- Ketua DPRD se-Sulteng Dorong Penguatan Sinergi Pembangunan Daerah
- 459 Ton Durian Sulteng Diekspor ke Tiongkok, Digadang Jadi Ikon Baru Nasional
- Pemerintah Buka 35 Ribu Loker KDKMP dan KNMP, Pelamar yang Lolos Jadi Pegawai BUMN
- Ketika Pemerintah Daerah Menyewa Influencer, Sebuah Jalan Pintas?
- Ketua DPRD Kota Palu Ikuti Retret Ketua DPRD se-Indonesia di Akmil Magelang
- Gubernur Anwar Hafid Ungkap Rencana Alun-alun Ikonik di Palu, Konsepnya Mirip Halaman Istana Negara
- Nambaso Fest 2026 Resmi Dibuka, Digelar Meriah Tanpa Membebani Anggaran Daerah
- HUT ke-62 Sulteng, Gubernur Tekankan Pemerataan Kesejahteraan di Seluruh Daerah
- Turun Langsung ke Desa Dalaka, Gubernur Sulteng Tancap Gas Perbaiki Jalan dan Layanan Warga
- Liga 4 Piala Gubernur Sulteng Resmi Bergulir, Talenta Muda Didorong Berprestasi Lewat Sepak Bola
Produksi Bawang Merah Lokal Palu Digenjot untuk Kurangi Pasokan Luar Daerah

Keterangan Gambar : Pemkot Palu mendorong pengembangan kawasan pertanian bawang merah di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu — Pemerintah Kota Palu mendorong pengembangan kawasan pertanian bawang merah di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan dari luar wilayah.
Wakil Wali Kota Palu, Imelda Liliana Muhidin mengatakan, lahan pertanian di Petobo memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sentra hortikultura, khususnya bawang merah.
Baca Lainnya :
- Banjir Rendam Pantoloan, Arus di Jalur Trans Sulawesi Sempat Terhambat
- Kasus HIV di Sulteng Tembus 700 pada 2025, Palu Masih Tertinggi
- Muhammad Iqbal–Abdullah K Mari Kembali Pimpin AMSI Sulteng Periode 2026–2030
- Siti Maharani Berhasil Melaju di Seleknas Taekwondo 2026, Ketua KONI Sulteng Siap Dukung Penuh
- Masih Ada Ribuan Pekerja di Palu Bergaji di Bawah Rp500 Ribu per Bulan
Di kawasan tersebut tersedia sekitar 20 hektare lahan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung produksi pangan lokal.
Ia menilai, komunikasi antara pemerintah dan petani menjadi faktor penting dalam mendorong keberlanjutan sektor pertanian di wilayah tersebut.
Selain itu, keterlibatan petani lain juga diharapkan dapat memperkuat kapasitas produksi bawang merah di Kota Palu.
“Harapannya ke depan kebutuhan bawang merah di Kota Palu bisa semakin tercukupi dari produksi lokal, sehingga tidak terlalu bergantung pada pasokan dari luar daerah,” ujar Imelda kepada media ini diwawancarai, Senin (12/1) pagi.
Menurutnya, produktivitas bawang merah di Petobo tergolong menjanjikan.
Dalam satu hektare lahan, hasil panen dapat mencapai 10 hingga 15 ton.
Jika pengembangan dilakukan pada lima hektare lahan, maka potensi produksi bisa mencapai sekitar 50 ton bawang merah.
Ia menambahkan, produksi lokal ini dinilai strategis terutama menjelang bulan Ramadan dan Idul Fitri, yang kerap diikuti dengan potensi kenaikan harga bahan pokok.
Keberadaan pasokan dari dalam daerah diharapkan mampu menekan laju inflasi komoditas pangan.
Selain mendorong produksi, pemerintah kota juga mengintegrasikan hasil pertanian lokal dengan program pengendalian inflasi daerah.
Melalui program JAMILA atau Belanja Minggu Kendalikan Inflasi, sejumlah komoditas pangan seperti bawang merah, cabai, dan tomat dijual langsung kepada masyarakat dengan harga di bawah pasar.
Program tersebut, kata dia, telah berjalan selama satu hingga dua bulan terakhir dan mendapatkan respons positif dari masyarakat.
Ke depan, pemerintah berharap jangkauan program tersebut dapat diperluas agar semakin banyak petani dan konsumen yang terlibat.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Mandiri Petobo, Suwadi, menyebutkan bahwa potensi lahan pertanian bawang merah di wilayahnya masih sangat besar.
Saat ini, pemanfaatan lahan baru mencapai sekitar 20 persen dari total lahan yang tersedia.
Ia menjelaskan, peluang pasar bawang merah di Kota Palu masih terbuka lebar karena sebagian besar pasokan selama ini berasal dari luar daerah, seperti Enrekang dan Bima, yang memiliki biaya distribusi lebih tinggi.
“Kalau kita bisa membudidayakan sendiri, pasarnya itu ada di sekitar kita, bahkan di halaman rumah kita sendiri,” kata Suwadi.
Menurut Suwadi, lahan yang saat ini dikelolanya hampir mencapai lima hektare dengan jenis bawang merah yang ditanam secara bertahap.
Varietas yang dibudidayakan antara lain bawang merah Lembah Palu, Bima Brebes, dan Tajuk, dengan luas lahan yang berbeda-beda.
Ia menuturkan, produktivitas bawang merah di Petobo rata-rata dapat dimaksimalkan hingga di atas 10 ton per hektare, tergantung pada pemupukan dan pemeliharaan tanaman.
Kualitas umbi, kata dia, sangat dipengaruhi oleh kecukupan nutrisi selama masa tanam.
Suwadi juga mengungkapkan bahwa keterlibatan kelompok tani lain masih perlu ditingkatkan.
Selama ini, dirinya aktif mengajak kelompok tani lain untuk terlibat dalam budidaya hortikultura, khususnya bawang merah, sekaligus memberikan pembelajaran terkait analisis usaha tani.
Ia berharap Pemerintah Kota Palu dapat terus memberikan dukungan dan pendampingan, terutama untuk mendorong minat petani milenial agar terjun ke sektor pertanian.
“Kalau sudah tahu dan sudah merasakan, maka jelas bahwa bertani adalah sebuah profesi yang layak dan menjanjikan,” ujarnya.
Pengembangan bawang merah di Petobo juga diarahkan untuk mendukung program nasional ketahanan pangan.
Hasil pertanian lokal tersebut direncanakan masuk ke dalam Koperasi Merah Putih serta mendukung dapur MBG, sehingga tidak hanya memperkuat pasokan pangan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani lokal. (Rul/Nl)










