- Harga BBM Pertamina per 1 Juni Berubah, Pertamax Turbo Naik
- Sulteng Masuk Daerah Terbaik Pengendalian Inflasi di Sulawesi, Dapat Insentif Rp2 Miliar
- Palu dan Morowali Masuk Daerah Tujuan Migrasi Tertinggi di Sulteng
- Wakil Ketua MPR RI Akbar Supratman Sumbang Sapi Kurban di Masjid Raya Baitul Khairaat
- Kemendikdasmen Perbarui Kebijakan, Masuk SD Tak Lagi Harus Menunggu 7 Tahun
- Kendaraan di Palu Kini Wajib Menggunakan Plat Nomor Daerah
- Mandi Laut Usai Subuh, Warga Palu Barat Tewas Tenggelam di Kampung Nelayan
- Demi Efisiensi, Anggaran MBG 2026 Dipangkas Rp67 Triliun
- Siap-Siap Cair, Gaji Ke-13 ASN hingga Polri Mulai Dibayarkan Juni 2026
- Pusat Medis Modern di Cina Jadi Inspirasi Pengembangan Kesehatan di Sulteng
Cuaca Panas Ekstrem Landa Palu, BMKG: Masih dalam Batas Normal
.jpg)
Keterangan Gambar : Prakirawan cuaca Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu, Ahmad Reza Agung Laksono. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu – Fenomena cuaca panas ekstrem tengah melanda sejumlah wilayah di Indonesia dalam beberapa pekan terakhir.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, suhu udara di beberapa kota besar bahkan menembus lebih dari 37 derajat Celsius akibat pergerakan semu matahari yang kini berada di selatan katulistiwa.
Baca Lainnya :
- Geger! Warga Palupi Temukan Pria Tewas dengan Luka di Pelipis
- DPRD Palu Soroti Efisiensi Anggaran, Minta Layanan Disabilitas Tak Terdampak
- Program GENTING di Sulteng Sudah Jangkau 14 Ribu Keluarga Berisiko Stunting
- Pulang dari PON Bela Diri 2025 di Kudus, Atlet Judo dan Gulat Sulteng Apresiasi Dukungan KONI
- Tenun Lokal Palu Akan Dilindungi Lewat Perda Pelestarian Budaya
Kondisi serupa juga terjadi di Kota Palu. Dalam tiga hari terakhir, suhu maksimum di wilayah ini mencapai 35 derajat Celsius dengan udara terasa lebih panas dan kering dari biasanya.
Prakirawan cuaca Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu, Ahmad Reza Agung Laksono, menjelaskan bahwa peningkatan suhu di Kota Palu masih tergolong normal.
Fenomena tersebut, kata dia, merupakan dampak langsung dari pergerakan semu matahari.
“Sebenarnya ini fenomena dari pergerakan semu matahari. Saat ini matahari berada di selatan katulistiwa, jadi wilayah tengah hingga selatan Indonesia, termasuk Palu, terasa lebih panas dari biasanya,” ujar Reza saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (20/10) pagi.
Reza menambahkan, suhu panas di Palu juga dipengaruhi oleh angin timur yang membawa massa udara kering dari Australia.
Kondisi ini menyebabkan pembentukan awan berkurang, sehingga hujan mulai jarang turun dan udara terasa lebih terik saat siang hari.
Ia menjelaskan, suhu maksimum di Palu yang mencapai 35 derajat Celsius masih tergolong dalam batas wajar.
“Untuk daerah Palu, suhu puncaknya mencapai 35 derajat. Masih tergolong normal. Fenomena ini diperkirakan berlangsung hingga akhir Oktober atau awal November,” katanya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap dampak cuaca panas, terutama saat beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.
Warga diimbau menjaga kondisi tubuh dengan memperbanyak konsumsi air dan menghindari paparan sinar matahari langsung dalam waktu lama.
Fenomena cuaca panas ini diperkirakan akan berakhir saat awal musim hujan tiba, sekitar akhir Oktober hingga awal November mendatang. (Rul/Nl)










