- Jumlah Warga Terdampak Gempa di Sigi Capai Ribuan, 1 Korban Jiwa dan 1.360 Rumah Rusak
- Fokus Penanganan Pascagempa, Wagub Sulteng Sambangi RS dan Warga Terdampak
- Hingga Pukul 05.30 WITA, Gempa Susulan Pascagempa M 6,7 Capai 419 Kali
- BMKG Laporkan 177 Gempa Susulan hingga Pukul 20.00 WITA, 70 Kali Dirasakan Warga
- BPJN Sulteng Pastikan Sejumlah Jembatan di Palu hingga Jalan Kebun Kopi Aman Pascagempa M 6,7
- BMKG Sebut Gempa Magnitudo 6,7 di Palu-Sigi Berasal dari Aktivitas Sesar Sausu
- BMKG Catat 71 Gempa Susulan hingga Pukul 14.30 WITA
- Gubernur Instruksikan Tanggap Darurat Usai Gempa M 6,7, Tenaga Medis Dikerahkan ke Lokasi Terdampak
- BMKG Catat 16 Kali Gempa Susulan Usai Magnitudo 6,7 di Tenggara Palu
- Empat Atlet Junior Sulteng Berlaga di Asian OWS Bali
Produksi Garam di Talise Terhenti Imbas Musim Hujan, Petani Mengeluh Tak Ada Hasil

Keterangan Gambar : Kawasan penggaraman di Kelurahan Talise, Kota Palu. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu – Musim hujan yang terus berlangsung dalam beberapa bulan terakhir membuat petani garam di Kelurahan Talise, Kota Palu, terpaksa menghentikan aktivitas produksi.
Kawasan penggaraman yang biasanya ramai kini terlihat sepi, hanya segelintir petani yang datang untuk sekadar membersihkan tambak.
Baca Lainnya :
- Geliat Penjualan Hiasan Telur Maulid Mulai Ramai di Palu
- JUWITA Bekali Jurnalis Perempuan Sulteng Strategi Keamanan Digital dan Lawan KBGO
- Petani Petobo Genjot Produksi Bawang Goreng, Dorong Swasembada Pangan Lokal
- Harga Beras di Pasar Masomba Masih Bervariasi, Wakil Wali Kota Palu Lakukan Sidak
- Datang untuk Membesuk, Seorang Wanita Justru Diciduk Bawa Sabu di Mapolresta Palu
Anton, salah seorang petani garam, mengaku produksi garam benar-benar bergantung pada panas matahari. Tanpa cuaca cerah, proses penguapan air laut di tambak tidak bisa berlangsung optimal.
“Kalau untuk sekarang musim hujan ya belum ada panenan. Sudah hampir ada satu minggu, artinya tidak ada ambil hasil. Kalau panas bagus, tiga hari bisa panen, tapi harus full mataharinya. Kalau ada mendung susah,” kata Anton saat ditemui di kawasan tambak, Senin (25/8/2025).
Ia menyebut, dalam kondisi normal saat musim panas, satu petak tambak bisa menghasilkan empat hingga lima karung garam.
Namun, saat musim hujan tiba, petani lebih banyak memilih berhenti berproduksi.
Kondisi serupa dialami Hasan, petani lainnya.
Ia mengaku sudah berbulan-bulan tidak mendapatkan penghasilan karena tambaknya terendam air hujan.
“Memang tidak ada penghasilan kalau ini. Sudah lima bulan ini betul-betul tidak ada penghasilan. Hujan terus, tidak ada matahari panas, jadi kita hanya bersih-bersih tambak dulu. Nanti kalau panas baru bisa masuk air laut,” ungkapnya.
Selain terkendala cuaca, petani juga berharap adanya perhatian pemerintah terkait infrastruktur tambak yang rusak.
Hasan menuturkan, kerusakan saluran air membuat air laut sering meluap ke area tambak sehingga memperparah kegagalan panen.
“Banyak yang harus diperbaiki ini, perlu papan, pipa paralon, dan saluran besar. Kalau tidak ada penghalang, air laut masuk semua ke tambak, jadi tidak bisa jadi garam,” ujarnya.
Hingga kini, para petani di Talise masih menunggu datangnya musim panas agar bisa kembali menggarap tambak.
Mereka berharap selain dukungan cuaca, ada pula perbaikan saluran irigasi agar produksi garam bisa lebih stabil ke depannya. (RUL)










