- Karyawan Kafe di Palu Ditemukan Tewas Terjepit di Lift Barang, Jenazah Dipulangkan ke Tada
- KONI Sulteng Mulai Matangkan Persiapan Hadapi PON Pantai 2026
- Skema Bansos Berubah! Mulai 2027, Penerima Bakal Dapat Transfer Tunai
- Penerbangan Bandara IMIP ke Palu Resmi Beroperasi, Waktu Tempuh Hanya 45 Menit
- Ratusan PPPK Nakes Sulteng Minta Kepastian Status, Gubernur Langsung Hubungi Wamenkes
- Pertamina Minta Maaf, Rencana Wajib Tunjukkan STNK Saat Beli BBM Subsidi Dibatalkan
- 318 Kebakaran Terjadi di Palu hingga Agustus 2026, Mantikulore Tertinggi
- Mulai 15 September, Isi Biosolar di Sejumlah SPBU Wajib Bawa STNK
- Siap-Siap! Harga Tiket Pesawat Bisa Makin Mahal, Ini Aturan Baru Kemenhub
- Piala Soeratin Sulteng Resmi Bergulir, Gubernur Dorong Pembinaan Berjenjang Menuju PON 2028
Warisan Ramuan 24 Bahan Obat Kaili yang Mulai Redup Dihidupkan Kembali Lewat Workshop Lingkao

Keterangan Gambar : Maestro Bedak Lingkao Asdar Nasar dalam Workshop “Lingkao” bertema Pengetahuan Tradisional Berbahan Rempah-Rempah pada Suku Kaili, Minggu, (23/11/2025). (Foto: Bimaz/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, DONGGALA – Upaya pelestarian pengetahuan tradisional Suku Kaili menjadi fokus utama dalam Workshop “Lingkao” bertema Pengetahuan Tradisional Berbahan Rempah-Rempah pada Suku Kaili yang difasilitasi BPK Wilayah XVIII melalui program fasilitasi pemajuan kebudayaan yang digelar pada 22–23 November 2025.
Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Maestro Bedak Lingkao Asdar Nasar, budayawan Zulkifli Pagesa (Uun), dan peneliti budaya Jamrin Abu Bakar.
Baca Lainnya :
- Aliansi Honorer Desak Pemkot Palu Perjuangkan PPPK Paruh Waktu
- Mangrovers Palu Desak Kepastian Hukum Status Kawasan Rehabilitasi Mangrove di Teluk Palu
- Palu Bakal Jadi yang Pertama, Bapemperda DPRD Matangkan Ranperda Khusus Pendidikan Kebencanaan
- Turnamen Push Bike di Palu Jadi Ajang Seru dan Edukatif bagi Rider Cilik
- Kemendukbangga/BKKBN Dorong Akselerasi Program Kependudukan Menuju Indonesia Emas 2045
Ketua panitia, Mas Intan, menjelaskan bahwa Lingkao pada dasarnya adalah istilah untuk penyakit tradisional yang umum dialami anak hingga remaja. Seiring waktu, nama Lingkao juga melekat pada ramuan herbal yang digunakan untuk mengobatinya, yaitu sebuah bedak dingin berbahan rempah dan dedaunan lokal yang kemudian dikenal luas sebagai bedak Lingkao.
“Disebut bedak Lingkao karena ramuan inilah yang sejak dulu digunakan masyarakat untuk menangani penyakit tersebut,” ujarnya.
Dalam sesi praktik, para narasumber memperagakan proses peracikan ramuan yang menjadi inti pengetahuan tradisional ini. Bedak Lingkao dibuat dari sedikitnya 24 jenis bahan, mulai dari rempah pasar seperti cengkeh, pala, dan kayu manis, hingga dedaunan lokal seperti daun mangkok, daun jarak, dan daun silalondo.
Seluruh bahan ditumbuk hingga halus menjadi bedak dingin untuk pemakaian luar, sementara sebagian komponennya dapat dilarutkan sebagai obat batuk tradisional.
“Bahan-bahannya banyak, lebih dari dua lusin. Semua punya fungsi masing-masing dan diwariskan turun-temurun,” kata Mas Intan menegaskan.
Pelestarian pengetahuan menjadi fokus utama workshop ini. Mas Intan menyebut kegiatan tersebut sebagai langkah strategis menjaga warisan budaya agar tetap hidup.
“Kami ingin memastikan pengetahuan tradisional seperti Lingkao tidak hilang di tengah modernisasi,” tuturnya.
Workshop ini juga sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang mendorong perlindungan Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK).
Panitia berharap kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam mendorong pengusulan praktik pengobatan Lingkao sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Generasi muda pun diharapkan kembali mengenal, mempelajari, dan melanjutkan praktik herbal lokal yang telah diwariskan nenek moyang.
Sebagai tindak lanjut, tim penggagas bersama maestro akan mengawal produksi bedak Lingkao secara lebih profesional. Upaya branding juga tengah disiapkan agar produk tradisional ini tetap relevan dan dapat bersaing dengan produk herbal lainnya tanpa menghilangkan nilai budaya yang melekat di dalamnya. (BIM/Nl)










