- Aktivitas Gempa di Sulteng Terus Menurun, Kini Kurang dari 200 Kali dalam Sepekan
- Siap-Siap! 33 Juta Keluarga Bakal Dapat Beras Gratis 30 Kg Mulai Agustus
- Makin Irit! Pertamina Turunkan Harga Tabung Bright Gas 12 Kg dan 5,5 Kg
- Program Berani Panen Raya Dikebut, Produktivitas Padi Sulteng Ditargetkan 6 Ton per Hektare
- Pemerintah Tetapkan Harga Khusus Solar bagi Nelayan, Kini Rp15 Ribu per Liter
- DPR RI Tinjau Sekolah Rakyat di Palu, 183 Anak Kurang Mampu Kini Dapat Akses Pendidikan
- Melaut Saat Cuaca Buruk, Nelayan di Banggai Laut Hilang Kontak
- Kurs Rupiah Melemah, Biaya Haji 2027 Diusulkan Naik Jadi Rp107,3 Juta
- Mendagri Tegaskan Pemda Tak Boleh Rumahkan PPPK karena Alasan Anggaran
- Aktivitas Gempa di Sulteng Menurun, BMKG Catat 282 Kejadian dalam Sepekan
Kasus HIV di Sulteng Tembus 700 pada 2025, Palu Masih Tertinggi

Keterangan Gambar : Ilustrasi seorang tenaga medis memegang hasil pemeriksaan positif HIV. (Foto: iStockphoto)
Likeindonesia.com, Palu – Jumlah kasus HIV di Provinsi Sulawesi Tengah kembali menunjukkan tren peningkatan pada 2025.
Hingga awal Januari, temuan kasus tercatat telah melampaui angka 700, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Lainnya :
- Muhammad Iqbal–Abdullah K Mari Kembali Pimpin AMSI Sulteng Periode 2026–2030
- Siti Maharani Berhasil Melaju di Seleknas Taekwondo 2026, Ketua KONI Sulteng Siap Dukung Penuh
- Masih Ada Ribuan Pekerja di Palu Bergaji di Bawah Rp500 Ribu per Bulan
- Kawasan UMKM di Kampung Nelayan Talise Akan Ditata Ulang
- Tak Sekadar Event, PORPROV 2026 di Morowali Ditargetkan Bangkitkan Prestasi Atlet Daerah
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dr. Jumriani, mengatakan jumlah tersebut masih bersifat sementara karena laporan dari sejumlah kabupaten dan kota belum seluruhnya terkumpul.
“Lebih daripada 700 artinya lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya penemuannya,” ujar dr. Jumriani, Sabtu (10/1/2026).
Ia menjelaskan, pada 2024 jumlah kasus HIV di Sulawesi Tengah tercatat sebanyak 702 kasus, meningkat dari tahun 2023 yang berada di kisaran 600-an kasus.
Sementara pada 2025, hingga awal Januari, jumlah kasus kembali menunjukkan kenaikan.
“Penemuan kasus yang sebelum kan 600 lebih, terus tahun 2024 kemarin 702, nah sekarang kita kumpulkan nanti sampai tanggal 9 Januari nanti ini, itu belum terkumpul semuanya. Laporan terakhir itu kayaknya lebih dari 700-an,” katanya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, Kota Palu masih menjadi daerah dengan jumlah kasus HIV tertinggi.
Pada 2024, Kota Palu mencatat 326 kasus, dan pada periode Januari hingga Mei 2025 sudah ditemukan 150 kasus.
Selain Kota Palu, Kabupaten Banggai dan Kabupaten Morowali juga tercatat sebagai wilayah dengan angka kasus tinggi.
“Yang signifikan paling meningkat ya Kota Palu, ada tiga kabupaten memang yang selalu tinggi, Kota Palu, Kabupaten Banggai, kemudian Morowali,” ujar dr. Jumriani.
Ia menambahkan, tingginya angka penemuan kasus tidak terlepas dari pemeriksaan yang rutin dilakukan, terutama pada kelompok sasaran tertentu.
Menurutnya, upaya deteksi dini justru penting untuk memutus rantai penularan.
Pemeriksaan HIV, kata dia, dilakukan secara berkala di kabupaten dan kota, terutama pada populasi kunci yang memiliki risiko lebih tinggi.
“Memang ada rutin dilakukan pemeriksaan ya, terutama yang ada di kabupaten kota, untuk menemukan kasus tersebut. Ada populasi-populasi kunci yang harus tetap dilakukan pemeriksaan,” jelasnya.
Lebih lanjut, dr. Jumriani menegaskan bahwa fokus utama pemerintah daerah adalah menemukan kasus sedini mungkin agar segera ditangani dan tidak menularkan kepada orang lain.
“Tetap menemukan kasus ya, menemukan kasus dengan cepat dan mengobatinya, intinya di situ,” katanya.
Menurutnya, pemeriksaan menjadi langkah awal untuk memastikan kondisi pasien sekaligus menentukan tindak lanjut pengobatan.
“Melakukan pemeriksaan terlebih dahulu jadi kita tahu apakah yang terkena atau positif ini apakah masih bisa menularkan ke yang lain atau tidak,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan pengobatan dan edukasi kepada kelompok berisiko agar penularan dapat ditekan.
“Pengobatannya jangan sampai terputus, terus lakukan edukasi kepada populasi seks tersebut supaya lebih safe dalam beraktivitas,” tutup dr. Jumriani. (Rul/Nl)










