- Polres Cirebon Kota Tindaklanjuti Laporan Masyarakat Terkait Dugaan Peredaran Obat Keras Terbatas
- Suhu Palu Tembus 34,7 Derajat, Wagub Ajak Masyarakat Lebih Peduli Perubahan Iklim
- Palu Catat Suhu Maksimum 35 Derajat, Jadi Wilayah Terpanas Kedua di RI
- 50 Huntara Mulai Dibangun untuk Warga Terdampak Gempa di Sigi
- Akbar Supratman Salurkan Ribuan Paket Bantuan untuk Warga Terdampak Gempa di Sigi
- Dalam Sepekan, Gempa Susulan M 6,7 di Sulteng Capai 1.318 Kali
- PTN dan PTS se-Sulteng Bangun Kolaborasi Mitigasi Bencana Berbasis Riset
- Resmi Terpilih, Dua Pelajar Asal Bangkep dan Palu Wakili Sulteng Jadi Calon Paskibraka Nasional 2026
- Enam Hari Pascagempa M 6,7, Gempa Susulan di Sulteng Tembus 1.256 Kali
- Sensus Ekonomi 2026 Digelar, Masyarakat Sulteng Diajak Beri Data Akurat
Pascabencana, Menko IPK AHY: Infrastruktur di Sulteng Harus Tangguh Terhadap Bencana

Keterangan Gambar : AHY saat melakukan kunjungan kerja di Sulawesi Tengah, Rabu (9/7). (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Sulteng – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan dan Infrastruktur Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan pentingnya membangun infrastruktur yang tahan terhadap bencana di Sulawesi Tengah, khususnya di wilayah pesisir barat yang rawan gempa, tsunami, dan likuefaksi.
Menurut AHY, wilayah tersebut masih menyimpan trauma akibat bencana alam besar yang terjadi pada 2018.
Baca Lainnya :
- Forum Koordinasi Sulawesi, AHY Dorong Tata Ruang Jadi Dasar Kebijakan
- AHY Tegaskan Tata Ruang dan Konektivitas Kunci Pembangunan Inklusif di Sulawesi Tengah
- Terpesona dengan Danau Paisupok, AHY: Sekali-Kali Wisata, Jangan Kerja Terus
- Jatam Sulteng Adukan Tambang Ilegal Poboya ke Komnas HAM Sulteng, Desak Penegakan Hukum Serius
- PTSL Sulteng Tembus 95 Persen, Warga dan Lembaga Nikmati Kepastian Hukum Tanah
Ia menilai pembangunan pascabencana tidak cukup hanya memulihkan fisik, tetapi juga harus mengarah pada ketahanan jangka panjang.
“Kita tahu bahwa Sulteng, khususnya yang berada di pesisir barat, (telah) menghadapi bencana alam. Masih lekat dalam ingatan saat terjadi tsunami dan likuefaksi beberapa tahun lalu yang meluluhlantakkan kehidupan. Infrastruktur bukan hanya rusak parah tapi juga tidak bisa lagi digunakan secara efektif,” ujar AHY saat diwawancarai usai kegiatan peninjauan Pelabuhan Donggala Rabu (9/7) sore.
Ia menekankan perlunya sistem peringatan dini yang lebih kuat, sekaligus pendekatan teknologi dalam membangun infrastruktur yang adaptif terhadap risiko kebencanaan.
“Setelah kita lewati masa berat itu, kita harus berjaga dan waspada. Pembangunan infrastruktur pascabencana itu juga harus lebih diorientasikan pada infrastruktur yang memiliki daya tahan atau resilien terhadap bencana alam, apakah gempa bumi, tsunami, likuefaksi, dan lain-lain,” jelas AHY.
Lebih lanjut, AHY menyatakan bahwa pembangunan masa depan harus melibatkan inovasi teknologi secara menyeluruh agar tidak lagi mengulang kerentanan yang sama.
“Kita harus berbuat sekuat tenaga melalui berbagai terobosan inovasi teknologi agar pembangunan infrastruktur itu menggunakan teknologi dengan pendekatan yang semakin resilien terhadap dampak bencana alam,” tegasnya.
Wilayah Sulawesi Tengah diketahui berada dalam zona rawan bencana geologi akibat posisinya di jalur cincin api (ring of fire).
Karena itu, aspek mitigasi bencana menjadi hal mendesak dalam setiap perencanaan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah. (Rul)










