- Harga BBM Pertamina per 1 Juni Berubah, Pertamax Turbo Naik
- Sulteng Masuk Daerah Terbaik Pengendalian Inflasi di Sulawesi, Dapat Insentif Rp2 Miliar
- Palu dan Morowali Masuk Daerah Tujuan Migrasi Tertinggi di Sulteng
- Wakil Ketua MPR RI Akbar Supratman Sumbang Sapi Kurban di Masjid Raya Baitul Khairaat
- Kemendikdasmen Perbarui Kebijakan, Masuk SD Tak Lagi Harus Menunggu 7 Tahun
- Kendaraan di Palu Kini Wajib Menggunakan Plat Nomor Daerah
- Mandi Laut Usai Subuh, Warga Palu Barat Tewas Tenggelam di Kampung Nelayan
- Demi Efisiensi, Anggaran MBG 2026 Dipangkas Rp67 Triliun
- Siap-Siap Cair, Gaji Ke-13 ASN hingga Polri Mulai Dibayarkan Juni 2026
- Pusat Medis Modern di Cina Jadi Inspirasi Pengembangan Kesehatan di Sulteng
Dulu, Masyarakat Lembah Palu Rela Menukar Seekor Sapi Demi Beli Kain Kulit Kayu di Kulawi

Keterangan Gambar : Kain kulit kayu khas Kulawi, Sulawesi Tengah. (Foto: Kemenparekraf)
Pada tahun 1940-an, kain kulit kayu bukan hanya sekadar pakaian, tetapi menjadi barang yang sangat berharga bagi masyarakat di Lembah Palu dan sekitarnya.
Kelangkaan bahan tekstil, terutama selama masa pendudukan Jepang, memaksa mereka mencari alternatif lain, hingga rela menukar seekor sapi demi mendapatkan selembar kain kulit kayu dari Kulawi.
Baca Lainnya :
Kain kulit kayu, yang dikenal dengan nama kumpe atau nunu, menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Kulawi dan Pandere di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.
Kain kulit kayu awalnya digunakan sebagai pakaian sehari-hari maupun untuk keperluan adat. Pembuatannya dilakukan secara mandiri oleh masyarakat, khususnya para ibu-ibu di Desa Kantewu dan sekitarnya.
Menurut para tetua adat, kain kulit kayu awalnya hanya diproduksi untuk kebutuhan lokal. Namun, Desa Kantewu kemudian menjadi pusat produksi kain kulit kayu, yang tak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat setempat, tetapi juga menarik perhatian penduduk luar Kulawi, khususnya dari Lembah Palu.
Dalam buku "Kumpe: Kain Kulit Kayu dalam Kehidupan Masyarakat Sulawesi Tengah", disebutkan bahwa pada masa sulit itu, masyarakat Lembah Palu terpaksa menggunakan karung goni sebagai pengganti pakaian. Dalam keadaan mendesak, mereka mendatangi Kulawi, terutama Desa Kantewu, untuk menukar barang berharga seperti seekor sapi dengan kain kulit kayu.










