- Suhu Palu Tembus 34,7 Derajat, Wagub Ajak Masyarakat Lebih Peduli Perubahan Iklim
- Palu Catat Suhu Maksimum 35 Derajat, Jadi Wilayah Terpanas Kedua di RI
- 50 Huntara Mulai Dibangun untuk Warga Terdampak Gempa di Sigi
- Akbar Supratman Salurkan Ribuan Paket Bantuan untuk Warga Terdampak Gempa di Sigi
- Dalam Sepekan, Gempa Susulan M 6,7 di Sulteng Capai 1.318 Kali
- PTN dan PTS se-Sulteng Bangun Kolaborasi Mitigasi Bencana Berbasis Riset
- Resmi Terpilih, Dua Pelajar Asal Bangkep dan Palu Wakili Sulteng Jadi Calon Paskibraka Nasional 2026
- Enam Hari Pascagempa M 6,7, Gempa Susulan di Sulteng Tembus 1.256 Kali
- Sensus Ekonomi 2026 Digelar, Masyarakat Sulteng Diajak Beri Data Akurat
- Ratusan Skater Ramaikan Go Skateboarding Day 2026 di Palu
Masigi Sakaya, Masjid Berbentuk Perahu Jadi Ikon Baru Kampung Lere Palu

Keterangan Gambar : Masigi Sakaya Datokarama di Kelurahan Lere, Kota Palu. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu – Sebuah bangunan masjid dengan bentuk tak biasa kini berdiri di Kelurahan Lere, Kota Palu.
Masigi Sakaya Datokarama, atau yang dikenal warga sebagai “Masjid Perahu”, dibangun dengan arsitektur menyerupai sakaya, perahu tradisional, yang merepresentasikan kehidupan masyarakat pesisir dan jejak sejarah penyebaran Islam di wilayah tersebut.
Baca Lainnya :
- Di Sulteng, Warga Palu dan Banggai Tercatat Paling Jarang Merokok
- Polda Sulteng Kirim 30 Ton Beras dan Rp500 Juta untuk Korban Banjir di Sumatra
- Kondisi Jalan di Sulteng Akan Didokumentasikan Titik per Titik Mulai Awal 2026
- BMKG Imbau Warga Sulteng Waspadai Potensi Cuaca Ekstrem
- Polisi Kantongi Identitas Pelaku Pencurian Kabel EWS di Palu
Dinding dan detail bangunan didominasi warna cokelat kayu, dengan bentuk melengkung pada bagian sisi bangunan menyerupai lambung perahu.
Desain ini membuat masjid tampak unik dan berbeda dibandingkan rumah ibadah lain di Palu.
Masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol identitas budaya masyarakat nelayan di Kelurahan Lere.
Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Lere, Mahdiyaris Parundju, mengatakan gagasan pembangunan Masigi Sakaya lahir dari kebiasaan hidup masyarakat di wilayah pesisir.
“Jadi di Masjid Sakaya Datokaram ini, kami bersama-sama Yayasan Sahabat Masjid memikirkan bagaimana bentuk dari Masjid Sakaya ini. Akhirnya kami, dengan melihat kebiasaan dari masyarakat kami sebagai nelayan, mengambil inisiasi tentang seperti apa bentuk masjid kita itu. Maka lahirlah ide Iponi Sakaya, Masjid Sakaya,” ujarnya diwawancarai media ini usai peresmian, Jumat (5/12) sore.
Menurut Mahdiyaris, nama Datokarama diambil dari tokoh ulama yang menyebarkan Islam di Palu dengan menggunakan perahu.
Ia menjelaskan, istilah “Masigi Sakaya” sengaja digunakan dengan bahasa Kaili, yang berarti perahu.
“Pada waktu itu kami berpikir untuk mengambil nama salah seorang tokoh ulama di Kota Palu yakni Datokarama. Dari ceritanya, beliau menyampaikan bahwa datuk menyebarkan Islam ke Kota Palu menggunakan Sakaya (Perahu). Maka kami mengambil nama Masjid Sakaya Datokarama,” katanya.
Lebih lanjut, Mahdiyaris menjelaskan bahwa penggunaan istilah Sakaya bukan sekadar nama, melainkan mewakili makna budaya dan sejarah masyarakat setempat.
“Mengapa kami mengambil nama Masigi Sakaya, tidak menyebut Masjid Sakaya karena Sakaya dalam bahasa Kaili berarti perahu. Jadi kami ambil nama Masjid Sakaya saja, tetap menggunakan bahasa Kaili. Kalau dalam bahasa Indonesia kan berarti Masjid Perahu,” jelasnya.
Ia menambahkan, bentuk sakaya dipilih karena berkaitan langsung dengan latar belakang masyarakat Lere yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan.
“Sehingga masjid ini berbentuk Sakaya atau perahu, karena tadi cerita-cerita dari Syekh Datokarama, kemudian juga aktivitas kami di Keluarga Iriri banyak sebagai nelayan, maka itu yang kami ambil, bahwa masjid ini harus kita bentuk dalam bentuk perahu atau Sakaya,” sambungnya.
Pembangunan Masigi Sakaya dimulai pada tahun 2021. Bahkan, meski masih dalam kondisi sederhana, masjid tersebut sudah digunakan warga untuk beribadah.
“Kami mulai membangun sejak 2021. Tepatnya pada tanggal 6 Mei, 23 Ramadhan, masjid ini sudah digunakan. Tarawih malam ke-23 kami sudah gunakan masjid ini, tapi masih berbentuk sederhana,” ungkap Mahdiyaris.
Perkembangan desain masjid terus berproses hingga akhirnya pada tahun 2024 bentuknya benar-benar menyerupai perahu.
“Baru pada tahun 2024 yang lalu, oleh Kakak Didi Liskandar, akhirnya berbentuk seperti ini desain Sakayanya, dan memang betul-betul mirip Sakaya,” ujarnya.
Ia mengaku sangat bersyukur karena Masigi Sakaya kini menjadi ikon warga Kelurahan Lere.
“Itulah yang membuat hati kami sangat senang, karena ini menjadi ikon kami di Kelurahan Lere dan juga menggambarkan aktivitas kami di sini sebagai nelayan melalui bentuk Sakayanya,” katanya.
Masjid ini berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 200 meter persegi, dengan daya tampung sekitar 80 hingga 100 jamaah.
Seluruh biaya pembangunannya ditanggung oleh Haji Ahmad M. Ali.
“Untuk luasannya sekitar 200 meter persegi. Daya tampungnya sekitar 80 sampai 100 orang,” jelas Mahdiyaris.
Ia menegaskan bahwa pembangunan masjid tidak berasal dari penggalangan dana masyarakat umum, melainkan sepenuhnya ditanggung oleh satu pihak.
“Semua ditanggung oleh Bapak Haji Ahmad Ali,” ujarnya.
Dengan berdirinya Masigi Sakaya, warga Lere kini memiliki rumah ibadah yang tidak hanya berfungsi secara spiritual, tetapi juga merepresentasikan jati diri, sejarah, serta hubungan erat mereka dengan laut dan perahu sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. (Rul/Nl)










