- Viral Juri Cerdas Cermat Salahkan Jawaban Benar, Wakil Ketua MPR Minta Maaf
- 62 Pasangan di Palu Kini Punya Legalitas Resmi Usai Ikut Isbat Nikah Massal
- Kabur Lintas Kota, Pendiri Ponpes Tersangka Pemerkosaan Akhirnya Ditangkap
- Ribuan Calon Jemaah Haji Sulteng Mulai Diberangkatkan ke Tanah Suci
- Didominasi Anak Muda, Penduduk Sulteng Mayoritas Berasal dari Gen Z
- Wajib Belajar 12 Tahun, Anak Putus Sekolah Kini Ditangani lewat Perpres Baru
- Pertamina Resmi Naikkan Harga BBM Non Subsidi, Dexlite Tembus Rp26 Ribu Per Liter
- Gubernur Sulteng Ingatkan Perusahaan untuk Tidak Abaikan Keselamatan Pekerja
- Hardiknas 2026, Pemerintah Dorong Penerapan Deep Learning di Satuan Pendidikan
- Pembayaran Honorer di Sulteng Ditarget Tertib dan Merata, Gubernur Pastikan Tanpa Ketimpangan
Kasus HIV dan Malaria Meningkat di Sulteng Sepanjang 2025, Sejumlah Daerah Masuk KLB

Keterangan Gambar : Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu – Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah mencatat peningkatan sejumlah penyakit menular sepanjang tahun 2025.
Dua penyakit yang paling menonjol adalah HIV dan malaria, dengan lonjakan kasus yang terjadi di beberapa wilayah dan sebagian di antaranya telah ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB).
Baca Lainnya :
- FKM Untad Gelar Advokasi Kesehatan Mental dan Generasi Bebas Narkoba di Palu
- 485 Atlet Cilik Ikuti Open Karate Forki Palu, Fokus Penjaringan Usia Dini
- Warga Mulai Berburu Suguhan Natal di Ritel Modern, Snack dan Kue Kering Jadi Incaran
- Polres Touna Salurkan Bansos untuk Keluarga Eks Napiter
- Pemprov Sulteng Lakukan Sinkronisasi Program Pelibatan Lembaga Adat dengan Pemerintah Daerah
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dr. Jumriani, mengatakan kasus HIV menunjukkan tren peningkatan dalam tiga tahun terakhir.
Pada 2023, temuan kasus berada di kisaran 680-an, kemudian meningkat pada 2024 menjadi sekitar 702 kasus.
“Tahun 2023 sekitar 680-an kasus, 2024 meningkat menjadi sekitar 702 kasus, dan 2025 hingga November sudah berada di angka 700-an, sehingga kemungkinan besar akan melebihi tahun 2024,” ujar dr. Jumriani saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (15/12/2025).
Ia menjelaskan, peningkatan kasus HIV paling signifikan terjadi di tiga wilayah, yakni Kota Palu, Kabupaten Banggai, dan Kabupaten Morowali.
Menurutnya, lonjakan di wilayah tersebut memang cukup tinggi dibanding daerah lain di Sulawesi Tengah.
Selain HIV, Dinas Kesehatan juga mencatat peningkatan kasus malaria yang terjadi di sejumlah kabupaten hingga masuk kategori KLB.
Kabupaten Parigi Moutong menjadi salah satu daerah yang telah ditetapkan dalam status tanggap darurat bencana KLB malaria.
“Ada beberapa kabupaten yang melaporkan peningkatan kasus malaria hingga masuk kategori KLB, salah satunya di Kabupaten Parigi Moutong,” kata dr. Jumriani.
Ia menambahkan, laporan peningkatan kasus malaria juga datang dari Kabupaten Tolitoli, Kabupaten Buol, dan Kabupaten Tojo Una-Una.
Di Kabupaten Tolitoli, jumlah kasus yang dilaporkan telah mencapai sekitar 60 kasus lebih, sehingga memerlukan penanganan lebih lanjut.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah telah menurunkan tim penyelidikan epidemiologi ke wilayah terdampak.
Penyelidikan dilakukan untuk memastikan pola penyebaran dan sumber penularan penyakit, termasuk memastikan apakah kasus telah menyebar ke masyarakat luas.
“Pada tanggal 15 Desember kami menurunkan tim untuk melakukan penyelidikan epidemiologi di wilayah Tolitoli,” ujarnya.
Dr. Jumriani juga mengungkapkan, sebagian besar kasus malaria yang ditemukan berada di sekitar kawasan pertambangan.
Kondisi serupa terjadi di Parigi Moutong dan Kabupaten Buol, di mana aktivitas tambang menjadi salah satu faktor risiko penyebaran penyakit.
Selain malaria dan HIV, Dinas Kesehatan juga menerima laporan peningkatan kasus yang berkaitan dengan kejadian di area tertentu, termasuk yang berhubungan dengan pemberian makanan kepada anak-anak sekolah.
Meski hasil pemeriksaan tidak mengarah pada kondisi serius, laporan tersebut tetap menjadi perhatian karena terjadi di beberapa kabupaten.
Untuk penanganan, Dinas Kesehatan Provinsi telah berkoordinasi dengan seluruh pemerintah kabupaten dan kota.
Khusus malaria, pemerintah provinsi menyalurkan logistik kesehatan seperti obat-obatan, rapid diagnostic test (RDT), dan kelambu berinsektisida yang diperoleh melalui dropping dari pemerintah pusat.
“Kami telah membantu penyaluran logistik seperti obat-obatan, RDT, serta kelambu berinsektisida ke kabupaten yang membutuhkan,” kata dr. Jumriani.
Ia menambahkan, hingga saat ini seluruh kasus yang dilaporkan telah ditangani sesuai prosedur.
Pemerintah daerah juga terus melakukan pemantauan dan penguatan upaya pencegahan, terutama di wilayah dengan risiko tinggi penyebaran penyakit. (Rul/Nl)




.jpg)





