- Situasi di Nunu dan Anoa Berangsur Kondusif, Satu Terduga Pelaku Telah Diamankan
- Pamit Lewat Facebook, Nanik Sudaryati Deyang Umumkan Mundur sebagai Kepala BGN
- Kemenkeu Terbitkan Aturan Baru, TNI-Polri Kini Dilibatkan Awasi Wajib Pajak
- Kota Palu Jadi Daerah dengan Pengeluaran Rokok Terendah di Sulteng
- Ingin Lepas Status WNI? Kini Dikenai Biaya Rp5 Juta Berdasarkan PP Terbaru
- Aktivitas Gempa di Sulteng Terus Menurun, Kini Kurang dari 200 Kali dalam Sepekan
- Siap-Siap! 33 Juta Keluarga Bakal Dapat Beras Gratis 30 Kg Mulai Agustus
- Makin Irit! Pertamina Turunkan Harga Tabung Bright Gas 12 Kg dan 5,5 Kg
- Program Berani Panen Raya Dikebut, Produktivitas Padi Sulteng Ditargetkan 6 Ton per Hektare
- Pemerintah Tetapkan Harga Khusus Solar bagi Nelayan, Kini Rp15 Ribu per Liter
Palu Peringati 21 Tahun Penembakan Pdt. Susianti Tinulele, Serukan Pesan Damai dan Toleransi

Keterangan Gambar : Warga Kota Palu memperingati 21 tahun penembakan terhadap Pendeta Susianti Tinulele, Jumat (18/7). (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu — Warga Kota Palu memperingati 21 tahun penembakan terhadap Pendeta Susianti Tinulele dengan serangkaian kegiatan yang berlangsung khidmat, Jumat (18/7).
Acara utama digelar di depan Monumen Rekonsiliasi, Gereja Effatha Palu, dan dihadiri unsur pemerintah serta tokoh lintas agama.
Baca Lainnya :
- Harga Beras Melonjak, Bulog Sulteng Pastikan Stok Aman hingga Tahun Depan
- Pemkot Palu dan Bulog Salurkan 4,4 Ton Beras Bantuan ke Warga Kelurahan Baru
- BMA Sulteng Siapkan Pelaksanaan Sanksi Adat Terhadap Gus Fuad Pleret
- Warga Keluhkan Dugaan Nepotisme dalam Penyaluran Bantuan UMKM di Palu
- Rp5, 2 Miliar Terancam Raib, Satgas Pasti Ungkap Praktik Impersonasi OMC di Palu
Peringatan yang rutin digelar setiap tahun itu terdiri atas tabur bunga di makam almarhumah pada pagi hari dan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) pada malam harinya.
KKR dipimpin langsung oleh Pdt. Yandi Madombe, S.Th.
Ketua Jemaat Gereja Effatha Palu, Pdt. Deniys Montolu, menegaskan bahwa peringatan ini lebih dari sekadar rutinitas keagamaan, tetapi menjadi ruang refleksi atas pentingnya membangun kehidupan sosial yang damai dan penuh toleransi.
"Konflik di masa lalu adalah pelajaran berharga yang menguatkan iman dalam Kristus. Melalui peringatan ini, kita terus berkomitmen membangun hubungan sosial yang rukun dan damai, serta mempersiapkan generasi gereja yang teguh dan kuat dalam kasih," ujarnya.
Tragedi yang merenggut nyawa Pdt. Susianti Tinulele pada 2004 silam kini menjadi simbol perjuangan dalam pelayanan dan keberanian menghadapi situasi konflik.
Peringatan tahun ini kembali menegaskan pentingnya menjaga nilai-nilai damai, toleransi, dan persatuan di tengah masyarakat yang majemuk. (Rul)


.jpg)







