- Aktivitas Gempa di Sulteng Terus Menurun, Kini Kurang dari 200 Kali dalam Sepekan
- Siap-Siap! 33 Juta Keluarga Bakal Dapat Beras Gratis 30 Kg Mulai Agustus
- Makin Irit! Pertamina Turunkan Harga Tabung Bright Gas 12 Kg dan 5,5 Kg
- Program Berani Panen Raya Dikebut, Produktivitas Padi Sulteng Ditargetkan 6 Ton per Hektare
- Pemerintah Tetapkan Harga Khusus Solar bagi Nelayan, Kini Rp15 Ribu per Liter
- DPR RI Tinjau Sekolah Rakyat di Palu, 183 Anak Kurang Mampu Kini Dapat Akses Pendidikan
- Melaut Saat Cuaca Buruk, Nelayan di Banggai Laut Hilang Kontak
- Kurs Rupiah Melemah, Biaya Haji 2027 Diusulkan Naik Jadi Rp107,3 Juta
- Mendagri Tegaskan Pemda Tak Boleh Rumahkan PPPK karena Alasan Anggaran
- Aktivitas Gempa di Sulteng Menurun, BMKG Catat 282 Kejadian dalam Sepekan
Bahasa Daerah di Sulteng Terancam Punah, Balai Bahasa Perkuat Pengawasan Bahasa
.jpg)
Keterangan Gambar : Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafiz Muksin. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu – Fenomena penggunaan bahasa Indonesia yang bercampur istilah asing kian marak di ruang publik Sulawesi Tengah.
Dari papan nama, slogan, hingga penyampaian pejabat, kata-kata asing lebih sering dipilih meski sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia.
Baca Lainnya :
- Kebakaran Hanguskan Lima Petak Kos di Jalan Banteng II Palu, Diduga Korsleting Listrik
- Besaran Upah Buruh Tani di Sulteng, Ada yang Lebih Tinggi dari UMP
- SMPN 19 Palu dan SD Putra Kaili Permata Bangsa Resmi Jadi Sekolah Percontohan Trigatra Bangun Bahasa
- Petugas Rutan Poso Gagalkan Penyelundupan Handphone oleh Tahanan
- Harga Lebih Murah, Warga Padati Pasar Tani Kota Palu
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafiz Muksin, menyebut kondisi ini menjadi tantangan serius bagi kedaulatan bahasa nasional.
“Penggunaan istilah-istilah asing sering kita jumpai dalam tataran penulisan di ranah publik, bahkan digunakan oleh pejabat publik,” ujarnya saat menghadiri Konsolidasi Daerah Pengawasan Bahasa Indonesia di Palu, Kamis (25/9/2025).
Di sisi lain, bahasa daerah di Sulawesi Tengah juga menghadapi ancaman kepunahan.
Sejumlah bahasa lokal seperti di Morowali Utara serta Tolitoli dan di Poso kini hanya dituturkan oleh sedikit orang.
Hafiz menegaskan, generasi muda makin jarang menggunakan bahasa ibu, sehingga keberadaan muatan lokal di sekolah sangat penting.
Ia menambahkan, “Anak-anak kita sudah mulai tidak mengenal bahasa daerah, sehingga upaya sekolah dengan kurikulum muatan lokal dan program revitalisasi bahasa daerah menjadi wujud nyata yang kita lakukan.”
Sebagai langkah menjaga keberlangsungan bahasa, pemerintah provinsi bersama Balai Bahasa membentuk tim pengawasan penggunaan bahasa Indonesia di lingkungan pemerintah, pendidikan, dan swasta.
Tim ini akan bekerja dalam empat tahap, mulai dari sosialisasi hingga evaluasi.
Hafiz menjelaskan bahwa hasil evaluasi nantinya akan diwujudkan dalam penghargaan.
“Pada akhirnya kita akan melakukan evaluasi melalui Piala Adi Bahasa, jadi akan dipilih gubernur atau provinsi, bupati, wali kota yang memiliki komitmen tinggi terhadap pengutamaan bahasa Indonesia,” katanya.
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, menegaskan dukungan terhadap upaya tersebut.
Ia mengatakan pemerintah provinsi akan mengeluarkan edaran kepada bupati, wali kota, satuan pendidikan, dan masyarakat agar menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
“Bahasa itu salah, bisa menimbulkan hal yang berbahaya. Karena itu, kita juga harus menjaga kelestarian bahasa Indonesia yang sekarang ini banyak sekali campuran-campurannya,” ungkap Anwar.
Dengan 718 bahasa daerah di Indonesia, 120 di antaranya sudah masuk kategori terancam punah.
Sulawesi Tengah menjadi salah satu provinsi yang rentan kehilangan bahasa daerahnya jika tidak segera dilakukan upaya pelestarian. (Rul/Nl)










