- 2,46% Rumah Tangga di Palu Masih Andalkan Air Hujan untuk Minum
- 40% Gen Z Pilih Nikah di KUA, Uang Lebih Diprioritaskan untuk Kehidupan Setelah Menikah
- Catat Jamnya! 25 September Ada Fenomena Hari Tanpa Bayangan di Enam Wilayah Sulteng, Termasuk Palu
- Influenza Tipe A Super Flu Merebak di RI, Anak-Anak Paling Banyak Terinfeksi
- KONI Sulteng Dorong PBFI Tingkatkan Pembinaan dan Prestasi Atlet
- Cegah Pungli, Polri Siapkan Mesin Cetak SKCK Mandiri Mulai 2027, Tak Perlu Lagi ke Kantor Polisi
- Kekeringan Mengintai Sejumlah Daerah Sulteng, Warga Diingatkan Bijak Gunakan Air Bersih
- Muhammadiyah Usulkan ke BPJPH, Rokok dan Vape Diberi Label Nonhalal
- Pendatang di Palu Paling Banyak Berasal dari Sulsel, Capai 33.603 Orang
- Kabar Baik! Guru PPPK Paruh Waktu Langsung Diangkat Jadi Penuh Waktu Per 1 Januari 2027, Tanpa Tes
Dulu, Masyarakat Lembah Palu Rela Menukar Seekor Sapi Demi Beli Kain Kulit Kayu di Kulawi

Keterangan Gambar : Kain kulit kayu khas Kulawi, Sulawesi Tengah. (Foto: Kemenparekraf)
Pada tahun 1940-an, kain kulit kayu bukan hanya sekadar pakaian, tetapi menjadi barang yang sangat berharga bagi masyarakat di Lembah Palu dan sekitarnya.
Kelangkaan bahan tekstil, terutama selama masa pendudukan Jepang, memaksa mereka mencari alternatif lain, hingga rela menukar seekor sapi demi mendapatkan selembar kain kulit kayu dari Kulawi.
Baca Lainnya :
Kain kulit kayu, yang dikenal dengan nama kumpe atau nunu, menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Kulawi dan Pandere di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.
Kain kulit kayu awalnya digunakan sebagai pakaian sehari-hari maupun untuk keperluan adat. Pembuatannya dilakukan secara mandiri oleh masyarakat, khususnya para ibu-ibu di Desa Kantewu dan sekitarnya.
Menurut para tetua adat, kain kulit kayu awalnya hanya diproduksi untuk kebutuhan lokal. Namun, Desa Kantewu kemudian menjadi pusat produksi kain kulit kayu, yang tak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat setempat, tetapi juga menarik perhatian penduduk luar Kulawi, khususnya dari Lembah Palu.
Dalam buku "Kumpe: Kain Kulit Kayu dalam Kehidupan Masyarakat Sulawesi Tengah", disebutkan bahwa pada masa sulit itu, masyarakat Lembah Palu terpaksa menggunakan karung goni sebagai pengganti pakaian. Dalam keadaan mendesak, mereka mendatangi Kulawi, terutama Desa Kantewu, untuk menukar barang berharga seperti seekor sapi dengan kain kulit kayu.



.jpg)






