- Suhu Palu Tembus 34,7 Derajat, Wagub Ajak Masyarakat Lebih Peduli Perubahan Iklim
- Palu Catat Suhu Maksimum 35 Derajat, Jadi Wilayah Terpanas Kedua di RI
- 50 Huntara Mulai Dibangun untuk Warga Terdampak Gempa di Sigi
- Akbar Supratman Salurkan Ribuan Paket Bantuan untuk Warga Terdampak Gempa di Sigi
- Dalam Sepekan, Gempa Susulan M 6,7 di Sulteng Capai 1.318 Kali
- PTN dan PTS se-Sulteng Bangun Kolaborasi Mitigasi Bencana Berbasis Riset
- Resmi Terpilih, Dua Pelajar Asal Bangkep dan Palu Wakili Sulteng Jadi Calon Paskibraka Nasional 2026
- Enam Hari Pascagempa M 6,7, Gempa Susulan di Sulteng Tembus 1.256 Kali
- Sensus Ekonomi 2026 Digelar, Masyarakat Sulteng Diajak Beri Data Akurat
- Ratusan Skater Ramaikan Go Skateboarding Day 2026 di Palu
BMKG Prediksi 2026 Lebih Basah Usai Iklim Ekstrem di Sulteng 2025

Keterangan Gambar : Ilustrasi. (Foto: iStockphoto)
Likeindonesia.com, Palu – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri merilis rekap kondisi iklim dan kualitas udara Sulawesi Tengah sepanjang 2025, sekaligus prakiraan iklim untuk tahun 2026.
Sepanjang 2025, Sulawesi Tengah mengalami sejumlah kejadian iklim ekstrem.
Baca Lainnya :
- Indonesia Punya Lapangan Padel Terbanyak di ASEAN, Mayoritas Ada di Kota Ini
- BMKG Catat 160 Gempa Guncang Sulawesi Tengah dalam Dua Pekan
- Palu Perluas Koperasi Merah Putih, Gerai Dibangun di Huntap Tondo
- Populasi Endemik Sulawesi Bertambah, TN Lore Lindu Berhasil lepasliarkan 965 Anak Maleo hingga 2025
- Swiss-Belhotel Silae Palu Hadirkan Seafood Tumpah, Sensasi Santap Seafood Menghadap Teluk Palu
Suhu udara tertinggi tercatat mencapai 39,63 derajat Celsius pada 15 Mei di wilayah Dolago.
Sementara itu, curah hujan harian tertinggi mencapai 340 milimeter yang terjadi pada 4 Mei di Kecamatan Gimpu, menunjukkan intensitas hujan yang sangat tinggi dalam satu hari.
Dari sisi kualitas udara, BMKG mencatat adanya lonjakan signifikan konsentrasi partikulat PM10 pada Juli 2025.
Kondisi ini berpotensi berdampak pada kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan.
Selain itu, pemantauan gas rumah kaca menunjukkan konsentrasi karbon dioksida berada pada level dasar yang tinggi, melampaui 433 part per million (ppm), mencerminkan tren peningkatan emisi di atmosfer.
Memasuki tahun 2026, BMKG memprakirakan kondisi curah hujan di Sulawesi Tengah berada pada kategori normal hingga atas normal, khususnya pada awal tahun.
Peningkatan curah hujan ini berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor, terutama di wilayah rawan.
Di sisi lain, suhu udara pada 2026 diprediksi cenderung lebih hangat dibandingkan kondisi klimatologis normal, terutama di wilayah pesisir.
Kondisi ini perlu menjadi perhatian dalam berbagai sektor, mulai dari pengelolaan sumber daya air hingga kesehatan masyarakat.
BMKG juga menekankan pentingnya penyesuaian kalender tanam bagi sektor pertanian agar selaras dengan distribusi hujan yang diperkirakan terjadi.
Selain itu, optimalisasi waduk dan embung dinilai krusial sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau.
Dengan dinamika iklim yang diperkirakan semakin kompleks, BMKG mengingatkan perlunya kesiapsiagaan lintas sektor guna meminimalkan dampak risiko iklim di Sulawesi Tengah pada tahun mendatang. (Rul/Nl)










