- Aktivitas Gempa di Sulteng Terus Menurun, Kini Kurang dari 200 Kali dalam Sepekan
- Siap-Siap! 33 Juta Keluarga Bakal Dapat Beras Gratis 30 Kg Mulai Agustus
- Makin Irit! Pertamina Turunkan Harga Tabung Bright Gas 12 Kg dan 5,5 Kg
- Program Berani Panen Raya Dikebut, Produktivitas Padi Sulteng Ditargetkan 6 Ton per Hektare
- Pemerintah Tetapkan Harga Khusus Solar bagi Nelayan, Kini Rp15 Ribu per Liter
- DPR RI Tinjau Sekolah Rakyat di Palu, 183 Anak Kurang Mampu Kini Dapat Akses Pendidikan
- Melaut Saat Cuaca Buruk, Nelayan di Banggai Laut Hilang Kontak
- Kurs Rupiah Melemah, Biaya Haji 2027 Diusulkan Naik Jadi Rp107,3 Juta
- Mendagri Tegaskan Pemda Tak Boleh Rumahkan PPPK karena Alasan Anggaran
- Aktivitas Gempa di Sulteng Menurun, BMKG Catat 282 Kejadian dalam Sepekan
Cuaca Panas Ekstrem Landa Palu, BMKG: Masih dalam Batas Normal
.jpg)
Keterangan Gambar : Prakirawan cuaca Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu, Ahmad Reza Agung Laksono. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu – Fenomena cuaca panas ekstrem tengah melanda sejumlah wilayah di Indonesia dalam beberapa pekan terakhir.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, suhu udara di beberapa kota besar bahkan menembus lebih dari 37 derajat Celsius akibat pergerakan semu matahari yang kini berada di selatan katulistiwa.
Baca Lainnya :
- Geger! Warga Palupi Temukan Pria Tewas dengan Luka di Pelipis
- DPRD Palu Soroti Efisiensi Anggaran, Minta Layanan Disabilitas Tak Terdampak
- Program GENTING di Sulteng Sudah Jangkau 14 Ribu Keluarga Berisiko Stunting
- Pulang dari PON Bela Diri 2025 di Kudus, Atlet Judo dan Gulat Sulteng Apresiasi Dukungan KONI
- Tenun Lokal Palu Akan Dilindungi Lewat Perda Pelestarian Budaya
Kondisi serupa juga terjadi di Kota Palu. Dalam tiga hari terakhir, suhu maksimum di wilayah ini mencapai 35 derajat Celsius dengan udara terasa lebih panas dan kering dari biasanya.
Prakirawan cuaca Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu, Ahmad Reza Agung Laksono, menjelaskan bahwa peningkatan suhu di Kota Palu masih tergolong normal.
Fenomena tersebut, kata dia, merupakan dampak langsung dari pergerakan semu matahari.
“Sebenarnya ini fenomena dari pergerakan semu matahari. Saat ini matahari berada di selatan katulistiwa, jadi wilayah tengah hingga selatan Indonesia, termasuk Palu, terasa lebih panas dari biasanya,” ujar Reza saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (20/10) pagi.
Reza menambahkan, suhu panas di Palu juga dipengaruhi oleh angin timur yang membawa massa udara kering dari Australia.
Kondisi ini menyebabkan pembentukan awan berkurang, sehingga hujan mulai jarang turun dan udara terasa lebih terik saat siang hari.
Ia menjelaskan, suhu maksimum di Palu yang mencapai 35 derajat Celsius masih tergolong dalam batas wajar.
“Untuk daerah Palu, suhu puncaknya mencapai 35 derajat. Masih tergolong normal. Fenomena ini diperkirakan berlangsung hingga akhir Oktober atau awal November,” katanya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap dampak cuaca panas, terutama saat beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.
Warga diimbau menjaga kondisi tubuh dengan memperbanyak konsumsi air dan menghindari paparan sinar matahari langsung dalam waktu lama.
Fenomena cuaca panas ini diperkirakan akan berakhir saat awal musim hujan tiba, sekitar akhir Oktober hingga awal November mendatang. (Rul/Nl)










