- Ketua DPRD se-Sulteng Dorong Penguatan Sinergi Pembangunan Daerah
- 459 Ton Durian Sulteng Diekspor ke Tiongkok, Digadang Jadi Ikon Baru Nasional
- Pemerintah Buka 35 Ribu Loker KDKMP dan KNMP, Pelamar yang Lolos Jadi Pegawai BUMN
- Ketika Pemerintah Daerah Menyewa Influencer, Sebuah Jalan Pintas?
- Ketua DPRD Kota Palu Ikuti Retret Ketua DPRD se-Indonesia di Akmil Magelang
- Gubernur Anwar Hafid Ungkap Rencana Alun-alun Ikonik di Palu, Konsepnya Mirip Halaman Istana Negara
- Nambaso Fest 2026 Resmi Dibuka, Digelar Meriah Tanpa Membebani Anggaran Daerah
- HUT ke-62 Sulteng, Gubernur Tekankan Pemerataan Kesejahteraan di Seluruh Daerah
- Turun Langsung ke Desa Dalaka, Gubernur Sulteng Tancap Gas Perbaiki Jalan dan Layanan Warga
- Liga 4 Piala Gubernur Sulteng Resmi Bergulir, Talenta Muda Didorong Berprestasi Lewat Sepak Bola
Mulai 2026, Pesawat di Indonesia Bakal Terbang Pakai Bahan Bakar dari Minyak Jelantah
.jpg)
Keterangan Gambar : Petugas Pertamina mengisi bahan bakar pesawat. (Foto: sttkd.ac.id)
Likeindonesia.com, Jakarta — Pemerintah menargetkan penerapan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar ramah lingkungan untuk penerbangan di Indonesia mulai tahun 2026. Salah satu bahan baku utama yang akan digunakan adalah minyak jelantah, hasil pengolahan dari limbah rumah tangga maupun industri makanan.
Menurut Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Edi Wibowo, pemerintah saat ini tengah memfinalisasi regulasi penahapan implementasi Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Baca Lainnya :
- Gagal Bawa Garuda ke Piala Dunia 2026, Patrick Kluivert Resmi Dipecat PSSI
- Kapan Cuaca Panas Berakhir? BMKG: Awal November Mulai Mereda
- Siap-Siap! Pemerintah Bakal Uji Coba BBM Etanol E10, Dirancang Sesuai Iklim Tropis Indonesia
- Lulusan Baru Wajib Tahu! Magang Berbayar Diperpanjang hingga 15 Oktober
- Produk Tanpa Sertifikat Halal Bakal Dinyatakan Ilegal Mulai 2026
“Saat ini juga sedang disusun regulasi penahapan implementasi SAF, yang diusulkan dapat dimulai tahun 2026 dengan tahap awal implementasi sebesar 1 persen mengacu pada mekanisme mass balance melalui sertifikasi rantai suplai (skema CORSIA) untuk penerbangan internasional dari Jakarta (CGK) dan Denpasar (DPS),” ujar Edi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (16/10/2025), diutip dari detikFinance.
Edi menjelaskan, pemerintah juga menyiapkan peta jalan penggunaan SAF hingga 5 persen pada 2035.
Ia menilai, kolaborasi antara pemerintah, industri energi, dan maskapai menjadi kunci keberhasilan penerapan bahan bakar ramah lingkungan ini.
"Keberhasilan implementasi ini tentu membutuhkan dukungan kuat dari seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah, sektor swasta, industri energi, maupun maskapai," tuturnya.
Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, menyebut pengembangan SAF merupakan bagian dari komitmen menuju energi bersih sekaligus bentuk penerapan ekonomi sirkular.
“Indonesia memiliki keunggulan sebagai salah satu penghasil minyak jelantah terbesar, dan SAF menjadi solusi untuk mengubah limbah sehari-hari menjadi energi berkelanjutan yang bernilai ekonomi sekaligus mendukung masa depan yang lebih hijau,” jelasnya.
Pertamina Patra Niaga sebelumnya telah mendapatkan sertifikasi ISCC CORSIA dan ISCC EU untuk terminal bahan bakar pesawat di Bandara Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai pada 2024.
Pada 2025, Pertamina mulai memasok SAF berbasis minyak jelantah dari PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) untuk Pelita Air di Bandara Soekarno-Hatta, serta memperluas sertifikasi ke Bandara Halim Perdanakusuma. (Nul/Nl)










