- Karyawan Kafe di Palu Ditemukan Tewas Terjepit di Lift Barang, Jenazah Dipulangkan ke Tada
- KONI Sulteng Mulai Matangkan Persiapan Hadapi PON Pantai 2026
- Skema Bansos Berubah! Mulai 2027, Penerima Bakal Dapat Transfer Tunai
- Penerbangan Bandara IMIP ke Palu Resmi Beroperasi, Waktu Tempuh Hanya 45 Menit
- Ratusan PPPK Nakes Sulteng Minta Kepastian Status, Gubernur Langsung Hubungi Wamenkes
- Pertamina Minta Maaf, Rencana Wajib Tunjukkan STNK Saat Beli BBM Subsidi Dibatalkan
- 318 Kebakaran Terjadi di Palu hingga Agustus 2026, Mantikulore Tertinggi
- Mulai 15 September, Isi Biosolar di Sejumlah SPBU Wajib Bawa STNK
- Siap-Siap! Harga Tiket Pesawat Bisa Makin Mahal, Ini Aturan Baru Kemenhub
- Piala Soeratin Sulteng Resmi Bergulir, Gubernur Dorong Pembinaan Berjenjang Menuju PON 2028
Sampah Laut di Morowali Disorot, Disebut Menghambat Aktivitas Pelayaran

Keterangan Gambar : Bupati Morowali, Iksan Baharudin Abdul Rauf, menyoroti sampah di wilayah perairan Morowali. (Foto : IST)
Likeindonesia.com, Morowali – Persoalan sampah di laut masih menjadi masalah serius di wilayah perairan Morowali.
Sampah yang mengapung di laut tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga disebut mulai mengganggu aktivitas pelayaran di sejumlah jalur laut.
Baca Lainnya :
- Pria Asal Sultra Diciduk di Bahodopi, Polisi Sita Sabu 154,58 Gram
- Ramp Check di Pelabuhan Rakyat Banggai Laut, Sejumlah Kapal Diminta Lengkapi Alat Keselamatan
- Tenaga Honorer Sulteng Diminta Tenang, Wagub Pastikan Honor Tetap Cair
- Mudik Lewat Laut? Pelni Palu Siapkan Dua Kapal, Tiket Ekonomi Diskon 30 Persen
- Gempa Magnitudo 5,0 Guncang Perairan Tojo Una-Una, Terasa di Ampana
Kondisi tersebut diungkapkan Bupati Morowali, Iksan Baharudin Abdul Rauf, yang mengaku sering melihat langsung banyaknya sampah di laut saat melakukan perjalanan antarwilayah menggunakan jalur laut.
Menurutnya, penanganan sampah di daratan mulai menunjukkan kemajuan, namun persoalan sampah di laut masih menjadi tantangan yang belum terselesaikan.
“Persoalan sampah di daratan sudah mulai menghampiri sekitar 80 persen mulai tuntas. Tapi yang paling berbahaya hari ini adalah sampah di laut. Ini menjadi PR terbesar kita bersama,” ujar Iksan, dikutip dari akun media sosial @iksanbaharudin_, Sabtu (14/3/2026).
Ia menjelaskan, keberadaan sampah yang mengapung bahkan bisa memperlambat perjalanan kapal.
Dalam beberapa perjalanan, kapal harus mengurangi kecepatan atau menghindari tumpukan sampah di permukaan laut.
“Kalau ditanya kenapa Pak Bupati tau banyak sampah di laut? Saya ini sekarang 50-50 perjalanan saya, laut 50 persen dan daratan 50 persen. Justru yang membuat perjalanan laut sering terlambat itu karena sampah,” katanya.
Ia mencontohkan perjalanan laut dari Bungku menuju Bahodopi yang normalnya dapat ditempuh sekitar 20 menit.
Namun ketika sampah banyak mengapung di perairan, waktu tempuh bisa bertambah hingga dua kali lipat karena kapal harus beberapa kali berhenti.
“Jadi ini sudah kita buktikan. Kalau dikatakan sampah laut itu tidak ada, nyatanya sampah laut itu ada dan sangat banyak,” pungkasnya. (Rul/Nl)










