsiagaan.
“Sulawesi Tengah adalah daerah yang sangat sering mengalami gempa bumi. Saya sendiri merasakan langsung bencana besar tahun 2018, terlibat dalam proses evakuasi korban, menangani pasien, dan melihat bagaimana dahsyatnya gempa, tsunami, hingga likuefaksi yang melanda Palu, Donggala, Sigi, dan wilayah sekitarnya. Pengalaman itu menjadi pelajaran besar bagi kita semua,” ujar Reny.
Menurutnya, pengalaman bencana yang terus berulang, termasuk gempa bumi yang kembali terjadi baru-baru ini, menunjukkan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana harus menjadi agenda bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk perguruan tinggi sebagai pusat ilmu pengetahuan dan riset.
“Saya meyakini penanggulangan bencana tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan pendekatan yang komprehensif, kolaboratif, dan berbasis ilmu pengetahuan agar risiko bencana dapat diminimalkan serta kapasitas masyarakat menghadapi ancaman dapat semakin kuat,” tegasnya.
Reny juga mendorong dunia akademik, khususnya mahasiswa program doktoral dan para peneliti, agar riset yang dilakukan berorientasi pada persoalan riil yang dihadapi Sulawesi Tengah sehingga mampu menghasilkan solusi nyata bagi masyarakat.
“Saya berharap penelitian, tesis maupun disertasi yang dilakukan perguruan tinggi dapat berangkat dari persoalan yang sedang dihadapi Sulawesi Tengah. Dengan begitu, dunia akademik benar-benar menghadirkan solusi bagi masyarakat,” tambahnya.
Kehadiran Konsorsium Iklim dan Tanggap Bencana perguruan tinggi dinilai menjadi wadah strategis untuk memperkuat kolaborasi riset, pertukaran pengetahuan, serta pengembangan inovasi yang mendukung mitigasi bencana dan adaptasi perubahan iklim di Sulawesi Tengah. (Nul)


.jpg)







