- Pengangguran di Palu Capai 11.577 Orang, Mayoritas Laki-laki
- Viral Juri Cerdas Cermat Salahkan Jawaban Benar, Wakil Ketua MPR Minta Maaf
- 62 Pasangan di Palu Kini Punya Legalitas Resmi Usai Ikut Isbat Nikah Massal
- Kabur Lintas Kota, Pendiri Ponpes Tersangka Pemerkosaan Akhirnya Ditangkap
- Ribuan Calon Jemaah Haji Sulteng Mulai Diberangkatkan ke Tanah Suci
- Didominasi Anak Muda, Penduduk Sulteng Mayoritas Berasal dari Gen Z
- Wajib Belajar 12 Tahun, Anak Putus Sekolah Kini Ditangani lewat Perpres Baru
- Pertamina Resmi Naikkan Harga BBM Non Subsidi, Dexlite Tembus Rp26 Ribu Per Liter
- Gubernur Sulteng Ingatkan Perusahaan untuk Tidak Abaikan Keselamatan Pekerja
- Hardiknas 2026, Pemerintah Dorong Penerapan Deep Learning di Satuan Pendidikan
Masigi Sakaya, Masjid Berbentuk Perahu Jadi Ikon Baru Kampung Lere Palu

Keterangan Gambar : Masigi Sakaya Datokarama di Kelurahan Lere, Kota Palu. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu – Sebuah bangunan masjid dengan bentuk tak biasa kini berdiri di Kelurahan Lere, Kota Palu.
Masigi Sakaya Datokarama, atau yang dikenal warga sebagai “Masjid Perahu”, dibangun dengan arsitektur menyerupai sakaya, perahu tradisional, yang merepresentasikan kehidupan masyarakat pesisir dan jejak sejarah penyebaran Islam di wilayah tersebut.
Baca Lainnya :
- Di Sulteng, Warga Palu dan Banggai Tercatat Paling Jarang Merokok
- Polda Sulteng Kirim 30 Ton Beras dan Rp500 Juta untuk Korban Banjir di Sumatra
- Kondisi Jalan di Sulteng Akan Didokumentasikan Titik per Titik Mulai Awal 2026
- BMKG Imbau Warga Sulteng Waspadai Potensi Cuaca Ekstrem
- Polisi Kantongi Identitas Pelaku Pencurian Kabel EWS di Palu
Dinding dan detail bangunan didominasi warna cokelat kayu, dengan bentuk melengkung pada bagian sisi bangunan menyerupai lambung perahu.
Desain ini membuat masjid tampak unik dan berbeda dibandingkan rumah ibadah lain di Palu.
Masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol identitas budaya masyarakat nelayan di Kelurahan Lere.
Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Lere, Mahdiyaris Parundju, mengatakan gagasan pembangunan Masigi Sakaya lahir dari kebiasaan hidup masyarakat di wilayah pesisir.
“Jadi di Masjid Sakaya Datokaram ini, kami bersama-sama Yayasan Sahabat Masjid memikirkan bagaimana bentuk dari Masjid Sakaya ini. Akhirnya kami, dengan melihat kebiasaan dari masyarakat kami sebagai nelayan, mengambil inisiasi tentang seperti apa bentuk masjid kita itu. Maka lahirlah ide Iponi Sakaya, Masjid Sakaya,” ujarnya diwawancarai media ini usai peresmian, Jumat (5/12) sore.
Menurut Mahdiyaris, nama Datokarama diambil dari tokoh ulama yang menyebarkan Islam di Palu dengan menggunakan perahu.
Ia menjelaskan, istilah “Masigi Sakaya” sengaja digunakan dengan bahasa Kaili, yang berarti perahu.
“Pada waktu itu kami berpikir untuk mengambil nama salah seorang tokoh ulama di Kota Palu yakni Datokarama. Dari ceritanya, beliau menyampaikan bahwa datuk menyebarkan Islam ke Kota Palu menggunakan Sakaya (Perahu). Maka kami mengambil nama Masjid Sakaya Datokarama,” katanya.
Lebih lanjut, Mahdiyaris menjelaskan bahwa penggunaan istilah Sakaya bukan sekadar nama, melainkan mewakili makna budaya dan sejarah masyarakat setempat.
“Mengapa kami mengambil nama Masigi Sakaya, tidak menyebut Masjid Sakaya karena Sakaya dalam bahasa Kaili berarti perahu. Jadi kami ambil nama Masjid Sakaya saja, tetap menggunakan bahasa Kaili. Kalau dalam bahasa Indonesia kan berarti Masjid Perahu,” jelasnya.
Ia menambahkan, bentuk sakaya dipilih karena berkaitan langsung dengan latar belakang masyarakat Lere yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan.
“Sehingga masjid ini berbentuk Sakaya atau perahu, karena tadi cerita-cerita dari Syekh Datokarama, kemudian juga aktivitas kami di Keluarga Iriri banyak sebagai nelayan, maka itu yang kami ambil, bahwa masjid ini harus kita bentuk dalam bentuk perahu atau Sakaya,” sambungnya.
Pembangunan Masigi Sakaya dimulai pada tahun 2021. Bahkan, meski masih dalam kondisi sederhana, masjid tersebut sudah digunakan warga untuk beribadah.
“Kami mulai membangun sejak 2021. Tepatnya pada tanggal 6 Mei, 23 Ramadhan, masjid ini sudah digunakan. Tarawih malam ke-23 kami sudah gunakan masjid ini, tapi masih berbentuk sederhana,” ungkap Mahdiyaris.
Perkembangan desain masjid terus berproses hingga akhirnya pada tahun 2024 bentuknya benar-benar menyerupai perahu.
“Baru pada tahun 2024 yang lalu, oleh Kakak Didi Liskandar, akhirnya berbentuk seperti ini desain Sakayanya, dan memang betul-betul mirip Sakaya,” ujarnya.
Ia mengaku sangat bersyukur karena Masigi Sakaya kini menjadi ikon warga Kelurahan Lere.
“Itulah yang membuat hati kami sangat senang, karena ini menjadi ikon kami di Kelurahan Lere dan juga menggambarkan aktivitas kami di sini sebagai nelayan melalui bentuk Sakayanya,” katanya.
Masjid ini berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 200 meter persegi, dengan daya tampung sekitar 80 hingga 100 jamaah.
Seluruh biaya pembangunannya ditanggung oleh Haji Ahmad M. Ali.
“Untuk luasannya sekitar 200 meter persegi. Daya tampungnya sekitar 80 sampai 100 orang,” jelas Mahdiyaris.
Ia menegaskan bahwa pembangunan masjid tidak berasal dari penggalangan dana masyarakat umum, melainkan sepenuhnya ditanggung oleh satu pihak.
“Semua ditanggung oleh Bapak Haji Ahmad Ali,” ujarnya.
Dengan berdirinya Masigi Sakaya, warga Lere kini memiliki rumah ibadah yang tidak hanya berfungsi secara spiritual, tetapi juga merepresentasikan jati diri, sejarah, serta hubungan erat mereka dengan laut dan perahu sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. (Rul/Nl)





.jpg)




