- Viral Juri Cerdas Cermat Salahkan Jawaban Benar, Wakil Ketua MPR Minta Maaf
- 62 Pasangan di Palu Kini Punya Legalitas Resmi Usai Ikut Isbat Nikah Massal
- Kabur Lintas Kota, Pendiri Ponpes Tersangka Pemerkosaan Akhirnya Ditangkap
- Ribuan Calon Jemaah Haji Sulteng Mulai Diberangkatkan ke Tanah Suci
- Didominasi Anak Muda, Penduduk Sulteng Mayoritas Berasal dari Gen Z
- Wajib Belajar 12 Tahun, Anak Putus Sekolah Kini Ditangani lewat Perpres Baru
- Pertamina Resmi Naikkan Harga BBM Non Subsidi, Dexlite Tembus Rp26 Ribu Per Liter
- Gubernur Sulteng Ingatkan Perusahaan untuk Tidak Abaikan Keselamatan Pekerja
- Hardiknas 2026, Pemerintah Dorong Penerapan Deep Learning di Satuan Pendidikan
- Pembayaran Honorer di Sulteng Ditarget Tertib dan Merata, Gubernur Pastikan Tanpa Ketimpangan
Vespa Literasi Hadirkan Lapak Baca Keliling di Desa-desa Parigi Moutong

Keterangan Gambar : Komunitas Vespa Literasi di Kabupaten Parigi Moutong memanfaatkan vespa tua sebagai sarana menghadirkan lapak baca keliling bagi anak-anak dan masyarakat. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Parigi Moutong – Komunitas Vespa Literasi di Kabupaten Parigi Moutong memanfaatkan vespa tua sebagai sarana menghadirkan lapak baca keliling bagi anak-anak dan masyarakat.
Dengan membawa ratusan buku bacaan, komunitas ini menyusuri desa-desa untuk memperluas akses literasi, khususnya di wilayah yang minim fasilitas membaca.
Baca Lainnya :
- Pulang Bawa Medali SEA Games Thailand 2025, Dua Atlet Disambut Langsung Gubernur dan KONI Sulteng
- Pemprov Sulteng Susun Masterplan Terpadu Darat–Laut, CIFOR-ICRAF Gelar Konsultasi Publik
- Bandara Mutiara SIS Aljufri Palu Gelar Simulasi Penanggulangan Keadaan Darurat
- Situs Megalitik Pokekea Resmi Berstatus Cagar Budaya Nasional
- Pengusulan Datu Pamusu Terus Berlanjut, Masuk Tahap Seminar Tingkat Provinsi
Gerakan literasi berbasis komunitas ini digagas oleh Basrul bersama sejumlah pegiat vespa sejak 2018.
Vespa klasik yang mereka gunakan tidak hanya menjadi alat transportasi, tetapi juga media edukasi untuk mendekatkan buku kepada masyarakat.
Basrul menjelaskan, Vespa Literasi berangkat dari dua persoalan utama, yakni rendahnya minat baca masyarakat, terutama anak-anak, serta stigma negatif yang selama ini melekat pada komunitas vespa klasik.
“Vespa Literasi ini lahir dari dua keresahan, yaitu minat baca dan stigma masyarakat terhadap anak vespa,” kata Basrul, di sekretariat Vespa Literasi, Desa Bambalemo, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong, Jumat (12/12/2025) lalu.
Dalam pelaksanaannya, Vespa Literasi bersifat mobile atau berpindah-pindah lokasi.
Mereka membuka lapak baca gratis di taman kota, ruang terbuka hijau, hingga pusat-pusat keramaian. Koleksi yang dibawa didominasi buku cerita anak dan bacaan ringan.
Selain itu, komunitas ini juga menyasar desa-desa yang dinilai sulit mengakses buku bacaan fisik.
Beberapa wilayah yang rutin dikunjungi antara lain desa binaan di Kecamatan Tinombo dan Kecamatan Parigi Selatan.
Untuk menjaga minat baca anak-anak, Vespa Literasi menerapkan sistem tukar buku.
Koleksi yang dibawa pada kunjungan awal akan diganti dengan buku lain saat mereka kembali satu hingga dua bulan kemudian, agar anak-anak tidak jenuh dengan bacaan yang sama.
Basrul menilai, rendahnya minat baca anak-anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari lingkungan pergaulan hingga penggunaan gawai.
Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu bermain atau bermain gim, sehingga aktivitas membaca kerap terabaikan.
Dalam menarik perhatian anak-anak, Vespa Literasi mengandalkan pendekatan kreatif, salah satunya melalui suara knalpot vespa yang khas.
Suara tersebut menjadi penanda kehadiran mereka di suatu lokasi.
“Kalau anak-anak dengar suara vespa kami, mereka langsung berkerumun. Itu sudah jadi ciri khas Vespa Literasi,” ujar Basrul.
Seluruh kegiatan lapak baca Vespa Literasi tidak dipungut biaya dan dijalankan secara swadaya.
Namun, keterbatasan dana menjadi tantangan tersendiri, bahkan untuk kebutuhan bahan bakar para anggota kerap harus patungan.
Kendala lain juga datang dari kondisi vespa yang sudah berusia tua, sehingga mesin kerap mengalami gangguan.
Faktor cuaca turut menjadi hambatan dalam perjalanan menuju lokasi lapak baca.
Untuk memenuhi koleksi bacaan, Vespa Literasi mengandalkan donasi dari masyarakat dan jejaring komunitas.
Donasi yang diterima bervariasi, mulai dari belasan hingga puluhan buku.
Setelah enam tahun berjalan, komunitas ini baru memperoleh bantuan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia berupa seribu eksemplar buku dan lemari penyimpanan.
Masalah legalitas komunitas juga menjadi tantangan. Basrul mengungkapkan, keterbatasan ekonomi anggota membuat pengurusan legalitas belum dapat dilakukan secara maksimal, sehingga menyulitkan akses terhadap bantuan resmi.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, semangat anggota Vespa Literasi tetap terjaga.
Kepuasan tersendiri dirasakan saat melihat anak-anak antusias membuka buku, meskipun belum sepenuhnya mampu membaca.
“Melihat anak-anak membuka buku, melihat gambar, lalu tertawa, itu sudah jadi kebahagiaan bagi kami,” kata Basrul.
Melalui lapak baca keliling, Vespa Literasi berharap dapat membuka akses bacaan seluas-luasnya dan menumbuhkan minat baca sejak usia dini, dimulai dari desa-desa di Parigi Moutong. (Rul/Nl)




.jpg)





