- Harga BBM Pertamina per 1 Juni Berubah, Pertamax Turbo Naik
- Sulteng Masuk Daerah Terbaik Pengendalian Inflasi di Sulawesi, Dapat Insentif Rp2 Miliar
- Palu dan Morowali Masuk Daerah Tujuan Migrasi Tertinggi di Sulteng
- Wakil Ketua MPR RI Akbar Supratman Sumbang Sapi Kurban di Masjid Raya Baitul Khairaat
- Kemendikdasmen Perbarui Kebijakan, Masuk SD Tak Lagi Harus Menunggu 7 Tahun
- Kendaraan di Palu Kini Wajib Menggunakan Plat Nomor Daerah
- Mandi Laut Usai Subuh, Warga Palu Barat Tewas Tenggelam di Kampung Nelayan
- Demi Efisiensi, Anggaran MBG 2026 Dipangkas Rp67 Triliun
- Siap-Siap Cair, Gaji Ke-13 ASN hingga Polri Mulai Dibayarkan Juni 2026
- Pusat Medis Modern di Cina Jadi Inspirasi Pengembangan Kesehatan di Sulteng
Ina Tobani, Maestro Kain Kulit Kayu Kulawi yang Menjaga Warisan 4.000 Tahun
.jpg)
Keterangan Gambar : Ina Tobani, maestro kain kulit kayu dari Tanah Kulawi. (Foto: IST)
Likeindonesia.com, Sigi – Kain kulit kayu resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia pada 2023.
Tradisi yang telah bertahan sekitar 4.000 tahun ini terus diwariskan masyarakat adat, khususnya di wilayah Kulawi, Sulawesi Tengah.
Baca Lainnya :
- Akhirnya Rampung! Masjid Raya Baitul Khairaat Siap Diresmikan 4 Desember 2025, UAS Dijadwalkan Hadir
- Polisi Amankan 60 Kilogram Sabu Jaringan Internasional di Wilayah Pantai Barat Donggala
- Usulan WPR Emas di Parimo Picu Penolakan, Warga Ingatkan Status Daerah sebagai Lumbung Pangan
- Satgas PKA dan Pakar ITB Verifikasi Keretakan Rumah Warga Diduga Akibat Aktivitas PLTA di Poso
- Program Dukungan Psikososial untuk 31 Sekolah Terdampak Gempa Poso Dimulai di Palu
Di antara para penjaga tradisi, Ina Tobani menjadi figur sentral yang hingga kini masih mempertahankan keterampilan leluhur tersebut.
Ina Tobani, maestro kain kulit kayu dari Tanah Kulawi, menekuni kerajinan ini sejak lulus dari Sekolah Rakyat. Di usia 84 tahun, ia masih aktif memproduksi kain kulit kayu sebagai mata pencaharian utama.
“Saya sudah tua, dan sudah tidak diizinkan lagi untuk ke kebun atau ke sawah. Jadi sekarang saya hanya membuat kain kulit kayu untuk dijual,” ujarnya.
Ia menjadikan hasil penjualan kain, mulai dari lembaran hingga pakaian adat, sebagai sumber penghidupan, sekaligus memenuhi kebutuhan keluarga dan merawat tiga anaknya yang sedang sakit.
Ina Tobani menyampaikan bahwa keterbatasan fisik membuatnya kini fokus pada pembuatan kain kulit kayu untuk dijual sebagai penopang hidup.
Selain memproduksi, Ina Tobani juga membentuk kelompok pengrajin yang beranggotakan warga Desa Mataue, Kulawi.
Kelompok tersebut aktif melakukan pelatihan dan produksi, dengan pembinaan yang diberikan secara cuma-cuma sebagai wujud kecintaan pada budaya serta komitmen melestarikan pengetahuan pembuatan kain kulit kayu.
Ia menegaskan bahwa menjaga warisan leluhur lebih penting daripada keuntungan pribadi.
Dengan pengabdian lebih dari 72 tahun, Ina Tobani menjadi simbol pelestarian budaya lokal.
Ketekunan dan kepeduliannya membuat tradisi kain kulit kayu tetap hidup sebagai identitas masyarakat Kulawi dan bagian penting dari kekayaan budaya Sulawesi Tengah, sekaligus memastikan warisan ribuan tahun itu terus diwariskan kepada generasi penerus. (Rul/Nl)










