- Resmi Diumumkan! Tunjangan Guru Naik, Non-ASN Jadi Rp 2 Juta dan ASN Setara Gaji Pokok
- Wagub Sulteng Lantik Dokter Ahli Utama, Dukung Transformasi RS Undata Berstandar Internasional
- DPRD Kota Palu Desak Pemkot Perkuat Koordinasi dalam Penyusunan Tata Ruang
- DPRD Palu Sahkan Hasil Evaluasi LKPJ 2025, 37 Rekomendasi Diserahkan ke Pemkot
- DPRD Palu Desak Pemkot Tuntaskan Masalah Lahan Tidur dan Air Bersih di Dua Kelurahan
- DPRD Palu Soroti Overkapasitas RS, Biaya Visum, dan Denda BPJS yang Bebani Warga
- Dari Huntap hingga Pajak Daerah, DPRD Palu Paparkan Hasil Kerja Caturwulan I
- 8 Rumah Sakit Swasta di Palu Terancam Tak Bisa Beroperasi, DPRD Soroti Masalah Perizinan
- Abdurahim Nasar Al-Amri Soroti Mandeknya RDTR, DPRD Palu Siap Koordinasi Ulang ke Pusat
- Ribuan Izin Usaha Tertolak, DPRD Kota Palu Cari Solusi Sengkarut Perizinan OSS yang Terkendala KBLI
Pengrajin di Sigi Masih Eksis Olah Kayu Ebony, Warisan Alam Endemis Sulawesi Tengah

Keterangan Gambar : M. Jafar, pengrajin Leofard Ebony, Desa Kalukubula, Kabupaten Sigi. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Sigi — Di tengah makin langkanya pengrajin tradisional, seorang perajin di Kabupaten Sigi masih setia mengolah kayu ebony, jenis kayu endemis khas Sulawesi Tengah yang dikenal bernilai tinggi.
Dialah M. Jafar, pengrajin Leofard Ebony, Desa Kalukubula, Kabupaten Sigi.
Baca Lainnya :
- Museum Sulawesi Tengah Jadi Ruang Edukasi Sejarah bagi Pelajar
- Masjid Raya Baitul Khairat Catat Dua Rekor MURI, Kubah dan Jam Analog Terbesar di Indonesia
- PBSI Buol Dukung Pembinaan Lapas Leok, Pesan Piala Karya Warga Binaan
- Masalah Lahan di Beberapa Wilayah Sulteng Mulai Terurai, Ini Kata Satgas PKA
- Bukan Palu, Bangkep dan Balut Jadi Daerah Paling Gemar Membaca di Sulteng
Sejak puluhan tahun lalu, Jafar menggeluti dunia ukir setelah bekerja di sebuah perusahaan kayu ebony di Palu.
“Setelah kursus kerja di perusahaan, kebetulan waktu itu perusahaan ebony di Imam Bonjol. Dari situ awalnya, sampai sekarang,” kenang Jafar diwawancarai di tempat kerjanya, Jumat (17/10) pagi.
Bagi Jafar, kayu ebony memiliki karakter istimewa. Warna hitam dan cokelat yang kontras membuatnya tampak seperti barang antik.
Ia mengatakan, nilai keindahan kayu itu muncul alami dari proses akhir atau finishing tanpa perlu cat tambahan.
“Satu-satunya kayu di luar Jawa dengan Bali di Sulawesi Tengah punya ini ebony, langka. Istimewanya banyak, sama dengan barang antik. Karena sentuhan akhir di finishing auranya muncul,” ujarnya.
Menurut Jafar, mengolah kayu ebony tidak mudah. Selain keras, kayu ini juga disebut “pedis”, atau sulit dibentuk.
Namun, justru di situlah letak keunikan sekaligus nilai mahalnya.
Kayu ebony juga memiliki daya tahan tinggi dan tidak mudah dimakan rayap.
Karena kualitasnya, hasil olahan kayu ini diminati hingga ke pasar luar negeri.
“Kalau pemasaran saya kan pengrajin, paling banyak ke toko. Toko itu pasarannya ada ke Cina, ke Jepang, ke India juga,” ungkapnya.
Dalam dunia perkayuan, kayu ebony dikenal sebagai salah satu jenis kayu terbaik di dunia, sejajar dengan jati dan ulin.
Bagi Jafar, ebony adalah warisan alam Sulawesi Tengah yang perlu terus dijaga kelestariannya.
“Kalau untuk saya sendiri, jelas nomor satu kayu ebony. Kedua ulin mungkin kalau Jawa. Tapi kalau untuk Sulawesi, ebony termasuk kelas dunia selain jati,” katanya.
Melalui tangan para pengrajin lokal seperti Jafar, kayu ebony tak hanya menjadi sumber ekonomi, tetapi juga simbol kearifan lokal dan kebanggaan Sulawesi Tengah. (Rul/Nl)










