- Jokowi Dijadwalkan Sambangi Palu, Bakal Resmikan Kantor DPW PSI Sulteng
- Le Na Jodoh, ADISTA Tak Jadi Tampil di Konser HUT Kota Palu ke-48
- Pemerintah Siapkan Skema Kuliah Gratis di PTN, Pelaksanaan Akan Bertahap
- Makin Sedikit Warga Sulteng yang Fokus Mengurus Rumah Tangga, Jumlahnya Turun 61 Ribu
- 2,46% Rumah Tangga di Palu Masih Andalkan Air Hujan untuk Minum
- 40% Gen Z Pilih Nikah di KUA, Uang Lebih Diprioritaskan untuk Kehidupan Setelah Menikah
- Catat Jamnya! 25 September Ada Fenomena Hari Tanpa Bayangan di Enam Wilayah Sulteng, Termasuk Palu
- Influenza Tipe A Super Flu Merebak di RI, Anak-Anak Paling Banyak Terinfeksi
- KONI Sulteng Dorong PBFI Tingkatkan Pembinaan dan Prestasi Atlet
- Cegah Pungli, Polri Siapkan Mesin Cetak SKCK Mandiri Mulai 2027, Tak Perlu Lagi ke Kantor Polisi
BMKG Prediksi 2026 Lebih Basah Usai Iklim Ekstrem di Sulteng 2025

Keterangan Gambar : Ilustrasi. (Foto: iStockphoto)
Likeindonesia.com, Palu – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri merilis rekap kondisi iklim dan kualitas udara Sulawesi Tengah sepanjang 2025, sekaligus prakiraan iklim untuk tahun 2026.
Sepanjang 2025, Sulawesi Tengah mengalami sejumlah kejadian iklim ekstrem.
Baca Lainnya :
- Indonesia Punya Lapangan Padel Terbanyak di ASEAN, Mayoritas Ada di Kota Ini
- BMKG Catat 160 Gempa Guncang Sulawesi Tengah dalam Dua Pekan
- Palu Perluas Koperasi Merah Putih, Gerai Dibangun di Huntap Tondo
- Populasi Endemik Sulawesi Bertambah, TN Lore Lindu Berhasil lepasliarkan 965 Anak Maleo hingga 2025
- Swiss-Belhotel Silae Palu Hadirkan Seafood Tumpah, Sensasi Santap Seafood Menghadap Teluk Palu
Suhu udara tertinggi tercatat mencapai 39,63 derajat Celsius pada 15 Mei di wilayah Dolago.
Sementara itu, curah hujan harian tertinggi mencapai 340 milimeter yang terjadi pada 4 Mei di Kecamatan Gimpu, menunjukkan intensitas hujan yang sangat tinggi dalam satu hari.
Dari sisi kualitas udara, BMKG mencatat adanya lonjakan signifikan konsentrasi partikulat PM10 pada Juli 2025.
Kondisi ini berpotensi berdampak pada kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan.
Selain itu, pemantauan gas rumah kaca menunjukkan konsentrasi karbon dioksida berada pada level dasar yang tinggi, melampaui 433 part per million (ppm), mencerminkan tren peningkatan emisi di atmosfer.
Memasuki tahun 2026, BMKG memprakirakan kondisi curah hujan di Sulawesi Tengah berada pada kategori normal hingga atas normal, khususnya pada awal tahun.
Peningkatan curah hujan ini berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor, terutama di wilayah rawan.
Di sisi lain, suhu udara pada 2026 diprediksi cenderung lebih hangat dibandingkan kondisi klimatologis normal, terutama di wilayah pesisir.
Kondisi ini perlu menjadi perhatian dalam berbagai sektor, mulai dari pengelolaan sumber daya air hingga kesehatan masyarakat.
BMKG juga menekankan pentingnya penyesuaian kalender tanam bagi sektor pertanian agar selaras dengan distribusi hujan yang diperkirakan terjadi.
Selain itu, optimalisasi waduk dan embung dinilai krusial sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau.
Dengan dinamika iklim yang diperkirakan semakin kompleks, BMKG mengingatkan perlunya kesiapsiagaan lintas sektor guna meminimalkan dampak risiko iklim di Sulawesi Tengah pada tahun mendatang. (Rul/Nl)










