- Ketua DPRD se-Sulteng Dorong Penguatan Sinergi Pembangunan Daerah
- 459 Ton Durian Sulteng Diekspor ke Tiongkok, Digadang Jadi Ikon Baru Nasional
- Pemerintah Buka 35 Ribu Loker KDKMP dan KNMP, Pelamar yang Lolos Jadi Pegawai BUMN
- Ketika Pemerintah Daerah Menyewa Influencer, Sebuah Jalan Pintas?
- Ketua DPRD Kota Palu Ikuti Retret Ketua DPRD se-Indonesia di Akmil Magelang
- Gubernur Anwar Hafid Ungkap Rencana Alun-alun Ikonik di Palu, Konsepnya Mirip Halaman Istana Negara
- Nambaso Fest 2026 Resmi Dibuka, Digelar Meriah Tanpa Membebani Anggaran Daerah
- HUT ke-62 Sulteng, Gubernur Tekankan Pemerataan Kesejahteraan di Seluruh Daerah
- Turun Langsung ke Desa Dalaka, Gubernur Sulteng Tancap Gas Perbaiki Jalan dan Layanan Warga
- Liga 4 Piala Gubernur Sulteng Resmi Bergulir, Talenta Muda Didorong Berprestasi Lewat Sepak Bola
Polda Sulteng Siagakan Personel Hadapi Ancaman Cuaca Ekstrem

Keterangan Gambar : Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Pol Endi Sutendi bertemu wartawan usai apel gelar pasukan tanggap darurat bencana hidrometeorologi, Rabu (5/11) pagi. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu — Menjelang puncak musim hujan, Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah menggelar apel gelar pasukan tanggap darurat bencana hidrometeorologi, Rabu (5/11) pagi.
Kegiatan yang berlangsung di halaman Mapolda Sulteng itu menjadi bentuk kesiapan menghadapi potensi cuaca ekstrem di wilayah Sulawesi Tengah.
Baca Lainnya :
- Gempa Magnitudo 4,6 Guncang Wilayah Barat Daya Donggala
- Palu Kurangi 7 Ribu Ton Sampah per Tahun, Tertinggi di Sulteng
- PKM BEM Berdampak Unisa Palu Latih Warga Sigi Olah Bubuk Daun Kelor untuk Cegah Stunting
- Nelayan Hilang Di Perairan Umpanga, Tim Sar Gabungan Lakukan Pencarian
- BMKG: Megathrust Tolitoli–Buol Potensi Ilmiah, Bukan Ancaman Langsung
Apel dipimpin Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Pol Endi Sutendi, sekaligus membacakan amanat Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.
Dalam amanatnya, Kapolri menekankan pentingnya kesiapsiagaan seluruh elemen bangsa dalam menghadapi berbagai potensi bencana alam yang meningkat di musim penghujan.
“Kegiatan ini merupakan bentuk pengecekan terhadap kesiapan personel maupun sarana dan prasarana dalam pencegahan serta penanggulangan bencana alam,” ujar Irjen Pol Endi Sutendi, dalam sambutannya.
Menurutnya, bencana alam kini menjadi tantangan global yang dihadapi banyak negara.
Berdasarkan laporan United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR) tahun 2025, lebih dari 124 juta jiwa di dunia terdampak bencana setiap tahunnya.
Ia menyebut, Kondisi geografis Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire menjadikan negeri ini sebagai salah satu negara dengan tingkat kerawanan bencana tertinggi di dunia.
Kapolda juga mengutip hasil World Risk Index 2025 yang menempatkan Indonesia di peringkat ketiga negara dengan potensi bencana alam tertinggi.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 19 Oktober 2025 mencatat, sedikitnya 2.606 kejadian bencana telah terjadi di Indonesia sepanjang tahun ini.
"Di antaranya 1.289 banjir, 544 cuaca ekstrem, 511 kebakaran hutan dan lahan, serta 189 tanah longsor," ujarnya.
Berbagai bencana tersebut mengakibatkan 361 orang meninggal dunia, 37 hilang, 615 luka-luka, dan lebih dari lima juta orang mengungsi.
Selain korban jiwa, lanjutnya, dampak bencana juga mengganggu kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Karena itu, dibutuhkan langkah-langkah strategis dan berkelanjutan dalam upaya mitigasi.
“Diperlukan kesiapan yang optimal dari seluruh elemen bangsa — baik TNI-Polri, pemerintah, BNPB, Basarnas, PMI, BMKG, hingga masyarakat — guna menjamin quick response terhadap setiap situasi bencana,” kata Kapolda.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sekitar 43,8 persen wilayah Indonesia kini telah memasuki musim hujan, dengan puncaknya diperkirakan terjadi antara November 2025 hingga Januari 2026.
Kapolda menjelaskan, meningkatnya curah hujan berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin puting beliung, dan gelombang tinggi.
Fenomena La Nina juga diprediksi muncul pada November 2025 hingga Februari 2026.
“Meskipun La Nina kali ini diprediksi dalam kategori lemah, namun tetap harus diwaspadai karena dapat berpengaruh terhadap meningkatnya kerawanan bencana,” katanya.
Dalam menghadapi ancaman tersebut, Polda Sulteng bersama instansi terkait diminta memperkuat koordinasi, meningkatkan deteksi dini, dan memastikan kesiapan peralatan tanggap darurat.
“Kecepatan dan ketepatan respons menjadi faktor utama keberhasilan penanggulangan bencana,” tegas Irjen Pol Endi Sutendi.
Melalui sinergitas dan kolaborasi yang terintegrasi, ia yakin akan mampu memaksimalkan upaya mitigasi dan menurunkan tingkat kerentanan masyarakat. (Rul/Nl)










