- Di Tengah Tekanan Inflasi, 5.000 Paket Sembako Disalurkan untuk Keluarga Desil 1-4 di Morowali Utara
- Muhammadiyah Terbitkan Maklumat Hadapi Kemarau dan Karhutla, Serukan Salat Istisqa hingga Muhasabah
- 8 Tahun Dikira Meninggal akibat Tsunami Palu, Jumaidin Tiba-tiba Pulang ke Kampung di Tojo Una-Una
- Tips Memilih Restoran untuk Makan Bersama Saat di Pusat Perbelanjaan
- Dua Hari Tak Berangkat Kerja, Perempuan 29 Tahun Ditemukan Meninggal di Kamar Kos Tondo
- Jemaah Haji Sulteng Diusulkan Tak Lagi Menginap di Balikpapan pada 2027
- Hampir 4 Ribu Orang di Sulteng Tercatat Positif HIV, Hanya 57 Persen Jalani Pengobatan
- Jaga Kelestarian Ikan Endemik, DKP Sulteng Minta Penebaran Nila di Danau Poso Dievaluasi
- Awal Musim Hujan di Indonesia Tak Serentak, Sulteng Masuk Daerah yang Mulai Hujan Oktober
- Sulteng Jadi Tuan Rumah Tanwir Muhammadiyah, Presiden Prabowo Diagendakan Hadir
Per 11 September, Kasus Malaria di Parigi Moutong Tembus 190

Keterangan Gambar : Kabid Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dr. Jumriani, saat diwawancarai di ruang kerjanya, Jumat (12/9) sore. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Parigi Moutong – Kasus malaria di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, melonjak drastis hingga mencapai 190 orang per 11 September 2025.
Sebagian besar penderita merupakan laki-laki usia produktif yang bekerja sebagai penambang.
Baca Lainnya :
- RS Bhayangkara Palu Hadirkan Terapi Hiperbarik, Bantu Pasien Diabetes hingga Stroke
- Gempa 4,8 SR Guncang Parigi Moutong, Terasa Hingga Palu dan Poso
- Inisiasi Kemah di Desa Taipa Obal, Fathur Razaq Satukan Pemuda dan Masyarakat
- Buronan Pencuri Uang Alfamidi Ampibabo Tak Berkutik Saat Disergap Polisi di Kota Palu
- Indonesia Masuk Daftar Negara Paling Obesitas di ASEAN, Ini Datanya
Kabid Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dr. Jumriani, mengungkap kasus pertama muncul pada Oktober 2024 yang dibawa pekerja tambang dari Kabupaten Pohuwato, Gorontalo.
“Sebenarnya seharusnya sudah tidak ada kasus malaria baru. Namun, pada Oktober 2024 ada laporan kasus impor dari Kabupaten Pohuwato yang saat itu sedang mengalami KLB malaria,” jelasnya diwawancarai di ruang kerjanya, Jumat (12/9) sore.
Kasus itu kemudian menular luas di wilayah tambang di Kecamatan Moutong.
Faktor lingkungan turut mempercepat penularan. Menurut hasil penyelidikan epidemiologi, banyak genangan air di bekas galian tambang yang tidak lagi digunakan.
“Saat hujan, lokasi itu tergenang air dan menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Akibatnya kasus malaria melonjak,” kata Jumriani.
Awalnya penyakit hanya menyerang pekerja tambang. Namun, ketika para penambang turun ke pemukiman untuk berobat, penularan menyebar ke masyarakat.
Dari 190 kasus, setiap hari masih ditemukan 1–2 kasus baru.
“Jenis malaria yang muncul bukanlah jenis baru, melainkan campuran antara vivax dan falciparum. Hingga kini belum ada pasien yang meninggal,” ujarnya.
Sejumlah langkah penanganan telah dilakukan, mulai dari pemeriksaan cepat (RDT), pembagian kelambu berinsektisida, hingga pemberian larvasida pada genangan air.
Pusat juga sudah tiga kali mendampingi penanganan di Parigi Moutong.
Meski begitu, tantangan masih ada karena sebagian besar pekerja tambang enggan menggunakan kelambu.
Selain Parigi Moutong, kasus malaria juga meningkat di Poso, meski belum ditetapkan status darurat.
Sementara di Sigi dan Donggala terjadi kenaikan kasus namun tidak signifikan, dan Kota Palu relatif aman dengan kasus kecil yang tidak mengkhawatirkan.
Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong menetapkan status siaga darurat penanganan KLB malaria sejak 14 Agustus hingga 12 September 2025.
Penetapan ini berdasarkan Keputusan Bupati yang memungkinkan penggunaan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk penanganan kasus, serta dapat diperpanjang sesuai kebutuhan di lapangan. (Rul/Nl)










