- Polres Cirebon Kota Tindaklanjuti Laporan Masyarakat Terkait Dugaan Peredaran Obat Keras Terbatas
- Suhu Palu Tembus 34,7 Derajat, Wagub Ajak Masyarakat Lebih Peduli Perubahan Iklim
- Palu Catat Suhu Maksimum 35 Derajat, Jadi Wilayah Terpanas Kedua di RI
- 50 Huntara Mulai Dibangun untuk Warga Terdampak Gempa di Sigi
- Akbar Supratman Salurkan Ribuan Paket Bantuan untuk Warga Terdampak Gempa di Sigi
- Dalam Sepekan, Gempa Susulan M 6,7 di Sulteng Capai 1.318 Kali
- PTN dan PTS se-Sulteng Bangun Kolaborasi Mitigasi Bencana Berbasis Riset
- Resmi Terpilih, Dua Pelajar Asal Bangkep dan Palu Wakili Sulteng Jadi Calon Paskibraka Nasional 2026
- Enam Hari Pascagempa M 6,7, Gempa Susulan di Sulteng Tembus 1.256 Kali
- Sensus Ekonomi 2026 Digelar, Masyarakat Sulteng Diajak Beri Data Akurat
Jembatan Rusak, Anak-anak Desa Tonggolobibi Nekat Menyebrangi Sungai Demi Sekolah

Keterangan Gambar : Anak sekolah dasar di Dusun Bontopangi, Desa Tonggolobibi, Kecamatan Sojol, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, terpaksa menyeberangi sungai setiap pagi menggunakan rakit untuk bisa pergi ke sekolah. (Foto: Ist)
Likeindonesia.com, Donggala – Akses sekolah di Desa Tonggolobibi, Kecamatan Sojol, Kabupaten Donggala, terputus setelah jembatan gantung rusak akibat banjir. Akibatnya, puluhan siswa Sekolah Dasar (SD) terpaksa menyeberangi sungai dengan menggunakan rakit demi tetap bisa mengikuti kegiatan belajar.
Kondisi tersebut terekam dalam video dan foto yang diunggah Sukardi Zazg di media sosial. Dalam rekaman itu, terlihat 16 anak berseragam SD menyeberangi sungai menggunakan rakit dengan bantuan seorang warga dewasa.
Baca Lainnya :
- Gelombang Tinggi Berpotensi Terjadi di Perairan Palu–Donggala hingga Teluk Tolo
- Gempa Magnitudo 3,2 Guncang Wilayah Barat Laut Donggala
- Mau Melaut? BMKG Keluarkan Peringatan Dini Gelombang Tinggi Hingga 2,5 Meter di Perairan Sulteng
- PLN Pulihkan Jaringan Listrik Terdampak Banjir dan Longsor di Sekitar GI Tawaeli
- WALHI Sulteng Soroti Banjir Donggala, Tata Ruang Dinilai Rusak
Kepala Desa Tonggolobibi, M. Saleh, menjelaskan, jembatan gantung yang menghubungkan Dusun Bontopangi dan Dusun Silobo menuju SD di Dusun Lantapan rusak semenjak di terjang banjir pada Desember 2025. Sementara itu, dua akses lainnya, yakni tanggul bendungan dan saluran irigasi, telah diperbaiki.
“Untuk jembatan gantung, kami sudah mengajukan permohonan kebencanaan ke tingkat provinsi karena anggarannya cukup besar,” ujar Saleh, Rabu (11/2/2026).
Akibat putusnya jembatan, sebagian siswa kelas satu pindah ke sekolah terdekat, sementara siswa kelas lima dan enam tetap harus menyeberangi sungai. Pembangunan jembatan darurat dianggap berbahaya karena kondisi sungai yang lebar, dalam, serta adanya buaya di lokasi.
Selain rakit, tersedia jalur alternatif antar dusun. Namun jalur ini lebih jauh dan memakan waktu, sehingga tidak semua orang tua dapat mengantar anaknya.
“Jalan putar bisa, tapi memakan waktu dan tidak semua orang tua sempat. Jadi ada yang memilih menyeberang sungai,” kata Saleh.
Penggunaan rakit mulai dilakukan sejak pertengahan Januari 2026, setelah kegiatan belajar mengajar kembali normal pasca-libur sekolah.
Kepala desa berharap pemerintah kabupaten segera membangun kembali jembatan gantung agar akses pendidikan dan keselamatan anak-anak lebih terjamin. (BIM/Nl)










