- Ketua DPRD se-Sulteng Dorong Penguatan Sinergi Pembangunan Daerah
- 459 Ton Durian Sulteng Diekspor ke Tiongkok, Digadang Jadi Ikon Baru Nasional
- Pemerintah Buka 35 Ribu Loker KDKMP dan KNMP, Pelamar yang Lolos Jadi Pegawai BUMN
- Ketika Pemerintah Daerah Menyewa Influencer, Sebuah Jalan Pintas?
- Ketua DPRD Kota Palu Ikuti Retret Ketua DPRD se-Indonesia di Akmil Magelang
- Gubernur Anwar Hafid Ungkap Rencana Alun-alun Ikonik di Palu, Konsepnya Mirip Halaman Istana Negara
- Nambaso Fest 2026 Resmi Dibuka, Digelar Meriah Tanpa Membebani Anggaran Daerah
- HUT ke-62 Sulteng, Gubernur Tekankan Pemerataan Kesejahteraan di Seluruh Daerah
- Turun Langsung ke Desa Dalaka, Gubernur Sulteng Tancap Gas Perbaiki Jalan dan Layanan Warga
- Liga 4 Piala Gubernur Sulteng Resmi Bergulir, Talenta Muda Didorong Berprestasi Lewat Sepak Bola
DPRD Palu Luruskan Persepsi Tentang Penyegelan Usaha: Langkah Tersebut Adalah Tindakan Terakhir

Keterangan Gambar : Ketua DPRD Kota Palu, Rico A. Djanggola | Foto: Bimaz
Likeindonesia.com, PALU - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palu, Rico A. Djanggola, meluruskan anggapan publik bahwa penyegelan tempat usaha di kota Palu dilakukan semena-mena.
Ia menegaskan, langkah tersebut adalah “tindakan terakhir” setelah melalui proses panjang, mulai dari pemberitahuan dan surat peringatan selama bertahun-tahun, undangan berdiskusi yang tak direspons, hingga pemantauan lapangan oleh Badan Pendapatan Daerah (Bapenda).
Baca Lainnya :
- Kemenag Sulteng Matangkan Rencana Embarkasi Haji
- Pemerintah Siapkan Lahan dan Fasilitas Pendukung Bandara Internasional Mutiara Sis Al-Jufri
- Buronan Pencuri Uang Alfamidi Ampibabo Tak Berkutik Saat Disergap Polisi di Kota Palu
- Pawai Milad Alkhairaat di Palu Semarakkan HUT RI ke-80
- Persiapan Paskibraka Kota Palu Masuki Tahap Akhir, Kesiapan Capai 90 Persen
Menurutnya, proses penegakan pajak tidak langsung berujung pada penyegelan. Bapenda memastikan lebih dulu bahwa usaha yang bersangkutan masih beroperasi normal namun mengabaikan kewajiban membayar pajak.
“Bapenda tidak menyegel usaha yang kondisinya memang sedang sulit,” tegas Rico di ruang kerjanya, Kamis (14/8/2025).
Rico mengakui, langkah penyegelan mungkin terlihat “sadis” di mata sebagian masyarakat, namun hal tersebut merupakan konsekuensi bagi pelaku usaha yang secara konsisten mengabaikan kewajibannya.
“Ya memang saya juga kalau melihat itu sebenarnya tidak harus cari yang lebih humanis lah ya. Tapi begitu mendengar penjelasan dari Bapenda, ternyata sudah ada prosesnya. Bukan serta-merta langsung disegel. Sementara, regulasinya mengatur bahwa memang harus bayar,” jelasnya.
Selain itu, DPRD Kota Palu bersama Bapenda akan meninjau kembali kebijakan pajak 10% makanan dan minuman.
“Kemarin saya sudah sempat bicara, kita akan coba merevisi ulang pajak 10 persen ini, apakah bisa dikategorikan atau tidak. Ini sedang kita kaji dulu, secara undang-undangnya memungkinkan atau tidak,” bebernya.
Rico juga meluruskan kesalahpahaman bahwa pajak 10% dibebankan pada pengusaha. Pajak tersebut, kata dia, sebenarnya merupakan pajak konsumen yang dititipkan melalui pelaku usaha.
“Pengusaha menentukan harga pokok produknya terlebih dahulu, lalu menambahkan 10% yang dibayar oleh konsumen. Pajak ini kemudian disetorkan kepada pemerintah, sehingga tidak mengurangi modal atau keuntungan pengusaha,” ujarnya.
Dengan langkah ini, DPRD kota Palu berharap penegakan pajak berjalan tegas namun tetap mempertimbangkan kondisi lapangan, serta memberikan pemahaman yang benar kepada publik mengenai mekanisme pungutan pajak daerah. (Bim)










