- Karyawan Kafe di Palu Ditemukan Tewas Terjepit di Lift Barang, Jenazah Dipulangkan ke Tada
- KONI Sulteng Mulai Matangkan Persiapan Hadapi PON Pantai 2026
- Skema Bansos Berubah! Mulai 2027, Penerima Bakal Dapat Transfer Tunai
- Penerbangan Bandara IMIP ke Palu Resmi Beroperasi, Waktu Tempuh Hanya 45 Menit
- Ratusan PPPK Nakes Sulteng Minta Kepastian Status, Gubernur Langsung Hubungi Wamenkes
- Pertamina Minta Maaf, Rencana Wajib Tunjukkan STNK Saat Beli BBM Subsidi Dibatalkan
- 318 Kebakaran Terjadi di Palu hingga Agustus 2026, Mantikulore Tertinggi
- Mulai 15 September, Isi Biosolar di Sejumlah SPBU Wajib Bawa STNK
- Siap-Siap! Harga Tiket Pesawat Bisa Makin Mahal, Ini Aturan Baru Kemenhub
- Piala Soeratin Sulteng Resmi Bergulir, Gubernur Dorong Pembinaan Berjenjang Menuju PON 2028
Rumah Lansia di Desa Wani Hanyut Diterjang Banjir, Tini: Tiada yang Tersisa

Keterangan Gambar : Tini (72 th), warga Dusun III, Desa Wani I, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, harus memulai hidup dari nol setelah rumah kayu yang ia tempati bersama dua anak laki-lakinya hanyut diterjang banjir. (Foto: Bimaz/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, DONGGALA — Tini (72 th), warga Dusun III, Desa Wani I, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, harus memulai hidup dari nol setelah rumah kayu yang ia tempati bersama dua anak laki-lakinya hanyut diterjang banjir, menyisakan dirinya dan keluarga hanya dengan pakaian yang melekat di badan.
Banjir melanda wilayah tersebut pada Minggu (11/1/2026) setelah hujan deras berintensitas tinggi menyebabkan debit air sungai meningkat tajam dan meluap ke permukiman warga.
Baca Lainnya :
- Dusun Sisere Terisolir, Satu Orang Bumil Berhasil Dievakuasi
- Touna, Banggai Laut, dan Tolitoli Jadi Daerah dengan Lonjakan Wisatawan Terbesar di Sulteng
- Banjir Rendam Pantoloan, Arus di Jalur Trans Sulawesi Sempat Terhambat
- Satu-Satunya Akses Warga, Jembatan Desa Lero Kabupaten Donggala Terancam Putus
- Kasus HIV di Sulteng Tembus 700 pada 2025, Palu Masih Tertinggi
Saat peristiwa terjadi, Tini tidak berada di rumah. Ia tengah berada di Desa Wombo untuk menjaga orang tuanya yang sedang sakit.
“Saya kemarin tidak ada di sini, cuma anakku saja di rumah. Saya di Wombo jaga orang tua sakit,” ujarnya saat ditemui, Senin (12/1/2026) siang.
Kabar rumahnya hanyut baru ia terima beberapa jam kemudian dari dua orang tetangganya.
“Saya tahu nanti dua orang tetanggaku ba kasi tahu kalau rumahku sudah tidak ada lagi,” katanya.
Derasnya arus banjir membuat seluruh barang di dalam rumah tidak sempat diselamatkan. Peralatan dapur, kasur, bantal, hingga pakaian hanyut terbawa arus.
“Tidak ada yang tersisa, tidak ada barang yang anakku sempat selamatkan. Kesana semua alat dapur, kasur, bantal. Sudah di laut, tidak ada yang tinggal, tinggal baju di badan,” tutur Tini lirih.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah, banjir melanda empat desa di Kecamatan Tanantovea, yakni Desa Wani I, Wani II, Wani III, dan Wani Lumbumpetigo. Khusus di Desa Wani I, tercatat tiga unit rumah hanyut terbawa arus.
Tini sehari-hari mengandalkan penghasilan sebagai tukang cuci pakaian harian dengan pendapatan sekitar Rp20 ribu hingga Rp50 ribu per hari. Salah satu anaknya bekerja sebagai sopir taksi.
Kini, tanpa rumah dan harta benda, Tini dan keluarganya mengungsi dan menerima bantuan sementara dari pemerintah berupa tenda pengungsian keluarga, kasur, perlengkapan dapur (kitware), makanan siap saji, terpal, serta selimut. (BIM/Nl)










