- Ketua DPRD se-Sulteng Dorong Penguatan Sinergi Pembangunan Daerah
- 459 Ton Durian Sulteng Diekspor ke Tiongkok, Digadang Jadi Ikon Baru Nasional
- Pemerintah Buka 35 Ribu Loker KDKMP dan KNMP, Pelamar yang Lolos Jadi Pegawai BUMN
- Ketika Pemerintah Daerah Menyewa Influencer, Sebuah Jalan Pintas?
- Ketua DPRD Kota Palu Ikuti Retret Ketua DPRD se-Indonesia di Akmil Magelang
- Gubernur Anwar Hafid Ungkap Rencana Alun-alun Ikonik di Palu, Konsepnya Mirip Halaman Istana Negara
- Nambaso Fest 2026 Resmi Dibuka, Digelar Meriah Tanpa Membebani Anggaran Daerah
- HUT ke-62 Sulteng, Gubernur Tekankan Pemerataan Kesejahteraan di Seluruh Daerah
- Turun Langsung ke Desa Dalaka, Gubernur Sulteng Tancap Gas Perbaiki Jalan dan Layanan Warga
- Liga 4 Piala Gubernur Sulteng Resmi Bergulir, Talenta Muda Didorong Berprestasi Lewat Sepak Bola
Banua Oge Sauraja: Warisan 143 Tahun yang Terus Hidup di Tengah Kota Palu

Keterangan Gambar : Banua Oge Sauraja. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu – Di tengah perkembangan Kota Palu yang semakin modern, bangunan berusia lebih dari satu abad masih berdiri kokoh di Kampung Lere.
Banua Oge Sauraja, bekas rumah Kerajaan Palu yang dibangun pada tahun 1892, kini menjadi salah satu cagar budaya penting di Sulawesi Tengah sekaligus destinasi wisata sejarah yang ramai dikunjungi.
Baca Lainnya :
- Pembangunan IKN Melambat, Penerimaan Pajak Galian C Palu Anjlok
- Kaili Jadi Salah Satu Etnis Paling Banyak di Indonesia, Masuk 25 Besar
- BKSDA Selidiki Penyebab Kematian Buaya Muara yang Terdampar di Teluk Palu
- Wakapolda Sulteng Tegaskan Larangan Pungli Saat Operasi Zebra Tinombala 2025
- Operasi Zebra Tinombala 2025 Dimulai, Roda Dua Jadi Prioritas Penindakan
Pengawas Cagar Budaya Kota Palu, Mehdiantara Datupalinge, menjelaskan bahwa Banua Oge Sauraja merupakan rumah adat yang memegang peran besar dalam sejarah pemerintahan lokal.
“Cagar Budaya Banua Oge Sauraja merupakan eks Kerajaan Palu yang dimana berdiri pada tahun 1892 dan sekarang menjadi cagar budaya Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah,” ujarnya diwawancarai media ini di lokasi, Selasa (18/11) pagi.
Bangunan ini dulunya berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga raja sekaligus pusat pemerintahan.
Seluruh komponennya terbuat dari material kayu, dengan perpaduan arsitektur dua daerah.
Mehdiantara menyebut rumah adat tersebut menggabungkan unsur budaya Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan.
Ia menambahkan bahwa salah satu ciri khasnya tampak pada struktur tangga.
“Di satu sisi rumah ini memiliki dua buah anak tangga kanan dan kiri dengan jumlah anak tangga itu ganjil,” katanya.
Keberadaan Banua Oge Sauraja juga menjadi bukti ketahanan arsitektur tradisional terhadap bencana.
Mehdiantara menjelaskan bahwa pascagempa Palu pada 2018, bangunan ini menjadi contoh edukasi mengenai kekuatan konstruksi rumah adat.
Rumah ini disebutnya sebagai bukti bahwa sistem bangunan tradisional mampu bertahan dari guncangan gempa.
Kini, fungsi Banua Oge Sauraja berkembang sebagai ruang publik budaya.
Gedung yang dulu digunakan untuk urusan kerajaan dan sidang adat, kini menjadi lokasi berbagai kegiatan seni, sosial, keagamaan, hingga event budaya.
Menurut Mehdiantara, bangunan itu memiliki sifat living monument, yaitu cagar budaya yang hidup dan aktif digunakan masyarakat.
“Berhubung rumah ini memiliki sifat living monumen, akhirnya ruang ini bisa menjadi ruang publik bukan hanya persoalan sidang adat tapi event yang berbau kesenian, sosial, keagamaan maupun budaya,” jelasnya.
Selain menjadi pusat kegiatan masyarakat, Banua Oge Sauraja juga menjadi lokasi edukasi sejarah yang penting bagi generasi muda.
Mehdiantara berharap situs-situs tua di Palu terus dirawat dan dimaksimalkan untuk pembelajaran sejarah.
“Harapannya ke depan agar situs-situs, peradaban-peradaban tua bisa menjadi salah satu edukasi untuk masa depan, untuk generasi muda,” tutupnya. (Rul/Nl)










