- Tips Memilih Restoran untuk Makan Bersama Saat di Pusat Perbelanjaan
- Dua Hari Tak Berangkat Kerja, Perempuan 29 Tahun Ditemukan Meninggal di Kamar Kos Tondo
- Jemaah Haji Sulteng Diusulkan Tak Lagi Menginap di Balikpapan pada 2027
- Hampir 4 Ribu Orang di Sulteng Tercatat Positif HIV, Hanya 57 Persen Jalani Pengobatan
- Jaga Kelestarian Ikan Endemik, DKP Sulteng Minta Penebaran Nila di Danau Poso Dievaluasi
- Awal Musim Hujan di Indonesia Tak Serentak, Sulteng Masuk Daerah yang Mulai Hujan Oktober
- Sulteng Jadi Tuan Rumah Tanwir Muhammadiyah, Presiden Prabowo Diagendakan Hadir
- Muhammadiyah Tekankan Karhutla Tak Boleh Dinormalisasi sebagai Bencana Tahunan
- Festival Tende Ditunda, Rencana Tabligh Akbar sebagai Pengganti Disambut Baik Wamenag
- Pemprov Sulteng Siapkan Pembangunan SMKN 1 Batui, 80 Siswa Dipastikan Tetap Lanjut Sekolah
Populasi Endemik Sulawesi Bertambah, TN Lore Lindu Berhasil lepasliarkan 965 Anak Maleo hingga 2025

Keterangan Gambar : Anak maleo. (Foto: Neil Bowman/iStockphoto)
Likeindonesia.com, Palu - Populasi burung maleo, satwa endemik Sulawesi, kembali bertambah seiring keberhasilan pelepasliaran 965 anak maleo di Taman Nasional Lore Lindu hingga tahun 2025. Data tersebut tercatat dalam Statistik Demplot Pembinaan Populasi Maleo Saluki yang dikelola di kawasan Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah.
Menurut laporan Balai Besar Taman Nasional (BBTN) Lore Lindu, jumlah anak maleo yang berhasil dirilis tersebut merupakan akumulasi pelepasliaran sejak tahun 2020. Rinciannya yakni 42 ekor pada 2020, 132 ekor pada 2021, 140 ekor pada 2022, 167 ekor pada 2023, 290 ekor pada 2024, dan 194 ekor pada 2025.
Baca Lainnya :
- Swiss-Belhotel Silae Palu Hadirkan Seafood Tumpah, Sensasi Santap Seafood Menghadap Teluk Palu
- Nelayan Buol Temukan 15 WNA Filipina Terdampar di Laut Selama 13 Hari
- Omzet Usaha Perdagangan Sulteng Terbesar Kedua di Sulawesi, Tembus Rp 25,3 Miliar
- Pemprov Sulteng Matangkan Skema Bantuan Pendidikan Berani Cerdas 2026
- 17 Peserta Ikuti Seleksi Petugas Haji Daerah 2026 di Sulawesi Tengah
Upaya pelestarian maleo di Taman Nasional Lore Lindu dilakukan secara in-situ melalui kegiatan penetasan semi alami pada demplot pembinaan populasi maleo yang berlokasi di Saluki, Desa Tuva, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi. Telur maleo yang ditemukan di habitat alaminya dipindahkan ke hatchery untuk menjalani proses penetasan dengan pengawasan petugas.
Pada tahun 2025, BBTN Lore Lindu mencatat sebanyak 190 butir telur maleo ditangani di hatchery Saluki, sementara 48 butir telur ditemukan dalam kondisi pecah. Rata-rata masa inkubasi telur maleo di hatchery berlangsung selama 45 hingga 80 hari.
"Apabila sampai 90 hari belum menetas, maka dipastikan telur tersebut gagal menetas," jelas laporan BBTN Lore Lindu, dikutip Jumat (23/1/2026).
BBTN Lore Lindu mengungkapkan, sebagian telur menetas di bawah masa inkubasi normal sekitar 60 hari karena telur tersebut telah lebih dulu menjalani proses inkubasi di habitat alaminya sebelum ditemukan dan dipindahkan ke kandang penetasan. Dari total telur yang ditangani pada 2025, sebanyak 196 anak maleo atau 98 persen berhasil menetas, sementara 4 ekor atau 2 persen tidak menetas.
Setelah menetas, anak maleo umumnya dibiarkan berdiam diri untuk sementara waktu guna memulihkan kondisi fisik setelah keluar dari dalam tanah. Anak maleo kemudian dilepasliarkan setelah dinilai cukup kuat dan mampu berdiri kokoh pada jari-jari kakinya.
Pada tahun 2025, tingkat keberhasilan pelepasliaran anak maleo tercatat tinggi. Sebanyak 194 ekor atau 99 persen anak maleo berhasil dirilis, sementara 2 ekor atau 1 persen dilaporkan mati.
Maleo atau Macrocephalon maleo merupakan burung endemik Sulawesi yang dikenal memiliki perilaku lebih sering berjalan dibanding terbang. Burung ini termasuk satwa yang dilindungi dan menjadi bagian dari program konservasi di Taman Nasional Lore Lindu. (Nul/Nl)










