- Resmi Diumumkan! Tunjangan Guru Naik, Non-ASN Jadi Rp 2 Juta dan ASN Setara Gaji Pokok
- Wagub Sulteng Lantik Dokter Ahli Utama, Dukung Transformasi RS Undata Berstandar Internasional
- DPRD Kota Palu Desak Pemkot Perkuat Koordinasi dalam Penyusunan Tata Ruang
- DPRD Palu Sahkan Hasil Evaluasi LKPJ 2025, 37 Rekomendasi Diserahkan ke Pemkot
- DPRD Palu Desak Pemkot Tuntaskan Masalah Lahan Tidur dan Air Bersih di Dua Kelurahan
- DPRD Palu Soroti Overkapasitas RS, Biaya Visum, dan Denda BPJS yang Bebani Warga
- Dari Huntap hingga Pajak Daerah, DPRD Palu Paparkan Hasil Kerja Caturwulan I
- 8 Rumah Sakit Swasta di Palu Terancam Tak Bisa Beroperasi, DPRD Soroti Masalah Perizinan
- Abdurahim Nasar Al-Amri Soroti Mandeknya RDTR, DPRD Palu Siap Koordinasi Ulang ke Pusat
- Ribuan Izin Usaha Tertolak, DPRD Kota Palu Cari Solusi Sengkarut Perizinan OSS yang Terkendala KBLI
RS Bhayangkara Palu Hadirkan Terapi Hiperbarik, Bantu Pasien Diabetes hingga Stroke

Keterangan Gambar : Rumah Sakit Bhayangkara Palu kini memiliki fasilitas terapi hiperbarik. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu - Rumah Sakit Bhayangkara Palu kini memiliki fasilitas terapi hiperbarik yang bisa dimanfaatkan masyarakat dengan berbagai kondisi medis.
Terapi ini dinilai mampu mempercepat pemulihan pasien, termasuk penderita diabetes dan stroke.
Baca Lainnya :
- RS Bhayangkara Palu Tambah Ruang Rawat Inap VVIP untuk Pasien
- Beasiswa Prestasi, BERANI Cerdas Buka Peluang Pendidikan Gratis bagi Mahasiswa Ber-IPK 3,0 ke Atas
- Delapan Dekade Jalasena! Lanal Palu Gelar Upacara HUT ke-80 TNI AL
- APMKT Tuntut Tutup Sertifikat HGB, Massa Segel Lokasi Huntap Palu
- Disperindag Palu Sidak Timbangan Beras, Harga Turun Hingga Rp14 Ribu per Kilo
Karumkit RS Bhayangkara Palu, AKBP dr. Judy Dermawan, menjelaskan bahwa terapi hiperbarik awalnya digunakan oleh TNI Angkatan Laut sejak 1954 untuk menjaga kesehatan kru kapal selam.
Namun seiring perkembangan, manfaatnya terbukti luas bagi masyarakat umum.
“Penderita diabetes mellitus yang mengalami luka tidak kunjung sembuh bahkan terancam amputasi bisa terbantu dengan terapi ini, karena jaringan tubuh bisa kembali sehat dan tumbuh,” jelas Judy.
Ia menambahkan, pasien stroke juga sangat terbantu dengan terapi hiperbarik.
Jika pemulihan hanya mengandalkan obat, butuh waktu 2-3 bulan.
“Dengan tambahan terapi hiperbarik, sekitar tiga minggu pasien sudah menunjukkan perbaikan lebih cepat,” katanya.
Secara medis, kata dr. Judy, terapi ini bekerja dengan memanfaatkan oksigen murni bertekanan tinggi yang masuk langsung ke sel tubuh, tidak hanya melalui hemoglobin.
Hal ini dibuktikan melalui berbagai percobaan, termasuk penggunaan hewan uji dalam chamber hiperbarik.
“Artinya, oksigen tetap bisa masuk ke dalam sel tubuh secara difusi tanpa bergantung pada hemoglobin,” ujarnya.
Fasilitas hiperbarik RS Bhayangkara Palu mampu menampung hingga 11 pasien dalam sekali terapi.
Saat ini, rumah sakit tersebut menjadi satu-satunya di Sulawesi Tengah yang memiliki layanan tersebut.
Menurut Judy, terapi hiperbarik juga relevan untuk penanganan pasien COVID-19.
Ia menjelaskan, masalah utama COVID-19 adalah penurunan kadar oksigen dalam darah.
Dengan hiperbarik, pasien bisa menghirup oksigen murni 100% sehingga kadar oksigen dalam tubuh cepat stabil.
Meski manfaatnya luas, terapi ini belum ditanggung BPJS Kesehatan.
“BPJS masih belum menanggung terapi hiperbarik, terutama karena dianggap lebih banyak terkait penyelaman atau kecantikan.
Padahal manfaatnya sangat luas, termasuk medis,” jelas Judy.
Untuk biaya, satu sesi terapi berkisar Rp500 ribu per orang.
Namun tersedia pula paket 10 kali dengan harga Rp5 juta ditambah bonus hingga 12 kali terapi.
Selain mempercepat penyembuhan, terapi ini juga diyakini bermanfaat bagi kesehatan kulit dan vitalitas pria.
“Dengan terapi ini, kualitas hidup bisa lebih baik,” pungkas Judy. (Rul/Nl)










