- Karyawan Kafe di Palu Ditemukan Tewas Terjepit di Lift Barang, Jenazah Dipulangkan ke Tada
- KONI Sulteng Mulai Matangkan Persiapan Hadapi PON Pantai 2026
- Skema Bansos Berubah! Mulai 2027, Penerima Bakal Dapat Transfer Tunai
- Penerbangan Bandara IMIP ke Palu Resmi Beroperasi, Waktu Tempuh Hanya 45 Menit
- Ratusan PPPK Nakes Sulteng Minta Kepastian Status, Gubernur Langsung Hubungi Wamenkes
- Pertamina Minta Maaf, Rencana Wajib Tunjukkan STNK Saat Beli BBM Subsidi Dibatalkan
- 318 Kebakaran Terjadi di Palu hingga Agustus 2026, Mantikulore Tertinggi
- Mulai 15 September, Isi Biosolar di Sejumlah SPBU Wajib Bawa STNK
- Siap-Siap! Harga Tiket Pesawat Bisa Makin Mahal, Ini Aturan Baru Kemenhub
- Piala Soeratin Sulteng Resmi Bergulir, Gubernur Dorong Pembinaan Berjenjang Menuju PON 2028
Per 11 September, Kasus Malaria di Parigi Moutong Tembus 190

Keterangan Gambar : Kabid Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dr. Jumriani, saat diwawancarai di ruang kerjanya, Jumat (12/9) sore. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Parigi Moutong – Kasus malaria di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, melonjak drastis hingga mencapai 190 orang per 11 September 2025.
Sebagian besar penderita merupakan laki-laki usia produktif yang bekerja sebagai penambang.
Baca Lainnya :
- RS Bhayangkara Palu Hadirkan Terapi Hiperbarik, Bantu Pasien Diabetes hingga Stroke
- Viral Obat Rp2 Juta Untuk Balita, RSUD Undata Pastikan Tidak Ada Beban untuk Keluarga Pasien
- Gempa 4,8 SR Guncang Parigi Moutong, Terasa Hingga Palu dan Poso
- Inisiasi Kemah di Desa Taipa Obal, Fathur Razaq Satukan Pemuda dan Masyarakat
- Buronan Pencuri Uang Alfamidi Ampibabo Tak Berkutik Saat Disergap Polisi di Kota Palu
Kabid Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dr. Jumriani, mengungkap kasus pertama muncul pada Oktober 2024 yang dibawa pekerja tambang dari Kabupaten Pohuwato, Gorontalo.
“Sebenarnya seharusnya sudah tidak ada kasus malaria baru. Namun, pada Oktober 2024 ada laporan kasus impor dari Kabupaten Pohuwato yang saat itu sedang mengalami KLB malaria,” jelasnya diwawancarai di ruang kerjanya, Jumat (12/9) sore.
Kasus itu kemudian menular luas di wilayah tambang di Kecamatan Moutong.
Faktor lingkungan turut mempercepat penularan. Menurut hasil penyelidikan epidemiologi, banyak genangan air di bekas galian tambang yang tidak lagi digunakan.
“Saat hujan, lokasi itu tergenang air dan menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Akibatnya kasus malaria melonjak,” kata Jumriani.
Awalnya penyakit hanya menyerang pekerja tambang. Namun, ketika para penambang turun ke pemukiman untuk berobat, penularan menyebar ke masyarakat.
Dari 190 kasus, setiap hari masih ditemukan 1–2 kasus baru.
“Jenis malaria yang muncul bukanlah jenis baru, melainkan campuran antara vivax dan falciparum. Hingga kini belum ada pasien yang meninggal,” ujarnya.
Sejumlah langkah penanganan telah dilakukan, mulai dari pemeriksaan cepat (RDT), pembagian kelambu berinsektisida, hingga pemberian larvasida pada genangan air.
Pusat juga sudah tiga kali mendampingi penanganan di Parigi Moutong.
Meski begitu, tantangan masih ada karena sebagian besar pekerja tambang enggan menggunakan kelambu.
Selain Parigi Moutong, kasus malaria juga meningkat di Poso, meski belum ditetapkan status darurat.
Sementara di Sigi dan Donggala terjadi kenaikan kasus namun tidak signifikan, dan Kota Palu relatif aman dengan kasus kecil yang tidak mengkhawatirkan.
Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong menetapkan status siaga darurat penanganan KLB malaria sejak 14 Agustus hingga 12 September 2025.
Penetapan ini berdasarkan Keputusan Bupati yang memungkinkan penggunaan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk penanganan kasus, serta dapat diperpanjang sesuai kebutuhan di lapangan. (Rul/Nl)










