- Harganas 2026, Orang Tua di Sulteng Diminta Bijak Dampingi Anak Gunakan Gawai
- Suhu Palu Tembus 34,7 Derajat, Wagub Ajak Masyarakat Lebih Peduli Perubahan Iklim
- Palu Catat Suhu Maksimum 35 Derajat, Jadi Wilayah Terpanas Kedua di RI
- 50 Huntara Mulai Dibangun untuk Warga Terdampak Gempa di Sigi
- Akbar Supratman Salurkan Ribuan Paket Bantuan untuk Warga Terdampak Gempa di Sigi
- Dalam Sepekan, Gempa Susulan M 6,7 di Sulteng Capai 1.318 Kali
- PTN dan PTS se-Sulteng Bangun Kolaborasi Mitigasi Bencana Berbasis Riset
- Resmi Terpilih, Dua Pelajar Asal Bangkep dan Palu Wakili Sulteng Jadi Calon Paskibraka Nasional 2026
- Enam Hari Pascagempa M 6,7, Gempa Susulan di Sulteng Tembus 1.256 Kali
- Sensus Ekonomi 2026 Digelar, Masyarakat Sulteng Diajak Beri Data Akurat
60 Karya Jurnalis Dipamerkan di Palu, Angkat Semangat Bangkit dari Bencana

Keterangan Gambar : Ketua PFI Palu, Muhammad Rifki. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu – Pewarta Foto Indonesia (PFI) Palu menggelar pameran foto jurnalistik bertajuk Asa di Atas Patahan di Palu Grand Mall, Senin (15/9) malam.
Sebanyak 60 karya dipamerkan, hasil kurasi dari 400 foto yang dikirimkan pewarta foto, baik dari Palu, berbagai daerah di Indonesia, hingga seorang fotografer asal Malaysia.
Baca Lainnya :
- Rasera Project: Aksi Siswa SMA 5 Palu Jadi Kritik Keras Pendidikan di Sulteng
- YAMMI Desak Polda Sulteng Transparan dalam Kasus Dugaan Pemalsuan Dokumen PT BDW
- Komisi IV DPRD Sulteng Angkat Bicara Soal Dugaan Penyalahgunaan Dana BOS di SMAN 5 Palu
- Siswa SMAN 5 Palu Protes Dana BOS, Tuntut Transparansi Anggaran
- Meriah, Warga Talise Arak Pohon Telur pada Peringatan Maulid Nabi
Ketua PFI Palu, Muhammad Rifki, menjelaskan bahwa tema pameran tahun ini dipilih karena Palu berada di wilayah sesar aktif.
“Tahun ini kami mengambil tema ‘Asa di atas patahan’, karena wilayah Palu dan sekitarnya masih masuk wilayah sesar aktif. Jadi hampir setiap hari gempa. Tema ini kami ambil bagaimana masyarakat masih bertahan di atas patahan,” kata Rifki.
Ia menambahkan, seluruh karya yang dipamerkan tidak menonjolkan kesedihan.
Sebaliknya, foto-foto tersebut dipilih karena menggambarkan ketangguhan, kebangkitan, dan semangat hidup warga Kota Palu pascabencana.
“Kalau melihat dari foto-foto ini semua tidak ada foto yang berkaitan dengan kesedihan. Semua foto menyimbolkan ketangguhan, kebangkitan, dan semangat hidup meskipun kita berada di atas patahan,” ujarnya.
Rifki juga menjelaskan alasan memilih pusat perbelanjaan sebagai lokasi pameran.
Menurutnya, selain ramai pengunjung, bangunan tersebut merupakan salah satu yang terdampak bencana.
Salah seorang pengunjung, Putra Tonang, mengaku terkesan dengan pameran ini.
Ia menilai foto-foto yang dipamerkan justru memberikan semangat baru bagi masyarakat Palu.
“Menurut saya dengan adanya pameran foto ini tentu saja untuk lebih menguatkan kita dengan hastag #Palubangkit, dan #Palukuat. Bukan untuk membuat kita sedih lagi, tapi entah mengapa membuat kita lebih bangkit,” ujar Putra.
Ia juga menyebut karya yang dipamerkan tidak hanya menyajikan kondisi saat bencana, tetapi juga membangkitkan empati.
Selain pameran, PFI Palu juga menggelar diskusi foto jurnalistik sebagai ruang refleksi bagi pewarta.
Diskusi ini menekankan pentingnya menjaga empati dan martabat subjek dalam setiap karya foto.










