- Aktivitas Gempa di Sulteng Terus Menurun, Kini Kurang dari 200 Kali dalam Sepekan
- Siap-Siap! 33 Juta Keluarga Bakal Dapat Beras Gratis 30 Kg Mulai Agustus
- Makin Irit! Pertamina Turunkan Harga Tabung Bright Gas 12 Kg dan 5,5 Kg
- Program Berani Panen Raya Dikebut, Produktivitas Padi Sulteng Ditargetkan 6 Ton per Hektare
- Pemerintah Tetapkan Harga Khusus Solar bagi Nelayan, Kini Rp15 Ribu per Liter
- DPR RI Tinjau Sekolah Rakyat di Palu, 183 Anak Kurang Mampu Kini Dapat Akses Pendidikan
- Melaut Saat Cuaca Buruk, Nelayan di Banggai Laut Hilang Kontak
- Kurs Rupiah Melemah, Biaya Haji 2027 Diusulkan Naik Jadi Rp107,3 Juta
- Mendagri Tegaskan Pemda Tak Boleh Rumahkan PPPK karena Alasan Anggaran
- Aktivitas Gempa di Sulteng Menurun, BMKG Catat 282 Kejadian dalam Sepekan
Per 11 September, Kasus Malaria di Parigi Moutong Tembus 190

Keterangan Gambar : Kabid Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dr. Jumriani, saat diwawancarai di ruang kerjanya, Jumat (12/9) sore. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Parigi Moutong – Kasus malaria di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, melonjak drastis hingga mencapai 190 orang per 11 September 2025.
Sebagian besar penderita merupakan laki-laki usia produktif yang bekerja sebagai penambang.
Baca Lainnya :
- RS Bhayangkara Palu Hadirkan Terapi Hiperbarik, Bantu Pasien Diabetes hingga Stroke
- Viral Obat Rp2 Juta Untuk Balita, RSUD Undata Pastikan Tidak Ada Beban untuk Keluarga Pasien
- Gempa 4,8 SR Guncang Parigi Moutong, Terasa Hingga Palu dan Poso
- Inisiasi Kemah di Desa Taipa Obal, Fathur Razaq Satukan Pemuda dan Masyarakat
- Buronan Pencuri Uang Alfamidi Ampibabo Tak Berkutik Saat Disergap Polisi di Kota Palu
Kabid Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dr. Jumriani, mengungkap kasus pertama muncul pada Oktober 2024 yang dibawa pekerja tambang dari Kabupaten Pohuwato, Gorontalo.
“Sebenarnya seharusnya sudah tidak ada kasus malaria baru. Namun, pada Oktober 2024 ada laporan kasus impor dari Kabupaten Pohuwato yang saat itu sedang mengalami KLB malaria,” jelasnya diwawancarai di ruang kerjanya, Jumat (12/9) sore.
Kasus itu kemudian menular luas di wilayah tambang di Kecamatan Moutong.
Faktor lingkungan turut mempercepat penularan. Menurut hasil penyelidikan epidemiologi, banyak genangan air di bekas galian tambang yang tidak lagi digunakan.
“Saat hujan, lokasi itu tergenang air dan menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Akibatnya kasus malaria melonjak,” kata Jumriani.
Awalnya penyakit hanya menyerang pekerja tambang. Namun, ketika para penambang turun ke pemukiman untuk berobat, penularan menyebar ke masyarakat.
Dari 190 kasus, setiap hari masih ditemukan 1–2 kasus baru.
“Jenis malaria yang muncul bukanlah jenis baru, melainkan campuran antara vivax dan falciparum. Hingga kini belum ada pasien yang meninggal,” ujarnya.
Sejumlah langkah penanganan telah dilakukan, mulai dari pemeriksaan cepat (RDT), pembagian kelambu berinsektisida, hingga pemberian larvasida pada genangan air.
Pusat juga sudah tiga kali mendampingi penanganan di Parigi Moutong.
Meski begitu, tantangan masih ada karena sebagian besar pekerja tambang enggan menggunakan kelambu.
Selain Parigi Moutong, kasus malaria juga meningkat di Poso, meski belum ditetapkan status darurat.
Sementara di Sigi dan Donggala terjadi kenaikan kasus namun tidak signifikan, dan Kota Palu relatif aman dengan kasus kecil yang tidak mengkhawatirkan.
Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong menetapkan status siaga darurat penanganan KLB malaria sejak 14 Agustus hingga 12 September 2025.
Penetapan ini berdasarkan Keputusan Bupati yang memungkinkan penggunaan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk penanganan kasus, serta dapat diperpanjang sesuai kebutuhan di lapangan. (Rul/Nl)










