- Ingin Lepas Status WNI? Kini Dikenai Biaya Rp5 Juta Berdasarkan PP Terbaru
- Aktivitas Gempa di Sulteng Terus Menurun, Kini Kurang dari 200 Kali dalam Sepekan
- Siap-Siap! 33 Juta Keluarga Bakal Dapat Beras Gratis 30 Kg Mulai Agustus
- Makin Irit! Pertamina Turunkan Harga Tabung Bright Gas 12 Kg dan 5,5 Kg
- Program Berani Panen Raya Dikebut, Produktivitas Padi Sulteng Ditargetkan 6 Ton per Hektare
- Pemerintah Tetapkan Harga Khusus Solar bagi Nelayan, Kini Rp15 Ribu per Liter
- DPR RI Tinjau Sekolah Rakyat di Palu, 183 Anak Kurang Mampu Kini Dapat Akses Pendidikan
- Melaut Saat Cuaca Buruk, Nelayan di Banggai Laut Hilang Kontak
- Kurs Rupiah Melemah, Biaya Haji 2027 Diusulkan Naik Jadi Rp107,3 Juta
- Mendagri Tegaskan Pemda Tak Boleh Rumahkan PPPK karena Alasan Anggaran
DPRD Palu Luruskan Persepsi Tentang Penyegelan Usaha: Langkah Tersebut Adalah Tindakan Terakhir

Keterangan Gambar : Ketua DPRD Kota Palu, Rico A. Djanggola | Foto: Bimaz
Likeindonesia.com, PALU - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palu, Rico A. Djanggola, meluruskan anggapan publik bahwa penyegelan tempat usaha di kota Palu dilakukan semena-mena.
Ia menegaskan, langkah tersebut adalah “tindakan terakhir” setelah melalui proses panjang, mulai dari pemberitahuan dan surat peringatan selama bertahun-tahun, undangan berdiskusi yang tak direspons, hingga pemantauan lapangan oleh Badan Pendapatan Daerah (Bapenda).
Baca Lainnya :
- Kemenag Sulteng Matangkan Rencana Embarkasi Haji
- Pemerintah Siapkan Lahan dan Fasilitas Pendukung Bandara Internasional Mutiara Sis Al-Jufri
- Buronan Pencuri Uang Alfamidi Ampibabo Tak Berkutik Saat Disergap Polisi di Kota Palu
- Pawai Milad Alkhairaat di Palu Semarakkan HUT RI ke-80
- Persiapan Paskibraka Kota Palu Masuki Tahap Akhir, Kesiapan Capai 90 Persen
Menurutnya, proses penegakan pajak tidak langsung berujung pada penyegelan. Bapenda memastikan lebih dulu bahwa usaha yang bersangkutan masih beroperasi normal namun mengabaikan kewajiban membayar pajak.
“Bapenda tidak menyegel usaha yang kondisinya memang sedang sulit,” tegas Rico di ruang kerjanya, Kamis (14/8/2025).
Rico mengakui, langkah penyegelan mungkin terlihat “sadis” di mata sebagian masyarakat, namun hal tersebut merupakan konsekuensi bagi pelaku usaha yang secara konsisten mengabaikan kewajibannya.
“Ya memang saya juga kalau melihat itu sebenarnya tidak harus cari yang lebih humanis lah ya. Tapi begitu mendengar penjelasan dari Bapenda, ternyata sudah ada prosesnya. Bukan serta-merta langsung disegel. Sementara, regulasinya mengatur bahwa memang harus bayar,” jelasnya.
Selain itu, DPRD Kota Palu bersama Bapenda akan meninjau kembali kebijakan pajak 10% makanan dan minuman.
“Kemarin saya sudah sempat bicara, kita akan coba merevisi ulang pajak 10 persen ini, apakah bisa dikategorikan atau tidak. Ini sedang kita kaji dulu, secara undang-undangnya memungkinkan atau tidak,” bebernya.
Rico juga meluruskan kesalahpahaman bahwa pajak 10% dibebankan pada pengusaha. Pajak tersebut, kata dia, sebenarnya merupakan pajak konsumen yang dititipkan melalui pelaku usaha.
“Pengusaha menentukan harga pokok produknya terlebih dahulu, lalu menambahkan 10% yang dibayar oleh konsumen. Pajak ini kemudian disetorkan kepada pemerintah, sehingga tidak mengurangi modal atau keuntungan pengusaha,” ujarnya.
Dengan langkah ini, DPRD kota Palu berharap penegakan pajak berjalan tegas namun tetap mempertimbangkan kondisi lapangan, serta memberikan pemahaman yang benar kepada publik mengenai mekanisme pungutan pajak daerah. (Bim)










