- Resmi Diumumkan! Tunjangan Guru Naik, Non-ASN Jadi Rp 2 Juta dan ASN Setara Gaji Pokok
- Wagub Sulteng Lantik Dokter Ahli Utama, Dukung Transformasi RS Undata Berstandar Internasional
- DPRD Kota Palu Desak Pemkot Perkuat Koordinasi dalam Penyusunan Tata Ruang
- DPRD Palu Sahkan Hasil Evaluasi LKPJ 2025, 37 Rekomendasi Diserahkan ke Pemkot
- DPRD Palu Desak Pemkot Tuntaskan Masalah Lahan Tidur dan Air Bersih di Dua Kelurahan
- DPRD Palu Soroti Overkapasitas RS, Biaya Visum, dan Denda BPJS yang Bebani Warga
- Dari Huntap hingga Pajak Daerah, DPRD Palu Paparkan Hasil Kerja Caturwulan I
- 8 Rumah Sakit Swasta di Palu Terancam Tak Bisa Beroperasi, DPRD Soroti Masalah Perizinan
- Abdurahim Nasar Al-Amri Soroti Mandeknya RDTR, DPRD Palu Siap Koordinasi Ulang ke Pusat
- Ribuan Izin Usaha Tertolak, DPRD Kota Palu Cari Solusi Sengkarut Perizinan OSS yang Terkendala KBLI
Palu Menari Festival 2025: Komunitas Seni Lobo Dorong Ekosistem Tari Lebih Inklusif

Keterangan Gambar : Penampilan penari dalam gelaran Palu Menari Festival 2025, Kamis (25/9/2025). (Foto: Bimaz/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, PALU - Gelaran Palu Menari Festival 2025 dengan tajuk “Titik Temu: Move On, Bergerak untuk Berpindah” diharapkan memberi kontribusi lebih besar bagi ekosistem tari Indonesia, tidak hanya di kota-kota besar, tetapi juga di daerah.
Koreografer sekaligus dosen seni tari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Hartati menilai keberlangsungan festival ini penting bagi regenerasi seniman.
Baca Lainnya :
- Festival Literasi Keluarga di Palu Dorong Peran Orang Tua Bangun Budaya Baca
- BGN Evaluasi SPPG Bermasalah, Siapkan Skema Akreditasi Nasional
- DPRD dan Pemprov Sepakat, Tompotika Segera Jadi Kabupaten Baru di Sulteng
- PPA Polresta Palu Gelar Rekonstruksi Kasus KDRT, Suami Bakar Istri hingga Meninggal
- Bahasa Daerah di Sulteng Terancam Punah, Balai Bahasa Perkuat Pengawasan Bahasa
“Tari kontemporer tidak akan merusak tradisi. Justru ia bisa menjadi wadah untuk menggali nilai budaya agar tetap relevan dengan kondisi hari ini,” ujarnya dalam malam penutupan gelaran tersebut, Kamis (25/9/2025).
Senada dengan itu koreografer nasional Eko Supriyanto menekankan pentingnya karya seni yang mampu memberi dampak emosional.
“Bukan soal tradisi atau kontemporer, yang utama adalah bagaimana karya tari bisa menggerakkan hati penonton,” katanya.
Program Manager Komunitas Seni Lobo Iin Ainar Lawide menegaskan bahwa Palu Menari telah menjadi ruang tumbuh pascabencana dan kini memasuki tahun kelima. Ia berharap pemerintah lebih memberi dukungan terhadap praktik kesenian di Sulawesi Tengah.
“Kami ingin Palu Menari tidak hanya berhenti di panggung, tapi juga melahirkan gagasan lintas disiplin. Dengan dukungan regulasi dan sinergi pemerintah, seni bisa memberi dampak lebih luas bagi masyarakat,” tutupnya.
Festival yang berlangsung di Jln Tawanjuka, Kota Palu ini didukung Kementerian Kebudayaan RI, LPDP, dan MPN Seni Pertunjukan, dengan menampilkan 13 koreografer lintas daerah. (Bim/Nl)










