- Harga BBM Pertamina per 1 Juni Berubah, Pertamax Turbo Naik
- Sulteng Masuk Daerah Terbaik Pengendalian Inflasi di Sulawesi, Dapat Insentif Rp2 Miliar
- Palu dan Morowali Masuk Daerah Tujuan Migrasi Tertinggi di Sulteng
- Wakil Ketua MPR RI Akbar Supratman Sumbang Sapi Kurban di Masjid Raya Baitul Khairaat
- Kemendikdasmen Perbarui Kebijakan, Masuk SD Tak Lagi Harus Menunggu 7 Tahun
- Kendaraan di Palu Kini Wajib Menggunakan Plat Nomor Daerah
- Mandi Laut Usai Subuh, Warga Palu Barat Tewas Tenggelam di Kampung Nelayan
- Demi Efisiensi, Anggaran MBG 2026 Dipangkas Rp67 Triliun
- Siap-Siap Cair, Gaji Ke-13 ASN hingga Polri Mulai Dibayarkan Juni 2026
- Pusat Medis Modern di Cina Jadi Inspirasi Pengembangan Kesehatan di Sulteng
Indonesia Punya Lapangan Padel Terbanyak di ASEAN, Mayoritas Ada di Kota Ini

Keterangan Gambar : Ilustrasi lapangan padel. (Foto: iStockphoto)
Likeindonesia.com, Jakarta - Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah lapangan padel terbanyak di kawasan Asia Tenggara. Pertumbuhan pesat olahraga ini terjadi seiring menjamurnya lapangan di kota-kota besar, dengan Jakarta menjadi wilayah yang paling dominan.
Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat, menilai padel kini telah menyatu dengan karakter masyarakat perkotaan yang lekat dengan aktivitas sosial dan citra diri.
Baca Lainnya :
- BMKG Catat 160 Gempa Guncang Sulawesi Tengah dalam Dua Pekan
- Populasi Endemik Sulawesi Bertambah, TN Lore Lindu Berhasil lepasliarkan 965 Anak Maleo hingga 2025
- Lukisan Cap Tangan Tertua Dunia Berusia 67.800 Tahun Ditemukan di Pulau Muna, Sultra
- Nelayan Buol Temukan 15 WNA Filipina Terdampar di Laut Selama 13 Hari
- Sarjana Bisa Jadi Perwira Polri, SIPSS 2026 Resmi Dibuka
“Padel ini bukan hanya sport semata, tapi sudah menjadi bagian dari lifestyle urban. Orang-orang di kota punya self-branding sendiri dan padel menjadi bagian dari etalase aktivitas mereka,” ujarnya dalam diskusi media di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (23/1/2026), dikutip dari cnbcindonesia.
Pertumbuhan lapangan padel di Indonesia tak lepas dari dinamika kota-kota metropolitan. Bali disebut menjadi wilayah yang lebih dulu mengalami lonjakan, disusul Jakarta, lalu berkembang ke Bandung dan Medan. Namun, Jakarta kini menjadi pusat utama dengan konsentrasi lapangan terbesar.
“Sekitar 51 persen pertumbuhan lapangan padel di Asia Tenggara ada di Indonesia. Dan sekitar 40 persennya terkonsentrasi di Jakarta,” kata Syarifah.
Dari sisi regional, Indonesia mencatatkan angka pertumbuhan yang menonjol. Berdasarkan data Knight Frank, sekitar 51 persen pertumbuhan lapangan padel di Asia Tenggara berada di Indonesia.
Meski tumbuh cepat, pasar padel di Tanah Air dinilai masih jauh dari titik jenuh. Jika dibandingkan dengan negara yang lebih matang seperti Swedia dan Chili, rasio lapangan padel di Indonesia masih tergolong rendah.
“Di Swedia dan Chili, rasionya sekitar satu lapangan untuk 15.000 penduduk. Kita masih jauh dari angka itu, jadi peluang tumbuhnya masih sangat besar,” ujarnya.
Padel kini tak hanya dipandang sebagai olahraga, tetapi juga ruang berkumpul dan bersosialisasi. Turnamen komunitas, konten media sosial, hingga kolaborasi kreatif membuat padel semakin dekat dengan gaya hidup masyarakat perkotaan.
Di balik tren tersebut, padel juga dinilai sebagai olahraga yang mudah diakses. Biayanya relatif lebih terjangkau dibandingkan sejumlah olahraga premium, sehingga diminati kelas menengah di kota-kota besar.
Selain itu, padel juga dapat dimainkan oleh berbagai kelompok usia. Mulai dari mahasiswa hingga pekerja senior, olahraga ini tidak memiliki batasan usia yang kaku.
“Kalau golf mungkin hanya segmen tertentu, tapi padel bisa dimainkan mahasiswa sampai pekerja senior. Rentang umurnya luas, dari 18 tahun sampai usia matang pun masih bisa,” ujar Syarifah.
Syarifah menambahkan, kuatnya budaya olahraga raket di Indonesia turut mendorong pertumbuhan padel, meski kondisi daya beli masyarakat tengah menjadi perhatian.
“Kita ini sangat familiar dengan olahraga berbasis raket, seperti badminton dan tenis. Dulu main di depan rumah atau di jalan, sekarang kembali lagi lewat padel,” katanya.
“Padel punya resonansi karena bukan sekadar olahraga. Ada lifestyle-nya. Main sambil foto-foto, bikin video, ikut turnamen, semua itu membangun komunitas,” tutup Syarifah. (Nul/Nl)










