- Harga BBM Pertamina per 1 Juni Berubah, Pertamax Turbo Naik
- Sulteng Masuk Daerah Terbaik Pengendalian Inflasi di Sulawesi, Dapat Insentif Rp2 Miliar
- Palu dan Morowali Masuk Daerah Tujuan Migrasi Tertinggi di Sulteng
- Wakil Ketua MPR RI Akbar Supratman Sumbang Sapi Kurban di Masjid Raya Baitul Khairaat
- Kemendikdasmen Perbarui Kebijakan, Masuk SD Tak Lagi Harus Menunggu 7 Tahun
- Kendaraan di Palu Kini Wajib Menggunakan Plat Nomor Daerah
- Mandi Laut Usai Subuh, Warga Palu Barat Tewas Tenggelam di Kampung Nelayan
- Demi Efisiensi, Anggaran MBG 2026 Dipangkas Rp67 Triliun
- Siap-Siap Cair, Gaji Ke-13 ASN hingga Polri Mulai Dibayarkan Juni 2026
- Pusat Medis Modern di Cina Jadi Inspirasi Pengembangan Kesehatan di Sulteng
Warisan Ramuan 24 Bahan Obat Kaili yang Mulai Redup Dihidupkan Kembali Lewat Workshop Lingkao

Keterangan Gambar : Maestro Bedak Lingkao Asdar Nasar dalam Workshop “Lingkao” bertema Pengetahuan Tradisional Berbahan Rempah-Rempah pada Suku Kaili, Minggu, (23/11/2025). (Foto: Bimaz/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, DONGGALA – Upaya pelestarian pengetahuan tradisional Suku Kaili menjadi fokus utama dalam Workshop “Lingkao” bertema Pengetahuan Tradisional Berbahan Rempah-Rempah pada Suku Kaili yang difasilitasi BPK Wilayah XVIII melalui program fasilitasi pemajuan kebudayaan yang digelar pada 22–23 November 2025.
Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Maestro Bedak Lingkao Asdar Nasar, budayawan Zulkifli Pagesa (Uun), dan peneliti budaya Jamrin Abu Bakar.
Baca Lainnya :
- Aliansi Honorer Desak Pemkot Palu Perjuangkan PPPK Paruh Waktu
- Mangrovers Palu Desak Kepastian Hukum Status Kawasan Rehabilitasi Mangrove di Teluk Palu
- Palu Bakal Jadi yang Pertama, Bapemperda DPRD Matangkan Ranperda Khusus Pendidikan Kebencanaan
- Turnamen Push Bike di Palu Jadi Ajang Seru dan Edukatif bagi Rider Cilik
- Kemendukbangga/BKKBN Dorong Akselerasi Program Kependudukan Menuju Indonesia Emas 2045
Ketua panitia, Mas Intan, menjelaskan bahwa Lingkao pada dasarnya adalah istilah untuk penyakit tradisional yang umum dialami anak hingga remaja. Seiring waktu, nama Lingkao juga melekat pada ramuan herbal yang digunakan untuk mengobatinya, yaitu sebuah bedak dingin berbahan rempah dan dedaunan lokal yang kemudian dikenal luas sebagai bedak Lingkao.
“Disebut bedak Lingkao karena ramuan inilah yang sejak dulu digunakan masyarakat untuk menangani penyakit tersebut,” ujarnya.
Dalam sesi praktik, para narasumber memperagakan proses peracikan ramuan yang menjadi inti pengetahuan tradisional ini. Bedak Lingkao dibuat dari sedikitnya 24 jenis bahan, mulai dari rempah pasar seperti cengkeh, pala, dan kayu manis, hingga dedaunan lokal seperti daun mangkok, daun jarak, dan daun silalondo.
Seluruh bahan ditumbuk hingga halus menjadi bedak dingin untuk pemakaian luar, sementara sebagian komponennya dapat dilarutkan sebagai obat batuk tradisional.
“Bahan-bahannya banyak, lebih dari dua lusin. Semua punya fungsi masing-masing dan diwariskan turun-temurun,” kata Mas Intan menegaskan.
Pelestarian pengetahuan menjadi fokus utama workshop ini. Mas Intan menyebut kegiatan tersebut sebagai langkah strategis menjaga warisan budaya agar tetap hidup.
“Kami ingin memastikan pengetahuan tradisional seperti Lingkao tidak hilang di tengah modernisasi,” tuturnya.
Workshop ini juga sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang mendorong perlindungan Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK).
Panitia berharap kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam mendorong pengusulan praktik pengobatan Lingkao sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Generasi muda pun diharapkan kembali mengenal, mempelajari, dan melanjutkan praktik herbal lokal yang telah diwariskan nenek moyang.
Sebagai tindak lanjut, tim penggagas bersama maestro akan mengawal produksi bedak Lingkao secara lebih profesional. Upaya branding juga tengah disiapkan agar produk tradisional ini tetap relevan dan dapat bersaing dengan produk herbal lainnya tanpa menghilangkan nilai budaya yang melekat di dalamnya. (BIM/Nl)










