- Jokowi Dijadwalkan Sambangi Palu, Bakal Resmikan Kantor DPW PSI Sulteng
- Le Na Jodoh, ADISTA Tak Jadi Tampil di Konser HUT Kota Palu ke-48
- Pemerintah Siapkan Skema Kuliah Gratis di PTN, Pelaksanaan Akan Bertahap
- Makin Sedikit Warga Sulteng yang Fokus Mengurus Rumah Tangga, Jumlahnya Turun 61 Ribu
- 2,46% Rumah Tangga di Palu Masih Andalkan Air Hujan untuk Minum
- 40% Gen Z Pilih Nikah di KUA, Uang Lebih Diprioritaskan untuk Kehidupan Setelah Menikah
- Catat Jamnya! 25 September Ada Fenomena Hari Tanpa Bayangan di Enam Wilayah Sulteng, Termasuk Palu
- Influenza Tipe A Super Flu Merebak di RI, Anak-Anak Paling Banyak Terinfeksi
- KONI Sulteng Dorong PBFI Tingkatkan Pembinaan dan Prestasi Atlet
- Cegah Pungli, Polri Siapkan Mesin Cetak SKCK Mandiri Mulai 2027, Tak Perlu Lagi ke Kantor Polisi
Tak Hanya Pertengkaran dan Ekonomi, Kebiasaan Mabuk Alkohol Jadi Alasan Cerai di Sulteng

Keterangan Gambar : Ilustrasi pria mengonsumsi alkohol. (Foto: iStockphoto)
Likeindonesia.com, PALU - Tak hanya pertengkaran dan masalah ekonomi, kebiasaan mabuk alkohol juga menjadi salah satu penyebab perceraian di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) sepanjang tahun 2024.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung (Dirjen Badilag MA) yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Sulteng, tercatat sebanyak 3.862 kasus perceraian terjadi di wilayah ini selama 2024.
Baca Lainnya :
- Dari Palu hingga Morowali, Ini 5 Daerah dengan Kasus Perceraian Terbanyak di Sulteng
- Warga Binaan di Sulteng Didorong Kelola Lahan Pertanian Produktif
- Aliansi Mahasiswa Bungku Tengah Masuk Gedung DPRD Sulteng, Tuntut Penghentian Tambang PT BAP dan DSN
- Barantan Sulteng Gelar Vaksinasi Rabies Gratis, Tekan Risiko Penularan di Daerah Endemis
- Rasio Dokter Masih Jauh dari Ideal, Unismuh Palu Hadirkan Fakultas Kedokteran
Dari total tersebut, pertengkaran terus-menerus menjadi penyebab terbanyak dengan 3.092 kasus, disusul oleh meninggalkan salah satu pihak sebanyak 370 kasus, dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebanyak 197 kasus. Sementara masalah ekonomi tercatat memicu 97 kasus, dan kebiasaan mabuk alkohol menjadi penyebab 95 kasus perceraian.
Selain lima faktor utama tersebut, penyebab lain yang juga tercatat meski jumlahnya lebih kecil antara lain judi, murtad, madat (penyalahgunaan narkoba), poligami, hukuman penjara, zina, cacat badan, dan kawin paksa.
Data tersebut menggambarkan bahwa perceraian di Sulteng bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga erat kaitannya dengan perilaku pasangan. (Nl/Nl)










