- Kampung Baru Fair Absen Tahun Ini, Lebaran Mandura Tetap Jalan di Masjid Jami
- Packing House Durian di Parimo Resmi Beroperasi, Buka Peluang Ekspor dan Serapan Tenaga Kerja
- Haul Akbar Guru Tua ke-58 di Palu Siap Digelar, Diperkirakan Dihadiri 75 Ribu Jamaah
- MBG Mau Dikurangi Jadi 5 Hari, Purbaya Sebut Bisa Hemat Rp 40 Triliun
- Polresta Palu Soroti Dugaan Teror Penyiraman Air Keras ke Kendaraan Warga di Palu
- Puncak Arus Balik, 2.888 Penumpang Melintas di Pelabuhan Pantoloan
- Fathur Razaq Gelar Halal Bihalal di Jogja untuk Warga Sulteng di Rantau
- Arus Balik Lebaran di Terminal Mamboro Naik 120 Persen, Puncak Terjadi pada H+2
- Dua Remaja Dilaporkan Hilang Saat Mendaki Gunung Dako di Tolitoli
- Aktivis dan Mahasiswa di Sulteng Kecam Penyiraman Air Keras terhadap Andrie Yunus
BMKG: Megathrust Tolitoli–Buol Potensi Ilmiah, Bukan Ancaman Langsung

Keterangan Gambar : Koordinator Bidang Operasi Stasiun Geofisika Palu, Bambang Haryono menjelaskan potensi gempa besar akibat megathrust di perairan Tolitoli–Buol, Sulawesi Tengah, Senin (3/11/2025). (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu – Isu potensi gempa besar akibat megathrust di perairan Tolitoli–Buol, Sulawesi Tengah, kembali menjadi perbincangan publik.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan, potensi tersebut merupakan bagian dari hasil penelitian ilmiah, bukan ancaman yang akan terjadi dalam waktu dekat.
Baca Lainnya :
- BYD Haka Auto Resmi Hadir di Palu, Tawarkan Pilihan Kendaraan Listrik Ramah Lingkungan
- 1.103 Tenaga Honorer Sulteng Resmi Terima SK PPPK Tahap II dari Gubernur
- home
- Belum Semua Pakai Elpiji, 18 Persen Warga Sulteng Masih Masak dengan Kayu
- Banjir Tolitoli Kini Surut, Warga Mulai Bersihkan Rumah
Koordinator Bidang Operasi Stasiun Geofisika Palu, Bambang Haryono, menjelaskan bahwa megathrust bukanlah isu hoaks, melainkan bagian dari fakta geologi yang menunjukkan adanya ruang seismik atau seismic gap di bawah laut Sulawesi.
Zona ini berpotensi menjadi tempat akumulasi energi yang bisa dilepaskan di masa depan.
“Megathrust itu hasil kajian ilmiah, bukan ancaman langsung. Artinya ada zona yang berpotensi menyimpan energi, tapi belum tentu segera dilepaskan,” ujar Bambang kepada wartawan ditemui di ruang kerjanya, Senin (3/11/2025) pagi.
Menurut Bambang, fenomena megathrust di utara Tolitoli dan Buol merupakan salah satu bagian dari sistem tektonik besar di wilayah Sulawesi.
Pergerakan lempeng di area tersebut bersifat subduksi, di mana satu lempeng bumi menyusup ke bawah lempeng lainnya.
Dalam kondisi tertentu, pelepasan energi di zona ini bisa memicu gempa besar yang berpotensi menimbulkan tsunami.
Meski demikian, ia menegaskan, masyarakat tidak perlu panik karena aktivitas seismik di kawasan tersebut terus dipantau oleh BMKG secara real time.
“Kalau kita merasakan gempa kecil, justru itu tanda energi sudah dilepaskan. Yang berbahaya adalah kalau energi itu tersimpan lama tanpa pelepasan,” kata Bambang menambahkan.
Bambang juga menjelaskan bahwa sistem pemantauan gempa di Sulawesi kini jauh lebih maju dibanding sebelum bencana 2018 lalu.
Jaringan alat sensor yang dulunya hanya terpasang di beberapa titik kini telah meluas ke sejumlah daerah, seperti Mapaga, Ampana, Luwuk, hingga Tolitoli.
Dengan peningkatan tersebut, gempa kecil bahkan di bawah magnitudo tiga pun sudah bisa terdeteksi dan diinformasikan kepada masyarakat secara cepat.
Selain memantau aktivitas seismik, BMKG juga melakukan analisis data secara bertahap, mulai dari data real time, data penelitian, hingga data publik.
Analisis dilakukan agar informasi yang sampai ke masyarakat mudah dipahami dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Menurutnya, di era media sosial yang sangat cepat, informasi tentang gempa sering kali disebarkan tanpa verifikasi.
Hal itu kerap menimbulkan kepanikan di masyarakat.
“Masalah utama bukan pada gempanya, tapi pada paniknya masyarakat. Ada yang langsung lari ke gunung, meninggalkan rumah, bahkan menjual rumah karena takut isu megathrust. Padahal cukup keluar ke area aman di sekitar rumah,” ungkapnya.
Bambang menilai, yang lebih penting dari sekadar khawatir adalah membangun kesadaran mitigasi bencana.
Masyarakat di wilayah rawan gempa seperti Sulawesi Tengah perlu memahami karakteristik tanah tempat tinggal, kekuatan struktur bangunan, serta jalur evakuasi di sekitar rumah.
Ia menegaskan, Indonesia memang hidup di kawasan dengan kompleksitas tektonik tinggi.
Karena itu, masyarakat perlu belajar berdamai dengan alam, bukan takut terhadapnya.
“Kita tinggal di pertemuan empat lempeng besar dunia—Asia, Australia, Pasifik, dan Filipina. Tantangannya adalah bagaimana kita bisa hidup harmonis, baik secara sosial maupun geologis,” kata Bambang.
Menurut dia, bersyukur ketika terjadi gempa kecil justru menjadi bentuk kesadaran mitigasi.
Karena itu berarti energi di dalam bumi sudah dilepaskan sebagian.
“Yang terpenting, pahami ancaman, syukuri yang sudah terjadi, dan tetap tenang menghadapi alam,” tutup Bambang. (Rul/Nl)










