- 8 Tahun Dikira Meninggal akibat Tsunami Palu, Jumaidin Tiba-tiba Pulang ke Kampung di Tojo Una-Una
- Tips Memilih Restoran untuk Makan Bersama Saat di Pusat Perbelanjaan
- Dua Hari Tak Berangkat Kerja, Perempuan 29 Tahun Ditemukan Meninggal di Kamar Kos Tondo
- Jemaah Haji Sulteng Diusulkan Tak Lagi Menginap di Balikpapan pada 2027
- Hampir 4 Ribu Orang di Sulteng Tercatat Positif HIV, Hanya 57 Persen Jalani Pengobatan
- Jaga Kelestarian Ikan Endemik, DKP Sulteng Minta Penebaran Nila di Danau Poso Dievaluasi
- Awal Musim Hujan di Indonesia Tak Serentak, Sulteng Masuk Daerah yang Mulai Hujan Oktober
- Sulteng Jadi Tuan Rumah Tanwir Muhammadiyah, Presiden Prabowo Diagendakan Hadir
- Muhammadiyah Tekankan Karhutla Tak Boleh Dinormalisasi sebagai Bencana Tahunan
- Festival Tende Ditunda, Rencana Tabligh Akbar sebagai Pengganti Disambut Baik Wamenag
Ina Tobani, Maestro Kain Kulit Kayu Kulawi yang Menjaga Warisan 4.000 Tahun
.jpg)
Keterangan Gambar : Ina Tobani, maestro kain kulit kayu dari Tanah Kulawi. (Foto: IST)
Likeindonesia.com, Sigi – Kain kulit kayu resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia pada 2023.
Tradisi yang telah bertahan sekitar 4.000 tahun ini terus diwariskan masyarakat adat, khususnya di wilayah Kulawi, Sulawesi Tengah.
Baca Lainnya :
- Akhirnya Rampung! Masjid Raya Baitul Khairaat Siap Diresmikan 4 Desember 2025, UAS Dijadwalkan Hadir
- Polisi Amankan 60 Kilogram Sabu Jaringan Internasional di Wilayah Pantai Barat Donggala
- Usulan WPR Emas di Parimo Picu Penolakan, Warga Ingatkan Status Daerah sebagai Lumbung Pangan
- Satgas PKA dan Pakar ITB Verifikasi Keretakan Rumah Warga Diduga Akibat Aktivitas PLTA di Poso
- Program Dukungan Psikososial untuk 31 Sekolah Terdampak Gempa Poso Dimulai di Palu
Di antara para penjaga tradisi, Ina Tobani menjadi figur sentral yang hingga kini masih mempertahankan keterampilan leluhur tersebut.
Ina Tobani, maestro kain kulit kayu dari Tanah Kulawi, menekuni kerajinan ini sejak lulus dari Sekolah Rakyat. Di usia 84 tahun, ia masih aktif memproduksi kain kulit kayu sebagai mata pencaharian utama.
“Saya sudah tua, dan sudah tidak diizinkan lagi untuk ke kebun atau ke sawah. Jadi sekarang saya hanya membuat kain kulit kayu untuk dijual,” ujarnya.
Ia menjadikan hasil penjualan kain, mulai dari lembaran hingga pakaian adat, sebagai sumber penghidupan, sekaligus memenuhi kebutuhan keluarga dan merawat tiga anaknya yang sedang sakit.
Ina Tobani menyampaikan bahwa keterbatasan fisik membuatnya kini fokus pada pembuatan kain kulit kayu untuk dijual sebagai penopang hidup.
Selain memproduksi, Ina Tobani juga membentuk kelompok pengrajin yang beranggotakan warga Desa Mataue, Kulawi.
Kelompok tersebut aktif melakukan pelatihan dan produksi, dengan pembinaan yang diberikan secara cuma-cuma sebagai wujud kecintaan pada budaya serta komitmen melestarikan pengetahuan pembuatan kain kulit kayu.
Ia menegaskan bahwa menjaga warisan leluhur lebih penting daripada keuntungan pribadi.
Dengan pengabdian lebih dari 72 tahun, Ina Tobani menjadi simbol pelestarian budaya lokal.
Ketekunan dan kepeduliannya membuat tradisi kain kulit kayu tetap hidup sebagai identitas masyarakat Kulawi dan bagian penting dari kekayaan budaya Sulawesi Tengah, sekaligus memastikan warisan ribuan tahun itu terus diwariskan kepada generasi penerus. (Rul/Nl)










